Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Kesempurnaan Keluarga


__ADS_3

Alehandro sedang meminum kopinya di balkon kamarnya sambil membaca berita di koran. Dia lalu merenungi semua yang telah terjadi selama dia dan Maria bersama. Sudah dua bulan ini, pernikahannya dengan Maria berjalan dengan baik tidak ada masalah yang berarti.


Kakek Maria telah mengakui kesalahannya. Walau beberapa kali Maria menolak kedatangannya tetapi tidak membuat niat pria itu surut. Dia tetap datang membawa hadiah atau sekedar untuk menyapa cucunya itu.


Mom Lusi mulai menasehati Maria untuk belajar memaafkannya hingga akhirnya dia mau menerima kedatangan kakeknya dengan baik dan mulai menerimanya.


Tetapi masalah belum berakhir sampai di sana. Maria belum mau menemui Natalia, ibu kandungnya, orang yang telah meninggalkannya dari kecil. Apa pun perkataan Alehandro dan Lusi tidak dia hiraukan.


Alehandro kembali menyesap kopinya ketika mendengar teriakan dari kamar mandi. Dia langsung menyemburkan kopi itu, meletakkan cangkir di atas meja dan berlari cepat ke arah kamar mandi.


"Maria ada apa?" tanya Alehandro panik.


Maria tersenyum dan memeluk suaminya.


"Ada apa?" tanya Alehandro tidak mengerti. Maria lalu melepaskan pelukannya dan memperlihatkan alat test pack di tangannya


"Ini," wajah Alehandro terlihat bingung, dia menatap Maria. Matanya seketika mengembun. Tanpa mengatakan apa-apa dia memeluk Maria.


Tangisnya terdengar keras hingga keluar. Tubuhnya bergetar hebat. Kakinya terasa lemas dia langsung jatuh luruh ke bawah dan berjongkok sembari memegang test pack itu.


Maria ikut berjongkok di depan Alehandro. Pria itu lalu menciumi seluruh wajah Maria dan tersenyum lebar.


"Terima kasih, kau berikan kabar paling indah untukku," bisik Alehandro dengan bibir bergetar. Maria ikut lalu mengusap pipi Alehandro yang basah. Dia tidak mengira reaksi Alehandro akan sebahagia itu hingga membuat Maria terharu.


Selama ini suaminya menjadi pasangan yang baik untuknya. Selalu mengurus semua kebutuhannya dan selalu perhatian. Dia bahkan yang memberinya segelas susu untuk menyuburkan kandungannya.


"Ada apa Alehandro mengapa kau menangis keras," teriak Mom Lusi ketika memasuki kamar Alehandro. Dia lalu berjalan menuju kamar mandi dan melihat Alehandro serta Maria berjongkok melihat ke arahnya.


Wajah mereka berdua basah tetapi sebuah senyuman terpancar dari keduanya.


"Ada apa?" tanya Mom Lusi. Alehandro lalu berdiri dan menyerahkan test pack itu pada Mom Lusi.


"Dua garis merah, itu artinya ... ," seketika Mom Lusi langsung pingsan. Alehandro langsung menangkap tubuh ibunya sebelum jatuh ke lantai.

__ADS_1


Maria langsung ikut membantu Alehandro. Alehandro lalu menggendong tubuh ibunya yang sedikit gemuk itu ke tempat tidur.


"Kenapa Mom?" tanya Maria khawatir.


"Dia hanya terlalu gembira dengan kabar ini sehingga jatuh pingsan. Aku lupa jika penyakit jantungnya melarang dia untuk mendapatkan berita yang akan membuatnya terkejut."


"Cepat ambilkan minyak kayu putih setelah itu ambilkan obat ibu yang ada di nakas tempat tidurnya. Obat dengan butiran kecil," terang Alehandro. Maria lalu mengambil minyak kayu putih di nakasnya lalu memberikan pada Alehandro. Alehandro lalu mengoleskannya ke sekitar hidung Lusi serta kakinya.


Dia lalu membaui hidung Lusi dengan minyak kayu putih itu.


"Mom, bangunlah," panggil Alehandro pelan. Kelopak mata Lusi lalu bergerak. Dia membuka matanya secara perlahan.


"Ale, apa yang terjadi?" tanya Mom Lusi sembari memegang dadanya yang terasa nyeri.


Alehandro tersenyum.Mom Lusi langsung mengingat kejadian terakhir.


