Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Rindu Cantik


__ADS_3

Bella lalu mengambil tangan David.


"Aku memang sedang hamil." Tangan David ditempelkan di perut Bella. David lalu tersenyum tapi senyum itu jadi ringisan ketika dia merasakan nyeri pada seluruh tubuhnya terutama bagian perut. Dia mendesis pelan.


Bella memegang kening David dengan cemas. "Apa kau tidak apa-apa?" tanya Bella.


"Hanya sedikit sakit saja. Nanti juga akan membaik," ujar David tidak ingin membuat Bella cemas.


"Sayang, aku sangat takut jika kau kenapa-napa?" David mengangkat kedua alisnya ke atas.


"Sayang? Rupanya butuh sebuah luka agar kau bisa mengatakan panggilan itu lagi."


Tangan Bella lalu mencubit perut David tiba-tiba tapi dia cepat sadar jika


"Awww ... sakit, Bella?" ujar David yang merasakan sakit di daerah perut yang dicubit oleh Bella karena pas di luka tembaknya belum mengering.


"Maaf sakit kah, Sayang? Kau yang menggodaku jadi aku gemes." Bella mengusap lembut luka perban itu dan meniupnya. Wajahnya yang cantik terlihat cemas dengan keadaan David. David memegang tangan Bella dan menariknya agar mendekat.


"Selama kau ada di dekatku, aku akan baik-baik saja." Mata Bella berkaca mendengar kalimat itu.

__ADS_1


"Kau sangat manis. I love you," ucap Bella mengecup bibir David.


"I love you too," jawab David. Mereka lalu saling berpandangan mesra.


"Ekhem... baru saja sadar sudah bermesraan." Suara dari arah pintu mengagetkan David juga Bella.


"Mom Papa, kapan kalian datang," sapa Bella mendekat ke arah mertuanya. Dia mencium pipi kedua mertuanya dan mencium punggung tangan mereka. Naura memberi tanda ke bawah kaki Tuan Robby.


Dia lalu melihat Cantik berdiri di belakang Tuan Robby dan memegang kakinya. Dara lalu membungkukkan tubuhnya di depan Cantik.


"Cantik! Ibu kangen sama Cantik. Apa kau tidak rindu pada Ibumu ini?''


ucapnya dengan derai air mata dan tangan yang bersedekah di dada.


"Ekh... Rumah sakit tidak baik untuk anak se usiamu jadi ibu ingin agar kau tetap berada di rumah bersama Grand Pa dan Grand Ma. Rumah sakit ini banyak kuman yang bertebaran jika kondisimu tidak bagus kau akan tertular penyakit dan lalu sakit seperti Ibu dan Ayah."


"Ayah, mana Ayah? Mengapa dia melupakan aku! Dia tidak bersama Ibu, sewaktu Ibu menghubungiku?" tanya Cantik yang tidak melihat jika David berbaring di tempat tidur pasien.


"Kemarilah, Ibu akan membawamu pada Ayah!"

__ADS_1


Dengan berlari Cantik masuk ke dalam pelukan Cantik. Bella lalu mengangkatnya.


"Cantik rindu Ibu, Cantik takut jika Ibu terluka karena Om jahat itu." Tubuh Cantik yang mungil bergetar di pelukan Bella. Cantik menangis tersedu-sedu.


"Kau lihat Ibu baik-baik saja. Kau tidak usah khawatir!" Cantik memeluk leher Bella erat. "Ibu malah khawatir Cantik terluka kemarin."


"Cantik baik-baik saja hanya suka takut kalau sendirian. Cantik ingat Om jahat yang menyekap kita dahulu."


"Yang penting sekarang Cantik aman bersama. Grand Pa," jawab Bella. David yang melihat dari pembaringan merasa terharu dan senang melihat kebersamaan anak dan istrinya yang saling menyayangi.


Cantik melihat David di tempat tidur. "Ayah!" pekiknya keras.


Bella lalu membawa Cantik pada David.


"Ayah, kau kenapa? Apa Om jahat itu menyakitimu? Kenapa perut ayah ada kain putih yang berdarah?" tanya Cantik beruntut.


"Itu perban, Sayang!" ujar Naura mendekat ke arah David. Dia lalu mencium putra bungsunya.


"Untuk apa?" tanya Cantik penasaran ingin tahu. Semua mendesah bingung bagaimana menerangkan pada Cantik tanpa membuat anak kecil itu ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2