Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Pilihan Sulit


__ADS_3

Mata Natalia terlihat memerah dari tadi dan matanya sembab menandakan jika dirinya juga sama cemasnya dengan Alehandro.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Baru saja kami berbicara belum ada lima menit tetapi dia merintih kesakitan dan pingsan. Aku malah heran bagaimana bisa kau yang suaminya tidak tahu jika istrimu sedang sakit?"


Alehandro terdiam. Beberapa hari ini wajah Maria memang terlihat pucat. Dia sudah memintanya untuk tidak mengerjakan pekerjaan rumah apapun tetapi Maria tetap menolak. Dia melakukan pekerjaannya sebagai seorang istri seperti biasanya.


Apakah istrinya memang sudah sakit beberapa hari ini tetapi menyembunyikan hal ini darinya? pikir Alehandro. Dia memang teledor. Perhatiannya sudah tersita oleh penyakit ibunya dan pekerjaan yang banyak sehingga dia tidak terlalu memperhatikan Maria.


Seorang dokter lalu keluar dari ruang IGD.


"Suami Nyonya Cortez apakah ada di sini?" tanya Dokter itu.


"Saya Dok," kata Alehandro maju ke depan. "Bagaimana keadaan istri dan anak saya Dokter?"


"Saat ini masih baik tetapi ... ," ucapan Dokter itu terhenti.


"Tetapi apa Dokter?" tanya Natalia dan Alehandro bersamaan mereka lalu saling memandang. Wajah mereka sama-sama cemas dan khawatir.


"Sebaiknya kita membicarakan masalah ini di ruang saya," ujar Dokter itu lagi. Alehandro melihat kepada Natalia.


"Biar aku yang menunggu Maria di sini!" kata Natalia mengerti kecemasan Alehandro. Alehandro menarik dua sudut bibirnya ke samping. Tersenyum penuh kesedihan.


Alehandro lalu mengikuti Dokter itu ke ruangannya. Hatinya merasa tidak enak, berdebar luar biasa hebatnya. Dia sudah mencium ada yang tidak beres di sini. Tetapi apa itu dia tidak bisa menebaknya semoga saja anak dan istrinya tidak dalam kondisi yang berbahaya. Berkali-kali Alehandro menarik nafas untuk mengatasi ketakutannya.


"Silahkan!" ujar Dokter itu memberi jalan pada Alehandro untuk masuk ke dalam ruangannya.


Alehandro lalu duduk di kursi depan meja kerja Dokter. Sedangkan dokter itu mengambil sebuah gambar di dinding dan membawanya ke hadapan Alehandro.

__ADS_1


Dokter itu lalu duduk di kursinya dan menarik nafas panjang. Alehandro melihat setiap pergerakan Dokter itu dengan seksama mencoba untuk membaca situasi. Apa yang akan dikatakan Dokter itu terlihat bukan berita baik untuknya.


"Ehmm," Dokter itu berdehem sebentar sebelum memulai pembicaraan.


"Perkenalkan saya Dokter Faisal, Dokter spesialis kandungan dan kebidanan." Dokter itu lalu mengulurkan tangannya kepada Alehandro.


"Saya ... ."


"Tuan Alehandro Cortez pemilik resort dan Hotel berbintang lima di negeri ini," kata Dokter itu. Alehandro menganggukkan kepalanya. "Senang bisa mengenal Anda Tuan."


Alehandro tersenyum menganggukkan kepala.


"Bagaimana kondisi istri dan anak saya Dokter?" tanya Alehandro mengawali pembicaraan mengenai kondisi istrinya.


"Sebelumnya ada beberapa hal yang perlu saya tanyakan pada Anda Pak Alehandro selaku suami dari Nyonya Cortez."


"Apakah Anda melihat ada keanehan pada diri istri Anda selama masa kehamilannya?" tanya Dokter Faisal.


"Aneh, saya rasa dia hanya mengalami ngidam seperti wanita pada umumnya, mual, muntah walau sedikit berlebihan," kata Alehandro. Dia lalu mulai mengingat-ingat.


"Wajah istri saya memang terlihat lebih pucat selama satu bulan ini dan saya tidak fokus mengurusnya karena harus membagi waktu saya dengan ibu yang mengalami sakit jantung dan harus di rawat di rumah sakit selama hampir dua Minggu setelah itu pekerjaan kantor yang menumpuk membuat saya lebih sering menghabiskan waktu di kantor hingga larut malam," Alehandro mendesah. Dia mengakui keteledorannya.


