Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Mertua vs Menantu


__ADS_3

"Sekali lagi aku katakan jika aku hanya tidak ingin kau sakit karena terlalu khawatir," kata Riska.


"Riska kau pergi saja temani Bella. Aku ingin berbicara berdua dengan pria di depanku ini," perintah Setiawan pada istrinya.


"Sebenarnya apa yang akan mereka bicarakan hingga aku harus pergi dari ruangan ini," Batin Riska. Dia lalu meninggalkan dua orang itu.


David melihat Setiawan yang mengambil bantal hendak menatanya. Dia hendak duduk bersandar namun David bergerak cepat dia lalu menaikkan peninggi tempat tidur dan merapikan posisi bantal membuat Setiawan bisa bersandar nyaman.


Pria itu terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu. Ada cekungan hitam di kedua matanya, wajahnya pun yang selalu terlihat berseri-seri kini menjadi putih pucat. Bibirnya terlihat kering dan pecah sepertinya sakitnya kali ini terlihat parah.


"Terima kasih," kata Setiawan.


David lalu duduk di dekat Setiawan untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan pria itu.


"Aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi pada anak-anakku. Apa aku yang begitu sibuk sehingga tidak mengenal mereka. Cinta lari dari rumah karena ingin menghindari masalah. Sebenarnya masalah yang bisa diselesaikan dengan baik jika ada komunikasi yang terbuka. Tapi sayang dia memilih melarikan diri dari kenyataan. Bella menikah denganmu tanpa sepengetahuanku. Aku sendiri merasa terkhianati oleh anak dan istriku yang menyembunyikan ini semua dariku tapi aku coba untuk mengerti mereka tanpa berusaha untuk menghakimi." Setiawan mendesah.


"Kini aku melihat pernikahan kau dan Bella kacau, aku tidak tahu harus berbuat apa!"


Mereka lalu terdiam hanya ada suara nafas dan bunyi alat monitor. David menundukkan kepala menyesali perbuatannya.


"Sebetulnya aku ingin mengambil Bella darimu. Hanya saja aku takut jika hal itu akan menyakitinya karena aku tidak tahu apakah dia mencintaimu atau tidak?"


Tenggorokan David terasa mengering mendengar pernyataan Setiawan ini.


"Kau itu juga seorang ayah tentu berharap kebahagiaan bagi putrinya begitupun denganku, aku sangat berharap kebahagiaan untuk putriku tanpa paksaan dari siapapun termasuk dirimu!" ucap Setiawan sembari memegang dadanya yang mulai terasa nyeri.


"Aku tahu aku salah waktu itu memaksakan kehendakku dan membawa Bella dengan mengancam anda Tuan Setiawan. Hanya saja waktu itu aku sedang kalut karena sudah empat tahun lebih aku mencarinya selama ini dan ketika sudah menemukannya dia enggan untuk kembali kepadaku sedangkan ada kesalah pahaman yang harus kami luruskan."


Mendengar jawaban David membuat Setiawan terbatuk-batuk. David langsung mengambilkan air minum untuk mertuanya dan memberikannya secara perlahan.


Setelah meminumnya dan Setiawan kembali berbaring, dia lalu kembali bertanya pada menantunya.


''Bisakah kalian bisa menyelesaikannya?"


"Aku bersyukur pada Tuhan mendapatkan istri seperti Bella yang pengertian. Dia selalu mengerti keadaanku dan mau menerimaku kembali," jawab David tersenyum kecut.

__ADS_1


"Walau statusnya sebagai istri kedua?" tanya Setiawan.


"Sebetulnya Minggu ini adalah ketuk palu hakim untuk penyelesaian perceraianku dengan Sofi, tapi ternyata Tuhan telah menceraikan kami terlebih dahulu," terang David.


"Yah, kita tidak tahu takdir kita seperti apa ke depannya. Dan aku juga tidak tahu jika aku besok masih ada atau sudah tiada," sela Setiawan.


"Kau akan panjang umur karena anak-anakmu masih membutuhkanmu," kata David menguatkan Setiawan.


"Anak-anakku tidak membutuhkanku jika iya maka mereka akan lari padaku untuk menceritakan masalahnya tapi tidak mereka lebih suka menyembunyikannya dariku," ujar Setiawan terdengar sedih.


