Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Tidak Seburuk yang Kau Pikirkan


__ADS_3

Mata Maria terbelalak mendengar ancaman dari Alehandro. Dia menelan salivanya dalam-dalam. Maria hendak bersiap berlari ketika mendengar pembebasan dari Ibu kosnya.


''Irah?" teriak Ibu Kos pada orang yang biasa membantunya dalam masalah keamanan. Ibu kos lalu berkacak pinggang melihat ke arah Alehandro. Maria mengangkat wajahnya.


Irah lalu keluar dari kamar kosnya. Tubuh wanita itu tinggi besar dan berotot. Dia adalah mantan atlet taekwondo yang sudah terlupakan. Hidupnya sederhana hanya menjadi satpam wanita di salah satu perusahaan di sekitar sini.


Krishna menaikkan satu alisnya ke atas. Alehandro hanya terdiam melihat apa yang akan para wanita itu lakukan.


"Mbok Sum... ," teriak Ibu kos lagi memanggil asisten rumah tangganya yang bertubuh gempal, oversize.


"Kenapa Bu?" wanita itu mengerti suara arti teriak Ibu kos, dia datang dengan sebuah sapu lidi di tangannya.


"Apa ada pria yang mengganggu anak kos lagi? " Ibu kos melirik ke arah Alehandro.


"Dia, Bu?" tanya Mbok Sum melihat tampang ganteng dan keren dari dua pria dihadapannya.


Dahinya mengernyit.


"Dia ingin memaksa membawa Maria primadona kost," kata Ibu kos.


Mata Mbok Sum menyipit tajam.


"Kalau naksir, ajak ngomong baik-baik jangan pakai paksaan. Situ kelihatan kaya tapi jangan berbuat semena-mena sama wanita!''


" Saya hanya ingin membawa pulang istri saya!"


"Dia bohong Mbok, tidak ada bukti jika saya adalah istrinya!" ujar Maria. Dia tidak pernah menandatangani surat nikah asli hanya surat nikah siri dan masa berlakunya juga pasti telah habis karena telah lewat dari tiga bulan yang lalu.


"Dia memang istriku!" ucap Alehandro yang mulai geram.


"Maria pulang atau?... aw... aw... aw... '' Mbok Sum memukul keras tubuh Alehandro dengan sapu lidi.


"Aku tidak suka ada pria yang memaksa wanita, " ucap Mbok Sum, dia adalah wanita paruh baya yang pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga hingga tidak suka bila melihat ada wanita yang teraniaya.


Alehandro berjingkat- jingkat coba menghindari amukan sapu lidi Mbok Sum.


"Tunggu aku akan beri bukti jika dia itu istriku yang pergi tiga bulan yang lalu!" teriak Alehandro.


Mbok Sum lalu terdiam lalu melihat ke arah Maria. Wajah Maria menjadi pias seketika. Dia menghela nafas ingin melihat bukti yang Alhandro bawa.


Alehandro lalu mengambil handphone dan menghubungi seseorang. Nada mulai tersambung.


"Mom, kau bicaralah sendiri pada menantu tersayang mu itu, dia menolak ku ajak pulang," ujar Alehandro kesal, marah dan jengkel menguap menjadi satu.


Alehandro lalu menyerahkan panggilan video itu pada Maria.

__ADS_1


Air muka Maria berubah, kini garis-garis ketegangan dan panik mulai terlihat dari dirinya. Maria hanya terpaku melihat sosok ibu yang ramah terpampang di balik layar itu menatapnya.


"Mom," ucap Maria serak dan tercekat. Matanya mulai berembun. Dadanya menjadi sesak, ingin dia memeluk wanita yang telah menjadi ibu mertuanya itu.


"Maria, Ibu merindukanmu," ujar Lusy.


"Aku juga, Mom," jawab Maria.


"Kalau begitu pulanglah!"


"Aku tidak bisa, Mom,"


"Kenapa? Apa Alehandro terlalu menyebalkan untukmu," tanya Lusy penuh kasih sayang.


"Dia pria paling brengsek yang pernah ku temui Mom," umpat Maria geram. Maria sekilas menatap Alejandro yang ikut terkejut mendengar umpatan Maria.


"Apa dia lakukan padamu hingga kau terlihat marah padanya,'' tanya Lusy.


" Aku baru meninggalkannya satu bulan tetapi aku pernah melihatnya bercinta dengan wanita lain, Mom," ucap Maria bergetar dan serak.


"Haruskah aku menyerahkan hidupku pada pria yang tidak bisa mencintai dan setia padaku!" terang Maria dengan dada terasa yang panas dan penuh sesak. Air matanya mulai membasahi pipi.


Dari balik layar itu Lusy ikut meneteskan air mata. "Kau benar, tinggalkan saja dia. Dia tidak pantas untukmu."


