Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Hak


__ADS_3

"Atau kau mau jadi istri simpanan Kris, Dara? Tanpa status, tanpa hak untuk anakmu," lanjut Alehandro. Dara menengadahkan wajah melihat ke arah Alehandro. Dia menelan Salivanya bagai menelan pil kepahitan dalam hidup.


"Dari awal aku sudah mengatakan akan memiliki anak ini sendiri. Tidak ada terbesit keinginan untuk memiliki Kris. Aku hanya ingin mempunyai sesuatu yang menjadi hakku, milikku, sesuatu yang tidak pernah aku rasakan yaitu memiliki dan dimiliki," ucap Dara lemah dengan suara gemetar tanpa air mata.


Semua yang ada di tempat itu terdiam terpaku mendengar keinginan Dara.


"Dara Kris juga berhak atas anak itu dan aku ingin kau hidup bersama dengannya," pinta Savitri.


"Terlalu rumit, Bu."


"Kau yang membuat rumit hidupmu sendiri," ujar Alehandro dengan nada kesal.


Dia tidak habis pikir bagaimana seorang wanita sepertinya berpikir seperti itu. Ingin hamil tanpa meminta pertanggungjawaban pria yang menghamilinya. Dia bodoh atau kurang waras.


Maria, kau memberiku masalah baru.


"Sekarang kita temui Kris dan lihat masa depan apa yang akan menantimu," kata Alehandro berdiri dan berjalan keluar rumah tetapi sampai di pintu hanya Savitri saja yang berada di belakangnya. Dia lalu melihat Dara masih berada di tempatnya.


Alehandro menghembuskan nafas keras dan mendekat ke arah Dara lalu menarik tangannya hingga ke depan mobil dan memasukkannya ke dalam.


"Ale hati-hati, dia sedang hamil," peringat Mom Lusi. Ale hanya menganggukkan kepalanya tanpa bersuara. Dia lalu pergi ke ruang kemudi.


Mereka lalu pergi ke apartment Kris yang baru.


"Kau bilang mantan bosmu itu Pak Alehandro mau ke rumah ini?" tanya Sheila.


"Hummmm," ucap Kris.


"Aku sedang ada pertemuan penting nanti siang," kata Sheila sembari menyapukan blush on ke wajah.


"Tidak bisakah kau tunda, aku tidak bisa melayaninya dengan baik di rumah ini," kata Kris.


"Kris aku baru akan masuk kembali ke kantor hari ini," ujar Sheila membalikkan tubuh melihat ke arah Kris yang sedang menatapnya penuh harap.

__ADS_1


Kris lalu memalingkan wajah ke samping.


"Pergilah! Lagian kau itu wanita karir yang sukses bukan istri yang harus melayani suaminya. Dari awal aku sudah setuju dengan perjanjian bodoh itu dan aku menyesalinya. Aku menyesal karena memilihmu dari pada wanita yang aku cintai," ucap pria itu lalu mengambil kayu penyangga tubuh dan keluar dari kamar itu.


Sheila menghembuskan nafas keras. "Apa salah jika seorang wanita mengejar mimpinya? Mengapa hanya pria saja yang harus sukses dan wanita harus terpenjara di dalam rumah dengan dalih kewajiban!" rutuk Sheila. Dia memegang keningnya yang terasa mau pecah.


Rumah tangga dan pekerjaan itu dua hal yang tidak bisa kita raih kesuksesannya secara bersamaan.


Kini saatnya dia harus memilih dia harus memprioritaskan yang mana yang lebih penting bagi hidupnya.


Bagaimana jika dia memilih Kris apakah pria itu bisa membahagiakannya dan tetap setia? Jika dia lebih memilih pekerjaan maka rumah tangganya akan hancur dan dia akan menemui hujatan dari semua orang yang tidak mengerti permasalahan apa yang menimpanya.


Dia baru menikah di umur 33 tahun dan akan menjadi janda secepatnya, apa pandangan orang nantinya? Dia tidak siap untuk menjadi janda dalam waktu dekat seperti ini. Dia berpikir jika dia harus mengurus dulu rumah tangganya baru memikirkan masa depannya di perusahaan.


