
"Maria... ," teriak Natalia panik dan khawatir.
"Siapkan mobil, kalian bantu aku untuk membawa Maria ke mobil secepatnya!" teriak Natalia yang masih menggunakan akalnya untuk berpikir. Sedangkan Mom Lusi hanya memegang dadanya.
Natalia lalu memegang Lusi. "Kau harus tenang agar kesehatanmu tetap stabil. Kami membutuhkanmu sekarang jadi atur nafas," ujar Natalia. Mom Lusi lalu mengatur nafasnya sedangkan Natalia berlari ke lantai atas untuk melihat keadaan Maria. Belum sempat dia sampai di lantai atas para pelayan sudah mengangkat tubuh Maria ke bawah.
"Siapapun hubungi Alehandro katakan jika Maria sedang dibawa ke rumah sakit," ucap Natalia. Natalia melihat anaknya memejamkan mata dengan wajah yang terlihat pucat. Lingkaran hitam menghiasai kedua netra yang cekung. Rahangnya terlihat menonjol karena bobot tubuhnya semakin berkurang setiap harinya. Tangan Maria terkulai lemas.
"Ya Tuhan, selamatkan anak dan cucuku," ucap Natalia dalam hati. Buliran air mata sudah mengalir di pipinya kakinya pun sudah terasa lemas dari tadi namun dia menguatkan dirinya karena Maria sedang membutuhkannya saat ini.
Mom Lusi melihat Maria sembari memegang mulutnya. Satu pelayan memegang tubuhnya takut hal buruk terjadi pada wanita yang sudah berumur ini.
"Tidak ada sopir Bu, karena sedang dibawa oleh Tuan Alehandro," kata seorang pelayan.
"Biar aku saja yang menyetir aku minta salah satu dari kalian untuk menjaganya di belakang," kata Natalia.
"Biar aku saja yang menjaganya," ucap Mom Lusi dengan suara yang bergetar.
Natalia melihat wanita itu.
"Aku akan baik-baik saja," janji Mom Lusi.
"Baiklah, semua keperluan sudah masuk ke bagasi?" tanya Natalia.
"Koper berisi keperluan Nyonya dan calon bayi sudah ada di bagasi," kata Pelayan yang lain karena sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari.
Natalia dan Mom Lusi segera masuk ke dalam mobil bersama satu pelayan wanita.
"Tolong do'akan Nyonya kalian!" ujar Natalia.
Semua pelayan menganggukkan kepalanya. Berdoa dalam hati semoga majikannya beserta anak mereka dalam keadaan baik-baik saja.
Mobil mulai meninggalkan rumah.
Natalia langsung menancap gas cepat.
"Natalia hati-hati," ucap Mom Lusi.
"Tiada waktu besan. Kalian berpegangan yang erat dan jaga putriku saja," kata Natalia.
Sepanjang jalan Natalia sering sekali membunyikan klakson sembari menyalip beberapa mobil. Beberapa pengendara lain terlihat marah.
Pelayan yang duduk di kursi depan penumpang sampai menutup matanya takut jika mobil ini menabrak kendaraan lain.
"Awaaaass!" teriak Mom Lusi dan Pelayan itu melihat sebuah kendaraan hendak menabrak mobil mereka dari depan. Namun, Natalia langsung membanting stir ke kiri hingga hanya spion mobil saja yang terlepas.
__ADS_1
"Natalia, kau gila!" teriak marah Mom Lusi. Natalia tetap pada mode konsentrasi, dia hanya mengeluarkan nafas keras tetapi tidak mengurangi laju kendaraannya. Baginya keselamatan putrinya lebih penting dari pada spion pecah.
Lampu kuning di depan hampir saja berubah menjadi merah tapi Natalia malah menekan pedal gas lebih dalam.
Polisi yang sedang mengatur lalu lintas di buat geram oleh ulah Natalia. Mereka lalu mengejar mobil wanita itu.
Nafas Maria mulai terlihat terengah-engah membuat panik Mom Lusi.
"Natalia kau kenapa?" seru Mom Lusi cemas mengusap wajah Maria.
Natalia melihat kejadian itu dari kaca spion. Matanya yang telah memerah sedari tadi kini mulai mengembun dia lalu mengusap air mata yang mulai menetes.
"Sebentar lagi kita sampai, Sayang, kau pasti bisa bertahan," teriak Natalia parau.
'Tinggal satu blok lagi.' batin Natalia. Sedangkan di belakangnya nampak Polisi mengejar dan memberi peringatan pada Natalia untuk berhenti.