Maria menatap wajah Alehandro yang memucat, dia lalu membalikkan tubuh dan berlari pergi ke kamarnya.


"Mom, aku... .''


''Jangan panggil aku Mom lagi, aku kecewa padamu!" seru Lusy menutup panggilan itu.


Alehandro lalu melihat pada semua orang yang menatapnya tajam.


"Ini hanya salah paham saja. Akan tetapi dia memang istriku," ucapnya singkat lalu membalikkan tubuh dan melangkah pergi dari rumah kos-kosan.


Semua hanya terdiam menatap kepergiannya. Krishna lalu mengikuti kepergian Alehandro.


***


Hingga sore Maria masih menangisi nasibnya di kamar hingga Dara pulang dan membawakannya sebungkus nasi dan segelas plastik besar es boba yang terlihat lezat.


"Makanlah dulu, Maria," ajak Dara. Dia menggoyang bahu Maria yang tidur tengkurap.


"Aku, tidak lapar," ucap Maria.


"Kau harus makan, jika tidak kau malah akan menyakiti dirimu sendiri." Maria lalu bangkit dan mengusap air matanya.

__ADS_1


"Aku tidak ingin makan Dara," tolak Maria.


"Kau belum makan dari pagi. aku tahu kau itu punya penyakit maag, kau akan sakit jika tidak segera mengisi perutmu itu," bujuk Dara.


"Aku memberikanmu nasi padang kesukaan kita dan es boba, minuman yang paling kau sukai." Dara menyerahkan es boba ke hadapan Maria.


"Kau memang sahabat sekaligus keluarga yang paling mengerti diriku," ucap Maria memeluk tubuh Dara.


"Aku tidak punya siapa-siapa selain dirimu Maria," ucap Dara.


"Sama, kita berdua saling memiliki satu sama lain," ucap Maria.


"Kau masih beruntung memiliki Kak Cristian dan Om Erick yang menyayangimu, sedangkan aku. Aku adalah anak yang ditinggal oleh seseorang di depan pintu pantai asuhan," ucap Dara sedih.


Maria terdiam, nasib Dara memang tidak beruntung dia tidak memiliki keluarga sama sekali. Nasibnya sendiri lebih baik, walaupun ayahnya telah meninggal tapi dia sempat mengingat kasih sayang yang ayah berikan untuknya.


"Mana makanan mu Dara?" kata Maria tidak ingin melihat Dara bersedih.


"Aku sudah makan tadi di restoran, makanan sisa dari acara tadi masih banyak dan seperti biasa makanan itu di bagikan pada semua karyawan. Aku juga membawa snack lebihannya. Ini satu ku bawakan untukmu," jelas Dara.


Gadis muda itu memperlihatkan kasih sayangnya pada Maria. Maria meneteskan air mata terharu.


"Kita makan bersama saja, satu porsi ini tidak bisa kuhabiskan sendiri."


Mereka berdua lalu tersenyum dan makan bersama.


"Kau tidak makan snack itu, Maria?" tanya Dara.


''Untukmu saja!" ucap Maria sembari berdiri dan melangkah pergi membuang sampah bekas makan mereka di luar kamar.


"Aku dengar suamimu datang kemari?"


"Ya, tapi dia telah pergi. Aku rasa dia tidak akan kembali," ucap Maria. Matanya menunduk sedih.


"Apa kau tidak ingin memberinya kesempatan. pada hubungan kalian berdua yang baru saja dimulai?"


"Untuk apa? Itu hanya akan menambah lukaku," ujar Maria.


"Apa kau merasa kecewa," tanya Dara.


"Sangat!" ungkap Maria.


"Berarti kau mulai ada rasa padanya hanya saja kau enggan untuk memupuk rasa itu," terang Dara bijak.


Maria menatap pada Dara.

__ADS_1


"Saranku, cobalah dengarkan penjelasannya. Lalu lihat apa dia mau merubah kebiasaannya, jika kau sudah yakin dia mau berubah cobalah beri kesempatan pada hubungan kalian." Maria menggelengkan kepalanya.


"Jika dia tidak peduli padamu dia tidak akan menyuruh orang membuntutimu setiap waktu, jika dia tidak perhatian untuk apa dia mengirim uang setiap bulan padahal kau telah menolaknya berkali-kali. Jika dia adalah pria yang buruk, untuk apa dia ke sini setelah apa yang kau katakan di telephon dua bulan lalu," Maria menatap Dara, dadanya mulai terasa sesak mendengar penjelasan sahabatnya, "kau ingat kau mengumpatnya dengan sebutan domba tukang kawin dan juga semua panggilan yang ada di kebun binatang kau layangkan padanya, seharusnya dia marah dan tersinggung oleh kata-katamu tetapi dia malah datang baik-baik padamu. Pikirkan itu Maria, dia tidak seburuk prasangkamu!


__ADS_2