Akhirnya Sheila mengganti pakaiannya lagi dan memakai pakaian pantas untuk menemui tamu yang penting. Alehandro Cortez adalah seorang pengusaha muda yang ternama di kalangan deretan para pengusaha yang ada di negeri ini.


"Kau tidak jadi pergi ke kantor?" tanya Alehandro ketika melihat Sheila yang keluar memakai dress sederhana namun cantik.


"Kau ingin istri yang baik aku akan melakukannya asal kau juga memenuhi tanggung jawabmu sebagai suami yang baik," kata Sheila pergi ke dapur. Dia lalu menghubungi petugas di dapur restoran bawah untuk memesan berbagai makanan dan cemilan untuk tamu yang akan datang.


Kris lalu berdiri dan berjalan mendekat ke arah Sheila dengan bantuan tongkatnya. Dia lalu bersandar di meja bar dapur menatap istrinya yang sedang menyiapkan air minum.


"Berapa orang yang akan datang. Satu, dua, atau banyak?"


"Aku tidak tahu," jawab Kris. Sheila menghela nafas dan meletakkan kedua tangannya di tas meja bar berhadapan dengan Kris.


"Kau tidak tahu, tetapi kau yakin dia akan datang?" tanya Sheila.


"Aku yakin," jawab Kris.


"Sheila aku minta maaf karena kata-kataku tadi," ucap Kris.


"Aku sudah terbiasa dengan ucapan tajammu Kris tetapi aku tidak suka dibandingkan dengan kekasihmu itu. Aku adalah aku dengan segala kekurangan dan kelebihanku. Kau tidak bisa menghakimiku hanya karena satu kekurangan ku saja!" ujar Sheila.

__ADS_1


"Satu lagi Kris aku istrimu, bukan seorang pelayan yang hanya akan berdiam diri di rumah dan melayani kebutuhanmu!" ucap Sheila.


"Aku tahu!" jawab Kris. Dia memang merasa salah dengan ucapannya pada Sheila namun dia rindu pada Dara yang selalu bersikap hormat dan patuh padanya.


"Apa kau akan memasak sesuatu untuk tamu kita?" tanya Kris.


"Kau tahu aku tidak bisa melakukannya terakhir kali aku mencoba yang ada ... ,"


"Kau malah membuat hancur dapur dan masakanmu," lanjut Kris.


Sheila menganggukkan kepalanya.


"Kita bisa memesannya ke dapur restauran bawah," kata Kris.


"Itu yang sedang kulakukan!" jawab Sheila lalu kembali lagi melap piring dan gelas.


Sheila adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan kosmetik terbesar di negara ini. Kinerjanya bagus dan perusahaan itu adalah perusahaan yang sebagian sahamnya milik keluarga besar. Selain itu dia juga aktif di persatuan ikatan pengusaha muda sebagai humas di sana.Kini kesehariannya itu dia abaikan untuk mengurus Kris. Pria yang selalu membandingkannya dengan mantan kekasihnya.


Bel berbunyi, Sheila dan Kris mulai berjalan ke arah pintu apartemen. Sebelum membuka pintu dia merapikan penampilan Kris agar tidak terlihat berantakan.


Sheila mulai membuka pintu apartemen itu.


"Tuan Alehandro," sapa Sheila ramah.


"Bapak, senang melihat Anda kemari untuk mengunjungi saya di tengah padatnya aktivitas bapak."


"Kris senang melihatmu. Maaf tiba-tiba aku kemari dan menemuimu," kata Alehandro.


"Saya malah merasa terhormat dan bahagia mendapat tamu seperti Anda. Mari masuk, Pak," ujar Kris mempersilahkan para tamunya masuk.


"Apa Anda sendiri kemari?'' tanya Kris.


"Aku kemari membawa dua orang yang sangat ingin bertemu denganmu," ucap Alehandro.

__ADS_1


"Siapa Pak?" tanya Kris hendak berjalan ke depan.


__ADS_2