"Maria hamil, ya aku ingat itu," teriak Mom Lusi gembira.


"Dia sedang mengambil obatmu, Mom," jawab Alehandro. Mom Lusi lalu menabok paha anaknya dengan keras.


"Kau itu lupa jika dia sedang hamil kau seharusnya jangan menyuruhnya, kau saja yang mengambilkan atau menyuruh pelayan lain," seru wanita itu.


"Dia hamil, Mom, bukannya tidak boleh bergerak," jawab Alehandro santai.


"Kau ini, sekarang Mom katakan ya, jika seharusnya kau itu menjaga istrimu yang sedang hamil dengan baik. Tidak boleh menyuruhnya, serta kau harus selalu membuat hatinya bahagia jika ingin anak yang dalam kandungan Maria selamat," jelas Lusi panjang lebar.


"Ish, Mom seram sekali mengatakan hal itu. Namun, aku akan mematuhi semua yang Mom katakan," ujar Alehandro.


Maria lalu masuk ke dalam kamar dengan membawa botol obat ditangannya dan melihat kedua orang yang dia sayangi memandanginya.


"Mom, aku sudah membawakan obatmu," kata Maria mendekat tetapi tangannya diraih oleh Lusi.


Dia menarik tangan Maria untuk duduk di sampingnya.Menatap Maria dengan pandangan sendu.

__ADS_1


"Terima kasih karena telah memberikan sesuatu yang aku inginkan selama ini. Ini adalah kado terindah yang Tuhan berikan kepada keluarga ini. Aku tidak butuh obat itu, karena berita itu adalah obat penawar kerinduanku akan hadirnya seorang cucu selama ini," ucap Mom Lusi. Dia lalu mengusap pipi Maria.


Maria lalu memeluk Lusi. "Aku bahagia mempunyai kalian berdua, kalian sangat menyayangiku dan aku benar-benar mengerti apa artinya mempunyai keluarga yang utuh," ujar Maria.


"Aku juga beruntung memiliki menantu yang pengertian sepertimu, kau tidak pernah menuntut apapun dari kami tidak pernah protes apalagi marah. Jika marah pada suamimu itu harus jika tidak, dia akan selalu bermain-main diluar sana!" ucap Mom Lusi mengusap punggung Maria.


"Dari Mom, aku mengerti bagaimana rasanya mempunyai seorang ibu mendapatkan kasih sayang serta perhatian. Mom aku sangat menyayangimu, jangan sakit, aku begitu ketakutan tadi melihat kau terbaring," ujar Maria menangis.


Alehandro yang melihat menjadi terharu. Dia merasa keluarganya telah dilingkupi kebahagiaan tidak ada yang kurang dari hidupnya kini. Semua terasa sempurna dan berharap kesempurnaan itu tidaklah hilang darinya.


Punya istri dan ibu yang saling menyayangi juga mencintainya.


"Apa kalian melupakan aku?" tanya Alehandro.


Lusi lalu merenggangkan satu tangannya ke arah Alehandro dan mereka saling memeluk.


"Kita harus memesan seribu kotak nasi untuk dibagikan ke semua orang di pinggir jalan dan tempat-tempat kumuh untuk merayakannya," kata Mom Lusi tiba-tiba.


"Kita juga akan mengadakan pesta untuk menyambut kehamilan Dara," ujar Alehandro antusias.


"Tidak! Aku tidak mau pesta," kata Maria.


"Itu akan mengeluarkan uang banyak tetapi tidak menemukan kegunaannya."


"Kita bisa bersenang-senang untuk merayakan kebahagiaan ini," ujar Alehandro.


"Bersenang-senang bukan berarti berpesta, kita bisa menggunakan uang pesta itu untuk menyantuni anak yatim di panti asuhan. Kita bisa mengadakan acara pengajian sederhana di sana dan merayakan hal itu di sana. Mereka akan merasa bahagia jika kita melakukannya," terang Maria.


"Dan kalian akan mendapatkan doa dari anak-anak itu," sela Mom Lusi. Maria lalu menganggukkan kepalanya.


"Kau memang istri yang baik, Maria. Mom benar karena telah memilihmu untuk mendampingi ku selamanya," ujar Alehandro.


"Aku beruntung karena mendapatkan kalian dalam hidupku, dan kehadiran calon anak kita akan menyempurnakan semuanya," imbuh Maria tersenyum. Alehandro lalu mengecup kening Maria.

__ADS_1


__ADS_2