"Natalia, cepatlah ... ," ujar Lusi yang kelihatan ketakutan.
Natalia langsung menambah kecepatannya. Ketika di belikan dia kehilangan keseimbangan.
Brak!!!
Bamper mobil belakang menabrak pembatas jalan tetapi dia tetap menjalankan mobilnya walau bamper itu setengah terlepas dari mobilnya dan terseret menimbulkan percikan api. Rumah sakit tinggal satu gedung lagi dan dia lalu membelokkan mobilnya masuk ke dalam rumah sakit dengan menabrak palang pintu parkir.
"Wuah! Maaf ini soal hidup mati," teriak Natalia sembari mengarahkan mobilnya tepat di depan ruang IGD.
Ciii ..... tttt!!!
Natalia langsung membuka pintu mobilnya.
"Cepat!" teriak Natalia pada para petugas. "Dia sesak nafas."
"Jika kalian kurang cepat nyawa anakku akan jadi taruhannya," imbuhnya.
Tubuh lemah Maria lantas di letakkan di atas brankar dan dibawa lari dengan cepat ke ruang operasi.
Mom Lusi keluar dibantu oleh pelayan. Dia memegang dadanya sembari menangis tersedu-sedu.
"Tenanglah semua akan baik-baik saja," ucap Natalia.
"Maaf Nyonya!" Seorang Polisi menyentuh bahu Natalia.
Beberapa wartawan yang sedang duduk di sekitar tempat itu langsung berlari begitu melihat salah seorang artis ternama terlibat keributan.
Orang-orang yang melihat mulai berkerumun guna mengetahui apa yang terjadi.
__ADS_1
"Pak aku akan mengganti semuanya tetapi biarkan aku mengurus anakku terlebih dahulu, '' ujar Natalia.
"Kami tahu Bu tapi Anda tadi telah melakukan banyak pelanggaran," ujar Petugas itu.
"Kalian boleh memenjarakan aku atau melakukan apapun tapi saya mohon biarkan saya menunggu anak saya yang sedang sekarat. Saya harap Anda mengerti." Natalia menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.
"Sudah biarkan saja yang penting dia akan bertanggung jawab," ujar yang lain.
"Natalia, saya wartawan dari Second Enterprise, Anda mengatakan jika tadi adalah anak Anda yang masuk ke dalam ruang IGD," tanya seorang wartawan.
"No komen saya minta maaf," ujar Natalia. Alehandro yang baru datang langsung mendekat ke arah Natalia.
"Bagaimana keadaan Maria?" tanya Alehandro.
"Aku tidak tahu. Aku sangat takut," ujar Natalia. Mereka hendak berjalan namun para wartawan malah berkerumun hendak bertanya.
"Ku mohon beri kami jalan, istriku sedang kondisi parah," kata Alehandro, para petugas keamanan rumah sakit lalu membantu Alehandro dan Natalia melewati kerumunan para wartawan itu.
"Kami butuh darah golongan a+ karena hanya tersedia dua kantong saja sedangkan kami butuh lebih banyak," ujar salah dokter keluar dari ruang operasi.
"Saya, ibunya dan golongan darah kami sama," ujar Natalia maju sembari menyeka air matanya.
"Kalau begitu ikut dengan dia," tunjuk dokter pada perawat di sebelahnya
Alehandro mengusap lembut kepala Natalia.
Natalia lalu memeluk tubuh Alehandro.
"Aku takut," ujar Natalia.
"Dia pasti bisa bertahan," ujar Alehandro. Tetapi jauh di lubuk hatinya dia merasakan ketakutan yang sama.
Natalia merenggangkan pelukannya. Alehandro menyeka air mata Natalia dan menangkup dua pipinya.
"Berdoalah ... karena doamu begitu penting untuknya," pinta Alehandro. "Jangan berpikir buruk."
Natalia menganggukkan kepalanya lalu mengikuti perawat yang akan membawanya ke ruang pengambilan darah.
Alehandro menatap nanar ke arah ruang operasi. Mom Lusi lalu mendekat ke arahnya.
"Mom takut, dia tadi sempat mengalami sesak nafas."
Tubuh Alehandro melemas tetapi dia coba untuk menguatkan diri, tidak ingin membuat ibunya bertambah cemas. Dia hanya bisa memeluk ibunya dengan erat.
"Tuhan, jangan ambil mereka dariku," do'a Alehandro dalam hati.
__ADS_1