Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Ada Aku


__ADS_3

Setelah lelah bermain dua anak itu tertidur di ranjang milik Kaisar. Dara yang sejak tadi sedang mengurus tokonya dari jarak jauh, mulai mencari keberadaan Rose. Dia lalu masuk ke dalam kamar Kaisar dan melihat kedua anak itu tertidur bersama di ranjang.


"Alehandro, biar aku bawa Rose ke kamar," kata Dara.


"Biarkan mereka tidur bersama." Alehandro mulai menyelimuti mereka.


"Kau tahu Kaisar terlihat sangat senang dengan kedatangan Rose. Dia biasanya suka marah-marah dan murung namun semenjak kemarin dia hanya tertawa dan bermain. Mungkin karena aku tidak pernah mengajaknya untuk keluar berinteraksi dengan teman sebayanya."


"Memang Kaisar tidak kau sekolahkan?" tanya Dara.


Alehandro menggelengkan kepalanya dan terlihat murung. Dia lalu mencium kedua anak itu bergantian dan berdiri.


Dara terpaku melihatnya. Alehandro memang sosok ayah yang baik dan dia juga terlihat menyayangi Rose.


"Katanya kau mau mengajakku ketemuan," kata Alehandro membuat Dara memutar bola matanya.


"Aku ingin kita membahas masalah tadi. Kau ... ," jari Alehandro diletakkan di bibir Dara.


"Sssttt." Pria itu lalu menggenggam tangan Dara dan menariknya keluar kamar. "Kita bicara di kamarmu atau kamarku?"


"Ale," lirih Dara menurunkan bahunya wajahnya terlihat ditekuk tidak senang.


"Kalau diluar takut ada yang melihat," goda Ale lagi. Dara menyubit pinggang pria itu kesal.


"Kau mulai pegang-pegang nanti saja," tambah Alehandro. Dara lalu melepaskan pegangan tangan mereka.


"Ish kau itu," Dara mulai habis kesabarannya.


"Ya sudah, kita duduk di sana," tunjuk Alehandro pada ruangan besar di ujung lorong.


Kursi sofa yang dulu ada di ruang tamu ternyata di pindah ke ruangan ini. Ruangan ditata mirip dengan ruang santai dibawah tetapi terlihat formal. Di sebelah ruangan itu ada jendela kaca besar yang menghadap ke halaman belakang rumah. Dara lalu berdiri di jendela itu dan melihat ke luar rumah.


"Apa yang ingin kau bicarakan," kata Alehandro.

__ADS_1


"Mengapa kau sudah merencanakan pertemuan Kris dan Rose secepat itu?" tanya Dara.


"Karena aku ingin semuanya selesai secepat mungkin. Jika ditunda akan lebih sakit nantinya," balas.


"Sakit siapa yang sakit?"


Alehandro mendekat ke arah Dara. "Kaisar, Rose, aku dan kau," tunjuk Alehandro ke dada Dara.


"Maksudmu?"


"Apakah kau melihat kedekatan Rose dan Kaisar jika kau memilih Kris dan meninggalkan kami apakah itu tidak berdampak bagi jiwa Kaisar? Semakin cepat masalah ini selesai maka Kaisar tidak akan tergantung dengan keberadaan Rose di sisinya."


"Lalu denganmu?''


"Aku akan sedih melihat Kaisar yang patah hati."


"Only that?" tanya Dara.


"Kau ingin jawaban apa? Jawaban jika hatiku akan patah karena kepergian mu? Jujur Dara sebelum aku pun merasa nyaman denganmu aku berharap kau bisa pergi dari rumah ini secepatnya."


"Jangan coba-coba, kau boleh pergi jika kau memang bersama Kris jika tidak aku tidak akan mengijinkanmu!"


"Kau tidak berhak melakukan ini padaku!" geram Dara dengan suara berbisik, dengan mata yang merah karena marah. Nafasnya terdengar memburu.


"Aku tidak berhak tetapi aku bisa melakukannya dengan mudah," kata Alehandro.


"Kau kira Kris akan melepaskan mu jika tahu kau ada di sini?" tanya Alehandro.


Air muka Dara berubah memucat.


"Dia pasti akan meminta hak asuh atas Rose jika kau menolak untuk bersamanya? Dia lebih berkuasa dibandingkan dirimu!" Alehandro berjalan mengitari Dara. "Kau tahu mengapa? karena dia lebih kaya darimu!" bisik Alehandro di telinga Dara.


"Ale sebaiknya kau rubah rencanamu?" kata Dara.

__ADS_1


"Tidak bisa Dara, kau harus menyelesaikan semuanya. Rose butuh seorang ayah, kau jangan egois," ujar Alehandro di depan Dara.


Dara memegang rambutnya kebelakang.


"Kau bisa melawannya jika kau menikah denganku."


Dara menatap Alehandro. Pria itu lalu duduk di sofa dan merenggangkan kedua tangan di sandaran sofa.


"Pilihanmu itu cuma dua menikahi Kris atau menikah denganku?"


"Kau menjebakku, Ale!" ujar Dara kesal lalu duduk di dekat Alehandro.


"Aku tidak menjebak. Aku melakukan ini karena tahu jika Kris sudah bercerai dan aku ingin agar Rose dan kau bisa hidup bahagia," ujar Alehandro mencondongkan tubuhnya ke arah Dara.


"Bagaimana kau bisa yakin jika aku akan bahagia jika bersama Kris?" tanya Dara.


"Karena kau ingin hidup dengan orang yang mencintaimu, Kris mencintaimu," ujar Alehandro.


Dara terdiam. "Kau tidak tahu apa-apa dengan hatiku Ale?"


"Kalau begitu katakan?"


Sekali lagi Dara terdiam menunduk lemas. Alehandro memegang dagu Dara dan mengangkatnya.


"Jangan tundukkan pandanganmu!" ucapnya sembari menggelengkan kepalanya.


Mata Dara terlihat sudah memerah dan berkaca-kaca. "Jangan melihatku seperti itu," pinta Dara dengan suara parau.


"Jika ingin menangis, menangis lah!"


"Bolehkah aku bersandar di dadamu?" tanya Dara.


Alehandro merengkuh tubuh Dara masuk dalam dekapannya. Tubuh Dara bergetar dan Alehandro mengusap punggung wanita itu pelan dan lembut.

__ADS_1


"Ada aku semua akan baik-baik saja," bisiknya.


__ADS_2