"Apakah dia tidak mengeluhkan sakit di perutnya selama ini?" tanya Dokter Faisal lagi.


Mata Alehandro membelalak lebar, wajahnya pias pertanyaan Dokter itu memberitahunya bahwa Maria telah menyembunyikan sakitnya selama ini. Alehandro menelan Salivanya dalam-dalam. Dia memajukan tubuhnya condong ke arah Dokter itu.


"Maksud Dokter apa?" Alehandro menatap intens pada Dokter.

__ADS_1


"Dengan berat hati saya mengatakan bahwa kemungkinan besar istri Anda menderita tumor di rahimnya dan itu sangat berbahaya bagi dirinya dan kehamilannya jika tidak segera diangkat rahimnya."


Berita itu bagaikan Sambaran petir di siang bolong bagi Alehandro. Dia menatap tidak percaya pada Dokter itu.


"Apa maksud Anda?" tatap nanar Alehandro.


"Istri Anda mengidap tumor rahim dan jenis tumor yang diduga dapat memengaruhi kehamilannya adalah fibroid submukosal, sebab tumor ini dapat menyebabkan berkurangnya aliran darah di bagian dinding rahim yang bebas tumor.


Pada ibu hamil, kebanyakan tumor rahim juga tidak menimbulkan gejala atau mengganggu kehamilan sehingga tidak memerlukan penanganan khusus. Namun, pada kondisi tertentu, tumor rahim bisa saja menyebabkan masalah selama masa kehamilan.


Masalah paling umum yang dapat dialami ibu hamil akibat tumor rahim adalah bayi lahir prematur, tumor menutup jalan lahir, bayi sungsang, dan solusio plasenta. Berbagai masalah ini bisa menghambat ibu hamil melahirkan secara normal sehingga operasi caesar menjadi metode bersalin yang dianggap paling aman. Tetapi ini akan dilakukan jika umur kehamilan istri Anda sudah besar, tetapi kehamilan istri Anda baru masuk ke Minggu ke 17 jadi sangat berisiko tinggi untuk membiarkan janin itu tetap tumbuh di rahim istri Anda. Akan tetapi, kita akan menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut seberapa berbahayanya tumor ini bagi kehamilan istri Anda. Jika menurut pemeriksaan yang saya lakukan tadi, saran saya adalah Anda harus mengugurkan kandungan istri Anda karena itu sangat berbahaya untuk nyawa keduanya," kata Dokter itu.


Selama Dokter itu menerangkan semuanya Alehandro hampir tidak bisa bernafas. Dia hanya diam mendengarkan semuanya. Rahim istrinya harus diangkat agar dia selamat. Hanya kalimat itu saja yang bisa masuk ke dalam pikirannya, lainnya itu seperti lagu kesedihan yang menyayat hatinya.


Anak itu adalah harapan keluarga dan harapan hidupnya, jika diambil maka semua impiannya akan hilang dan bagaimana dengan kondisi ibunya ke depan jika tahu cucu yang sangat diharapkannya tiada? Apakah ibunya bisa menahan kesedihan ini? Jika tidak, maka nyawa Maria bisa dalam bahaya. Dia tidak bisa membayangkan akan kehilangan orang yang sangat dicintainya.


Ini adalah sebuah keputusan yang sulit bagi dirinya. Dia tidak bisa egois memilih anaknya dan membahayakan nyawa istrinya.


"Saya lebih memilih istri saya yang selamat, Dokter," jawab Alehandro dengan suara yang gemetar.


"Kita akan bicarakan masalah ini pada Ibu dari calon buah hati Anda. Apakah dia bersedia jika rahimnya diambil," kata Dokter itu.


"Apakah itu artinya dia tidak bisa mengandung lagi Dokter?" tanya Alehandro dengan wajah pucat. Matanya sudah merasa panas dan berkabut. Nafasnya terdengar sudah terengah-engah.


Dokter itu terdiam menatap wajah Alehandro. Dia seperti tidak tega untuk mengatakannya. Akan tetapi, profesinya menuntut untuk berkata jujur pada keluarga pasien.


"Jika operasi pengangkatan rahim itu dilakukan secara otomatis maka istri Anda tidak akan bisa mendapatkan keturunan lagi," terang Dokter itu.

__ADS_1


__ADS_2