
"Dia sedang tidak ada di sini," ucap Dara berbohong.
"Oh, baiklah kita bisa membawa Kaisar ke atas," kata Alehandro. "Mungkin dia bisa beristirahat dengan tenang di sana."
Dara lalu jalan terlebih dahulu di ikuti Mom Lusi dan Alehandro. Alehandro melihat miris pada Dara yang harus naik turun tangga yang curam. Dia teringat keadaan Maria yang sedang hamil. Wanita itu tidak boleh menuruni tangga harus memakai lift. Alehandro bahkan mewajibkan dia memakai kursi roda bila keluar dari kamar agar Maria tidak kelelahan karena banyak melakukan aktivitas. Maria suka kesal dan tetap saja berjalan, namun Alehandro akan mengangkat tubuh Maria ketika wanita itu ingin turun ke bawah.
"Dara hati-hati, " peringat Alehandro. Dara tersenyum.
"Aku biasa melakukan ini, kau jangan khawatir," jawab Dara.
"Alehandro benar Maria," imbuh Mom Lusi di belakang Dara.
"Aku tahu, namun kamarku ada di atas dan aku bisa naik turun tangga ini hingga puluhan kali dalam satu hari," ucap Dara.
Alehandro mendesis ngeri membayangkannya.
"Siapa namanya Bu, ehm anak Maria," tanya Dara ketika mereka telah sampai di lantai atas.
"Kaisar Alexander Cortez," jawab Alehandro.
"Nama yang bagus."
Dara lalu membuka sebuah kamar kecil dengan hanya memakai kasur busa di lantai dan satu lemari plastik di bawah jendela kayu. Tetapi kamar itu terasa sejuk dan dingin. Kaisar masih menangis tetapi tidak sekeras tadi.
Alehandro mengayunkan tubuh Kaisar.
"Coba biar aku yang menggendongnya," kata Maria.
"Tetapi kau sedang hamil?" ujar Alehandro. Entahlah dia selalu protektif pada semua wanita hamil semenjak kehamilan Maria. Hingga sebisa mungkin membantu wanita hamil yang sedang kesusahan.
Apabila dia melihat ada wanita hamil yang sedang berjualan di pinggir jalan maka dia akan memborong dagangannya agar wanita itu bisa pulang dengan cepat.
"Dia masih kecil tidak berat," kata Maria.
Mom Lusi yang melihat memberi tanda pada Alehandro agar membiarkan Dara menggendong Kaisar.
Alehandro lalu menyerahkan Kaisar pada Dara.
Kaisar lalu terdiam dan melihat ke arah Dara kepalanya lalu mencari posisi yang nyaman dalam dekapan wanita itu.
__ADS_1
"Dara," panggil Savitri yang baru keluar dari kamarnya ketika mendengar suara orang-orang di luar kamar. Dia lalu melihat Dara bersama orang-orang yang tidak dia kenal.
"Ibu... ehm ... mereka adalah keluarga Maria, sahabat yang pernah kuceritakan," kata Dara.
"Oh ... .''
"Saya ibu mertua dari Dara," Savitri memperkenalkan diri pada keluarga Maria.
"Senang bertemu dengan Anda," kata Mom Lusi. "Kalau saya mertua dari Maria dan ini anak putra saya, suami dari almarhum."
"Saya sudah mendengar berita itu dan turut berduka cita." Savitri mengambil tangan Mom Lusi dan menepuknya.
"Semua sudah terjadi dan kita tidak bisa mencegah takdir." Mom Lusi mendesah. Savitri menganggukkan kepalanya.
"Kebetulan tadi jalanan macet dan anak Maria sedang sakit jadi menangis terus di dalam mobil. Kami lalu membawanya kemari dan tidak menyangka jika ini warung makan milik Dara," lanjut Mom Lusi.
"Kami baru membukanya tiga bulan ini," terang Savitri.
"Tetapi Dara memang selalu memberitahu pada menantuku jika dia ingin membuat warung makan."
Dua orang ibu-ibu itu langsung mengobrol. Sedangkan Dara masuk ke dalam kamar dan menimang tubuh Kaisar yang mulai mengantuk sembari memegang botol susunya.
Maria yang sedang hamil besar terlihat kesulitan ketika akan berjongkok untuk meletakkan Kaisar di tempat tidur. Satu tangan Maria menjaga tubuhnya sedangkan tangan lain memegang tubuh mungil itu.
