Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Tangis Bahagia


__ADS_3

Alehandro mengajak Dara untuk menemui Kris, Kaisar sempat menangis ingin ikut namun Alehandro melarangnya. Dara yang melihatnya tidak tega.


"Yah, aku mau ikut, Rose saja boleh mengapa aku tidak?" teriak Kaisar sembari mengusap air matanya


"Kai, Rose mau bertemu ayahnya. Jadi kau di rumah saja bersama nenek. Ayah harap kau mau mengerti," ujar Alehandro.


"Tidak mau, Yah, pokoknya aku mau ikut!" seru Kaisar. Mom Lusi dan Alehandro saling menatap. Rose memegang tubuh Kaisar dan memeluknya biar tidak menangis.


Dara lalu mengambil Kaisar dan menggendongnya.


"Kau boleh ikut tetapi hentikan dulu tangisannya."


"Tetapi Ayah," ucap Kaisar dengan tersengal-sengal.


"Dara, aku tidak mau ... ," ucapan Alehandro terhenti ketika Dara menggelengkan kepalanya.


"Dia akan memperbolehkanmu untuk ikut." Kaisar melihat ke arah Dara. Dara menganggukkan kepalanya dan mencium wajah Kaisar. Kaisar memeluk leher Dara erat.


"Tante Dara akan lelah jika menggendongmu terus ayo turun!" perintah Alehandro.


"Sudah biarkan saja," kata Dara mengajak Rose berjalan.


"Aku mau digendong Om juga," ucap Rose malu-malu.


"Titah My princess harus selalu dilakukan," ujar Alehandro menggendong Rose mereka lalu berpamitan pada Mom Lusi lalu pergi menuju mobil yang sudah siap di depan pintu rumah.


"Maaf Pak, mau aku yang menyetir atau tidak?" ujar Sopir Alehandro.

__ADS_1


"Biar aku sendiri saja yang menyetir," ucap Alehandro.


Alehandro lalu meletakkan Rose di kursi penumpang belakang bersama Kaisar. Dia lalu duduk di kursi kemudi.


"Kau di depan Dara, jika seperti ini aku seperti sopir," ujar Alehandro.


"Iya Tante, temani Ayah saja biar aku di sini bersama Rose." Dara akhirnya pindah ke kursi depan.


Mesin mobil mulai dinyalakan. "Dah, Nenek!" seru kedua anak itu melambaikan tangan sembari tertawa kecil.


Mom Lusi yang melihat ikut tersenyum senang sembari membalas lambaian tangan itu. Berharap semoga keinginannya menjadi kenyataan.


***


Sedangkan di sebuah restoran outdoor nampak Kris sedang duduk menunggu kedatangan Alehandro yang berjanji untuk membawa Dara padanya.


Kris meneguk kopi yang berada di depannya tetapi kopi itu ternyata sudah habis diminum. Akhirnya dia memanggil salah satu pelayan untuk datang mendekat.


"Wah, kopiku ini kok sudah habis begitu saja. Apa karena kopi ini enak jadi aku tidak sadar telah menghabiskannya? Kalau begitu aku pesan satu cangkir lagi," pinta Kris. Hari ini hatinya sedang senang sehingga senyum selalu mengembang di bibirnya.


Pelayan itu tersenyum lalu mengatakan akan mengambilkan kopi lagi beserta camilan. Setelah itu dia pergi ke pantry untuk mengambil pesanan Kris.


"Dara bagaimana keadaanmu sekarang?" gumam Kris sembari melihat wajah Dara di handphone miliknya.


Tidak lama kemudian kopi pesanan Kris datang. Namun, orang-orang yang ditunggunya belum nampak hadir. Hati Kris mulai diliputi oleh rasa khawatir. Dia takut jika Dara tidak mau bertemu dengannya lagi.


Hatinya merasa tenang tatkala dia melihat bayangan Alehandro dari kejauhan. Bibirnya tersimpul, menyunggingkan senyum lebar. Kris memiringkan kepalanya untuk melihat sosok yang berada di belakang Alehandro.

__ADS_1


Dress merah melengkapi penampilannya dipadukan blazer hitam dengan bagian lengan yang sedikit terbuka. Rambutnya yang kelam dan lebat turun lembut di punggungnya. Wajahnya terlihat cantik dengan riasan make up natural. Dia juga memakai sepatu dan tas yang senada dengan warna pakaiannya. Sungguh kecantikan sempurna membuat orang yang memandangnya tidak akan pernah merasa bosan.


Tampak di sebelah Dara seorang anak perempuan kecil yang mirip dengan Dara, dia mengikat rambutnya ke belakang. Cantik dan imut. Itukah anaknya. Kris menatap keduanya tanpa berkedip hingga sampai di depannya.



Alehandro lalu menepuk Kris.


"Kris!"


Tubuh Kris tersentak ke belakang. Dia tersadar kembali dari lamunannya. Matanya merebak, dadanya naik turun dan bergemuruh hebat. Dia lalu berjalan meninggalkan kursinya berhenti tepat di depan Rose dan berjongkok di depan anaknya.


Tangannya gemetar menyentuh pipi Rose. Rose yang bingung melihat ke arah ibunya. Dara hanya menganggukkan kepalanya.


Kris lalu memeluk Rose erat, melampiaskan kerinduannya selama ini. Segala beban hati dan pikiran hilang seketika. Terdengar erangan tangis Kris. Sembari mengusap rambut Rose pelan.


"Ayah?" ucap lirih Rose. Kris lalu merenggangkan pelukannya dan mengusap pipinya yang basah dengan lengan. Dia mendesah dan tersenyum. Kris menganggukka kepalanya.


"Ya, aku ayahmu! Aku Ayahmu, panggil aku ayah lagi, Nak!" ujar Kris dengan suara parau. Dia lalu memeluk Rose lagi sembari menangis tergugu.


Rose lalu memeluk balik leher Kris.


"Ayah, tidak boleh menangis," kata Rose.


"Ayah bahagia. Oleh sebab itu Ayah menangis."


Dara yang melihat ikut terharu dia menengadahkan wajahnya ke atas sembari menyeka air mata di sudut netranya. Dia tahu Kris bukan pria buruk yang akan berbuat kejam padanya dan anaknya. Alehandro benar, jika tindakannya yang memisahkan Rose dari ayahnya adalah sebuah kesalahan besar.

__ADS_1


__ADS_2