
Sudah dua Minggu Cinta menghindari Cristian. Bukan tanpa sebab dia hanya tidak ingin membuat semuanya terasa sulit baginya. Setiap kali Cristian datang Cinta pasti bersembunyi di kamarnya atau pergi ke belakang untuk mengobrol bersama Ardi.
Semua orang sedang asik membicarakan tentang pesta pertunangan Bella dan Cristian. Cinta hanya duduk di kursi memainkan handphonenya sembari sesekali memberi pendapat.
Undangan pesta pertunangan telah di sebarkan dan besok adalah hari itu. Tapi Cinta berusaha senormal mungkin mengatasi kegalauan hatinya. Dia memperlihatkan rasa antusiasnya dengan menemani Bella ketika wanita itu membutuhkannya.
"Cinta apakah kau punya acara hari ini?" tanya Bella sembari membuka handphonenya. Dia nampak terkejut dengan pesan yang tertera.
"Kau tahu benar, Kak, jika aku ini seorang pengangguran baru. Aku sedang tidak punya pekerjaan apapun hari ini. Semua waktuku hanya untukmu kakakku yang cantik," kata Cinta memeluk Bella.
"Aku sedang ada klien penting dengan sebuah perusahaan luar negeri. Mereka mau membeli beberapa desain baju milik perusahaan kita. Jadi aku tidak bisa meninggalkan acara itu karena ini penting untuk kehidupan usaha ayah dan ibu. Aku mau kau mengambil baju yang ku pesan untuk acara pertunangan besok malam," pinta Bella.
"Bukankah di sana kau juga harus melakukan fitting baju pengantin," ucap Cinta.
"Ditunda dulu atau di mundurkan fitting baju pernikahan itu," jawab Bella.
"Kak, anu ... ." Cinta hendak bertanya Cristian ada di sana atau tidak, namun di urungkan. Dia takut kakaknya curiga.
"Apa, Dek?" tanya Bella.
"Aku hanya ke sama ambil bajumu 'kan Kak! hanya itu?" tanya Cinta memastikan. Bella terlihat mengambil sepatu dan tasnya dengan cepat dia seolah ada pertemuan penting hari itu.
"Hemm ... , aku pergi dulu, Dek." Bella berlalu pergi. "Ingat ambil jam sepuluh pagi," teriak Bella sebelum keluar pintu.
Setelah bersiap dan mengganti bajunya Cinta mengambil mobil dan mengendarainya menuju ke alamat sebuah butik yang Bella tunjukkan. Sebuah butik dengan perancang terkenal di Indonesia.
Cinta memarkir kendaraannya dan turun dari mobil. Dia tidak sadar jika semua tingkahnya di perhatikan dari tadi oleh Cristian.
Tampilan pria itu berbeda dari biasanya, dia menggunakan kaos berwarna abu-abu, kaos itu tidak ketat tapi masih memperlihatkan dadanya yang bidang dan bentuk otot yang tercetak di balik kain yang menutupinya. Celana gombrong army menutupi kakinya yang panjang. Sebuah topi terlihat menawan menutupi sebagian wajahnya dan kaca mata hitam yang bertengger indah di hidung mancungnya menambah keren penampilannya. Dia seperti artis holywood yang sedang berjalan-jalan.
Pria itu meletakkan kaca mata hitamnya di balik kerah ketika Cinta berjalan ke arahnya.
"Akhirnya aku bisa melihatmu lagi dari dekat. Apa kau merindukan aku Cinta?" tanya Cristian.
Cinta hanya bersikap cuek berniat melewatinya namun cekalan tangan Cristian di lengan menghentikan langkahnya.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku?" tanya Cristian.
"Apakah harus?" tanya Cinta bersikap seolah tidak peduli.
__ADS_1
"Kau itu sangat menggemaskan," ucap Cristian merengkuh bahu Cinta dengan satu tangannya dan berjalan menuju ke dalam butik. Cinta yang sempat menolak malah mendapati rengkuhan Cristian semakin kuat. Akhirnya dia hanya bisa pasrah karena tidak mau membuat keributan.
"Tuan Cristian Slim?" tanya salah seorang pegawai dengan sangat ramah. Cristian menganggukkan kepalanya. Dia mempersilahkan Cristian dan Cinta duduk di ruang tunggu khusus pelanggan.
Semua orang menatap mereka. Pasangan yang sempurna cantik dan tampan bisik orang-orang itu.
Cristian memaksa Cinta untuk duduk di sebelahnya. Seorang disainer pria yang baru masuk tertegun melihat klien wanitanya berbeda dari yang kemarin ditemuinya.
"Cristian kau tidak salah membawa calon istrimu 'kan," kata pria bergaya lembut bernama Ivan.
"Kalau boleh aku akan ganti dengan yang ini," ucap Cristian menggoda Cinta. Wanita itu membelalakkan matanya kesal pada perkataan Cristian.
"Kau jangan main-main, walau yang ini juga cantik namun pernikahan itu bukan main main?" kata Ivan yang duduk di salah satu sofa single.
"Aku tidak main-main aku serius hanya dianya saja yang tidak mau," jawab Cristian enteng.
