
"Selamat Sore, Tuan," sapa Mike, asistent pribadi David yang sedang berdiri menunggunya di ruang tamu.
David menganggukkan kepalanya.
"Jangan katakan apapun di depannya," perintah David melihat ke arah putrinya.
"Sebaiknya anda jangan membawa Nona muda. Keadaan belum kondusif. Lebih baik besok saja Tuan, saat semuanya membaik. Lagi pula kita masih menunggu kepastian dari pihak berwajib," Mike lalu membisikkan sesuatu ke telinga David. David menganggukkan kepalanya mengerti. Bella mengernyitkan dahinya ingin tahu apa yang terjadi tapi dia lebih baik menahan diri. Dia tidak mau menambah masalah bagi David.
David lalu menghampiri Cantik. Dia mengusap rambut Cantik dengan lembut. Matanya terlihat berkaca-kaca.
"Kau di rumah dulu saja bersama Ibu. Ayah ada urusan penting."
"Kita tidak jadi menemui Bunda, Yah?" David menggelengkan kepalanya. Bella lalu memberi pengertian pada Cantik. Untung ada Bella. Batin David.
"Jaga Cantik baik-baik aku mungkin akan pulang terlambat." Pamit David mencium kening Bella. Bella tersenyum kecut, dia tahu masalah ini berat untuk pria itu.
"Jaga dirimu baik-baik. Jangan terpancing emosi jika ada yang membuatmu kesal karena itu akan memperkeruh keadaan," nasihat Bella sembari menggenggam satu tangan David.
Pikirannya yang kacau lupa bahwa ini bukan kematian biasa. Pasti akan banyak drama. Dia harus menghadapi wartawan, keluarga besar Sofi, dan juga polisi belum lagi hujatan masyarakat yang akan mengkaitkan masalah ini dengan kekisruhan rumah tangga miliknya.
David dan asistennya masuk ke dalam mobil. Ada satu mobil lagi berisikan bodyguard yang akan mengikuti mereka.
__ADS_1
Mobil mulai meluncur pergi meninggalkan rumah. David melihat bayangan Bella dan Cantik yang masih berdiri di latar lama-lama menghilang.
"Kau harus melihat ini Tuan," kata Mike menyerahkan handphone miliknya yang terdapat status terakhir milik Sofi.
Selamat tinggal semuanya. Mungkin selama ini aku tidak menjadi yang kalian inginkan tapi aku berharap kalian mau memaafkan semua kesalahanku. Aku sangat mencintai kalian.
David mendesis. Entah mengapa hatinya merasa sedih. Bagaimanapun mereka telah bersama selama sepuluh tahun. Ada perasaan sayang walau itu bukan cinta.
"Mereka pasti akan mengaitkan masalah ini dengan masalah pribadi anda Tuan. Sebaiknya Anda mulai bersiap-siap menghadapi semua kemungkinan yang ada," terang Mike sembari melihat ke arah David. David menganggukkan kepalanya lalu menoleh ke samping.
David melihat ke arah luar jendela mobil bayangan kebersamaannya dengan Sofi kembali terngiang. Dari awal mereka bertemu karena di jodohkan, menikah, berhubungan layaknya suami istri seperti lainnya walau itu hanya sesaat, kelahiran Cantik dan saat-saat pertengkaran mereka sebelum memutuskan berpisah.
Terakhir kali mereka bertemu Sofi meminta maaf atas semua yang terjadi dan dia menyerahkan pengasuhan Cantik pada David.
Tanpa terasa mereka telah sampai di tempat tujuan. Rumah sakit telah padat oleh wartawan yang penasaran dengan apa yang terjadi. Mereka penasaran mengapa Seorang Presdir bisa sampai bunuh diri. Ini adalah berita besar untuk mereka.
David menyerahkan handphone milik Mike. Dia memakai kaca mata hitam untuk menutupi matanya, lalu mengambil nafas panjang sebelum keluar membuka pintu mobil.
Para bodyguard sudah berdiri di luar pintu mobil. Mobil mulai terbuka. David keluar. Para wartawan langsung merangsek memberikan pertanyaan pada David.
"Tuan David kapan anda mendapat berita ini?"
__ADS_1
"Bagaimana hal ini bisa terjadi?"
"Apakah anda pernah bertemu dengan korban sebelum kejadian?"
"Apakah kejadian bunuh diri ini karena korban tidak kuat berpisah dari anda."
Berbagai pertanyaan di layangkan kepada David. Tapi pria itu hanya diam saja hingga seorang wartawan melemparkan satu pertanyaan yang membuat langkahnya terhenti.
"Ada sumber yang mengatakan jika Nyonya Sofi bunuh diri karena tidak kuat melihat kebersamaan Anda dengan istri muda anda Tuan?"
"Kau jangan asal ngomong saja?" kata David kesal. Dia tidak ingin Bella masuk ke dalam masalah ini. Ini masalahnya dengan Sofi tidak ada hubungannya dengan Bella.
"Ya, Saya juga mendapat berita jika perceraian ini terjadi karena adanya orang ketiga dan Nyonya Sofi pernah hampir over dosis karena tidak kuat menanggung semua penderitaan ini." Wartawan lain ikut mulai bertanya ketika melihat emosi di mata David.
"Bukankah nama istri kedua anda adalah anak dari seorang pengusaha garmen bernama Bella?" desak wartawan itu.
David mengepalkan tangannya kuat. Wajahnya merah padam. Rahangnya telah mengetat. Mereka tidak tahu kenyataannya dan malah menghakimi orang yang tidak bersalah. Batin David.
***
Like ... like .. udah tiga bab nih ... like masih sedikit banget ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
Senin Vote nya bagi yang lupa,
Komentarnya. Masih pada bingung ya?