Alehandro lalu masuk ke dalam kamar dengan cepat. "Biar aku saja," kata Alehandro. Dia melihat Kaisar terlihat damai dalam pelukan Dara.
Tangan besar Alehandro lalu mulai mengambil tubuh Kaisar dan meletakkannya di tempat tidur. Setelah itu, Alehandro minggir dan memberi ruang pada Dara untuk menyelimuti dan menata posisi tidur Kaisar. Dia sedikit memiringkan tubuh Kaisar seperti posisi sedang mendekap bantal. Di belakang tubuhnya pun di beri bantal yang lain. Di atas tubuhnya di beri selimut yang sudah diuntai memanjang.
"Apa itu tidak berbahaya?'' tanya Alehandro cemas.
"Tidak. Kami biasa melakukan ini di panti. Anak akan merasa jika dia sedang dipeluk." Alehandro bisa melihat jika Kaisar tidur dalam keadaan damai.
Dara hendak berdiri dan Alehandro mengulurkan tangan untuk membantu Dara. Dara melihatnya tetapi dia memilih memegang tembok di sebelahnya untuk menyangga tubuhnya.
"Anak akan menghangat tubuhnya jika merasa tegang dan stress. Jika dia sudah merasa tidak nyaman sebaiknya melakukan sesuatu agar tidak menangis terlalu lama." Dara lalu keluar dari kamarnya. Alehandro mengikutinya.
"Mbak jaga Kaisar," perintah Alehandro pada pengasuh Kaisar. Pengasuh itu lalu masuk ke dalam kamar.
"Kau seperti sudah tahu tentang anak," ucap Alehandro.
__ADS_1
"Aku hidup dan besar di panti asuhan
Aku biasa merawat adik-adik panti yang lain."
"Aku tidak tahu itu. Maria hanya selalu bercerita tentang kebersamaan kalian."
Tangan Dara lalu mengambil rambut di wajahnya dan menariknya ke belakang telinganya. Di saat itu Alehandro melihat sebuah gelang emas berlian yang dia berikan pada Maria ketika seserahan dulu.
Pantas saja jika dia tidak pernah melihat Maria mengenakannya lagi. Kata Maria dia menyimpan gelang itu.
"Itu ... ," tunjuk Alehandro pada gelang di tangan Dara.
"Oh, ini. Maria yang memberikannya, dia yang memasangkannya dengan paksa di tanganku ketika kami bertemu untuk yang terakhir kalinya." Dara memegang gelang itu dan meletakkannya di dada. Ini adalah kenangan paling berharga yang Maria berikan untuknya.
"Dia berkata aku tidak boleh melepaskannya. Tetapi jika kau mau kau boleh mengambilnya lagi," ucap Dara.
Alehandro menatap Dara lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak kau pakai saja, lagi pula untuk apa aku menyimpannya."
"Mungkin sebagai kenang-kenangan dari Maria," sambung Dara hati-hati.
"Dia sudah terpatri di dalam hatiku. Dan aku tidak butuh barang untuk mengingatnya karena setiap detik aku selalu mengingatnya dalam pikiranku," jawab Alehandro sedih.
"Aku bisa memahaminya. Maria adalah wanita yang baik, pasti itu terasa membekas untukmu," ujar Dara.
"Sangat, dia membuatku berubah dan dia wanita pertama yang bisa menyentuh hatiku yang terdalam." Alehandro menghela nafas panjang. Mereka lalu terdiam.
"Kalau boleh tahu apa yang menyebabkan Maria meninggal dunia?" tanya Dara.
"Dia menderita tumor. Sebetulnya Dokter sudah menyarankan agar dia tidak melanjutkan kehamilannya tetapi dia tidak bisa menghilangkan nyawa anaknya sendiri."
"Semua ibu akan melakukan hal itu," cetus Dara. Alehandro menatap kearahnya dan menganggukkan kepalanya.
"Sebaiknya kita turun akan kubuatkan kopi untukmu," kata Dara berjalan menuruni tangga.
Alehandro menatap was-was ketika Dara dengan lincah turun dari tangga itu.
"Dara, apakah suamimu mengijinkanmu naik turun tangga seperti ini setiap saat?"
__ADS_1