"Jangan mau Neng geulis. Dia mah playboy cap kampak. Dia tidak pernah menunjukkan wanitanya pada dunia namun uh ... perempuan yaang dia bawa kemari untuk dipesankan baju itu banyak. Tapi aku tidak heran mengapa mereka mau, mungkin karena dia tampan, mapan dan bergaya," ucap Ivan panjang lebar.
Cinta tertawa lebar, "Kau lebih mengenalnya dari pada aku. Terima kasih atas saranmu, sayangnya orang yang akan menikahinya adalah kakakku sendiri. Dia sangat malang karena mendapatkan pria sepertinya," kata Cinta dengan gaya memelas.
"Ku pastikan kau yang akan duduk di kursi pelaminan Cinta." Cristian tidak suka dengan perkataan Cinta.
"Aku lebih baik pergi daripada menikah denganmu," balas Cinta tidak mau kalah.
"Sebenarnya kau ini mau menikahi adiknya atau kakaknya?" tanya Ivan penasaran.
"Dia," jawab Cristian kesal.
"Sebaiknya aku pergi saja dari sini," kata Cinta kesal.
Namun tangannya ditarik oleh Cristian, "Aku memesan satu baju khusus untukmu.''
Ivan menatap mereka dengan seksama.
"Van!" panggil Cristian lagi pada sahabatnya itu.
"Oh, apakah dress berwarna hitam itu?" tanya Ivan menegaskan.
Cristian menganggukkan kepalanya, Ivan masuk ke dalam ruangan dan membawa sebuah mannequin yang mengenakan dress hitam panjang selutut dengan lipatan di bagian bawahnya. Bagian dadanya tertutup namun punggungnya terbuka lebar
__ADS_1
"Cobalah, aku ingin melihatnya." Cristian menatap Cinta yang sedang menekuk wajahnya .
'Kau tahu jika aku tidak suka dibantah," kalimat andalan Cristian yang membuat Cinta akhirnya menuruti semua perkataannya.
Ivan menemani Cinta dengan memberikan pakaian itu. Cinta menerimanya dengan senyuman tulus.
"Kau sangat cantik pantas saja jika Cristian sangat memujimu," ucap Ivan. Cinta melihat ke arah Ivan.
"Dia memang tidak pernah membawa wanita ke depan publik namun terkadang dia memanjakan mereka dengan pakaian bagus-bagus. Tetapi mereka tidak pernah ditawari komitmen hingga dia mengenalkanku pada Bella, namun lucunya dia memesan dua baju khusus untukmu. Jika Bella memilih gaun yang sudah ada, untukmu dia minta yang istimewa yang baru kubuat sesuai dengan keinginannya."
"Aku harus berkata 'wow' untuk hadiah istimewa ini. Sedangkan hadiah ini sama saja dengan menusuk kakakku dari belakang," ungkap Cinta.
"Kau yakin kakakmu akan bahagia setelah mereka menikah, sedangkan Cristian tidak pernah mencintainya? Pikirkan itu!" Ivan lalu melangkah pergi meninggalkan Cinta di ruang ganti itu.
Kaki Cinta melemas. Sejenak buliran bening itu membasahi pipinya tapi buru-buru dia seka kembali.
"Aku tidak tahu mengapa aku juga merindukanmu," gumam Cinta.
Dia mencoba gaun itu sangat pas di tubuhnya. Kain itu terasa lembut menyentuh kulitnya. Cinta keluar dari ruangan untuk memperlihatkan gaun itu pada pemesannya.
Cristian yang melihat Cinta keluar terpana dan tersenyum cerah.
"Van, aku mau kau ambil baju khusus itu!" seru Cristian pada Ivan. Ivan menunjukkan jempolnya pada Cristian.
Cinta di dorong masuk ke dalam ruang ganti lagi. Pria lembut itu mengeluarkan sebuah gaun dari sebuah lemari besar. Sebuah kebaya berwarna putih yang dihiasi batu permata. Cinta membuka mulutnya.
"Ini sangat indah," ucap Cinta. Ivan tersenyum lebar.
''Ini gaun khusus untukmu, Cristian sangat berharap kau akan memakainya di hari pernikahan kalian," Cinta melihat ke arah Ivan.
"Aku tidak bisa memakainya,''
"Lalu di mana pakaian yang dipesan untuk kakak?" tanya Cinta.
Ivan mengeluarkan satu kain kebaya lagi dengan model yang berbeda. Ini indah tapi tidak seindah baju kebaya tadi.
"Ini untuk kakakmu. Dia sangat berharap kau akan memakai gaun kebaya itu," kata Ivan menunjuk pada gaun kebaya tadi.
"Ini salah, semua salah," ucap Cinta bingung.
__ADS_1
"Maka buatlah semua menjadi benar." Ivan tersenyum, "Dia sangat berharap kau yang akan menjadi pengantinnya. Jangan hancurkan hatinya karena dia baru bisa bangkit lagi setelah bertahun-tahun dia terpuruk dalam kesedihan."
"Calon istrinya meninggal dunia lima tahun lalu," lanjut Ivan membuat Cinta terkejut.