"Mereka hanya tidak ingin menyakitimu saja. Mereka tidak ingin menjadi beban untukmu dan ingin agar kau selalu bahagia. Aku kenal dengan Cinta dan aku tahu bagaimana dia sangat bangga dan mencintaimu. Bella, dia bahkan tidak ingin melihatmu bersedih. Seharian kemarin dia sangat kacau setelah mendengar berita sakitnya anda Tuan Setiawan.''


"Kau memang pandai sekali dalam merangkai kata. Aku yakin hal ini yang membuat mata Bella tertutup dan jatuh cinta pada pria beristri sepertimu."


"Apakah ini sebuah sindiran atau pujian?"


"Keduanya." Mereka lalu tertawa.


"Aku juga punya dua istri dulu dan aku tahu bagaimana rasanya itu. Oleh sebab itu aku tidak ingin menghakimimu. Tetapi aku meminta kau untuk bisa membahagiakan anakku itu jangan sakiti dia. Dia telah banyak memikul penderitaan dari kecil."


"Aku berjanji akan selalu mencintai dan melakukan yang terbaik baginya agar dia bisa nyaman dan bahagia disampingku," janji David.


"Tidak akan kulakukan karena Bella adalah hal terpenting dalam hidupku aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya," jawab David cepat dan mantap.


Setiawan tersenyum.


"Aku lega mendengar hal itu darimu. Kau ingat jika dulu aku pernah berkata betapa senangnya aku jika dapat menantu seperti dirimu aku tidak pernah membayangkan jika gurauan itu akan jadi kenyataan," ungkap Setiawan.


"Terima kasih atas pujiannya," ujar David dengan nada bergurau.


"Nikahilah Bella lagi besok di sini mumpung aku masih hidup, aku juga tidak tahu apakah umurku akan panjang atau tidak,'' pinta Setiawan tiba-tiba.


Deg!


Hati David menjadi trenyuh mendengarnya.

__ADS_1


"Kami akan melakukannya lagi besok," kata David. Pria itu langsung merangkul mertuanya.


"Terima kasih, Ayah," ucap pria itu.


"Bolehkah aku memanggilmu demikian?" lanjutnya.


"Dasar anak bodoh, kau seharusnya memanggilku seperti itu dari awal! Pergilah, kau malah menambah sesak nafasku," ujar Setiawan.


David lalu melepaskan pelukannya. Dari awal Setiawan sudah merasa nyaman dengan anak ini. Walau berbagai masalah mendera dan Setiawan sempat gelisah dengan kehidupan Bella tapi jauh di dalam hatinya dia yakin jika David adalah pria yang bertanggung jawab.


"Jadi kapan kau dulu menikahi Bella tanpa restu dariku?" tanya Setiawan blak-blakan.


"Sebelum aku membereskan semua masalah perusahaan Ayah," David berkata jujur.


"Kalian ini benar-benar anak durhaka karena telah membohongi orang tua," ucap Setiawan dengan nada setengah kesal.


"Aku setengah memaksanya saat itu," ucap David lirih. "Aku jatuh cinta dengannya dari awal bertemu dan aku tidak rela jika dia dimiliki oleh orang lain."


"Jatuh cinta diwaktu yang salah begitukan?"


"Aku tidak mengira kau begitu bijaksana. Aku yakin Bella menuruni sifat itu darimu. Aku sangat bangga memiliki mertua sebaik dirimu," puji David.


"Dan bodohnya kau mengabaikan kesempatan itu selama bertahun-tahun uhuk ... uhuk ... ." Setiawan terbatuk-batuk lagi jika terlalu bersemangat bercerita.


"Aku kira aku butuh istirahat berbicara denagnmu membuatku lelah pikiran dan fisik," Setiawan mengeluarkan nafas perlahan.


"Aku akan keluar dan memanggil I ... eh Nyonya Ssetiawan untuk kemari," kata David.


"Jangan panggil dia ibu jika kau belum mendapat ijin darinya. Dia terlihat sangat marah padamu dan itu wajar," larang Setiawan.


"Iya aku tahu itu," jawab David lemas.


"Satu lagi jangan beritahu dirinya jika kau akan menikahi Bella ulang besok. Aku ingin balas dendam karena dia telah membohongiku selama empat tahun ini."


David menaikkan dua alisnya ke atas.

__ADS_1


"Okey, aku mengerti."


David mengambil tangan Setiawan dan mengecupnya sebelum berpamitan pergi.


__ADS_2