Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Bertemu Kakak


__ADS_3

Cinta menyeka air mata di pipinya sembari berkata, " Maaf ... ! aku tidak ada keberanian untuk bertemu denganmu Kak, apalagi dengan ibu."


"Mau sampai kapan? Apa hingga ibu dan ayah meninggal baru kau akan datang ke rumah?" bentak Bella.


Cinta menggelengkan kepalanya.


Sesaat rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Tubuh mereka pun ikut basah lama kelamaan.


"Kami sangat sayang padamu Cinta, apalagi jika mereka melihat anakmu. Ayah pasti akan bahagia melihatnya," ujar Bella.


Cinta menoleh pada Calesta yang berada dalam gendongan Cristian dan sedang menatap mereka.


"Apa kau juga telah memaafkanku!" tanya Cinta lagi.


Bella langsung maju dan memeluk adiknya.


"Bagaimana aku bisa marah pada satu-satunya saudara yang kupunya. Kita itu ibarat sepasang barang, jika hilang salah satu maka yang lainnya terlihat hampa, tidak memiliki jiwa," ucap Bella. Cinta memeluk tubuh Bella erat.


"Aku sangat merindukanmu Kak, aku bahkan setiap tahun pulang walau hanya sampai di depan rumah saja. Aku hanya ingin melihat kalian walau sekilas hanya untuk mengobati kerinduanku pada kalian," ujar Cinta.


"Kau memang adikku paling bodoh, kami sudah mencarimu hingga bertahun-tahun dan kau datang tanpa mau memperlihatkan dirimu pada kami," balas Bella sembari terisak sedih.


Bagaimanapun jika sudah bersama kakaknya Cinta bagai menjadi anak kecil lagi.


"Dia anakmu?" tunjuk Bella melihat ke arah Calesta.


"Ya, " jawab Cinta.

__ADS_1


"Cantik seperti dirimu!" ungkap Bella.


"Kalian mau berhujan-hujanan atau mau masuk ke rumah?" tanya Cristian di latar rumah.


Cinta dan Bella saling berpandangan dan tertawa.


"Ayo, kita masuk Kak!" ajak Cinta menarik tangan Bella.


"Aku akan ambil bajuku dulu di dalam bagasi mobil," kata Bella. Cinta tahu jika kakaknya seorang perfeksionis selalu ingin tampil sempurna di mata setiap orang. Sehingga dia selalu menyimpan cadangan baju sepatu hingga ********** di dalam bagasi. Jika dia bekerja sampai malam dia bisa langsung membersihkan diri dan berganti pakaian pada sore harinya baru melanjutkan pekerjaan. Jika tiba-tiba ada acara pesta mendadak, dia punya cadangan baju pesta tanpa harus kembali dulu ke rumah.


Cristian menyerahkan payung pada Cinta. Dia lalu berlari ke arah Bella untuk memayunginya.


"Jangan perlakukan aku seperti putri, karena aku adalah kakakmu yang harusnya melindungimu," ujar Bella.


Mereka lalu bersama-sama ke dalam rumah untuk membersihkan diri.


(Sampai kapan kau akan terus menghindar)


Bella lalu mengambil nomernya, mematahkan dan membuangnya ke sembarang tempat.


Dia memejamkan matanya dan mulai menetralisir rasa dihatinya.


Cristian dan Cinta sudah bahagia saat ini. Dan dia masih terpuruk oleh kisah lama yang menyakitkan.


Bella menarik kedua sudut bibirnya, melihat pantulan dirinya di cermin besar, tersenyum sinis pada dirinya sendiri.


"Dari luar kau terlihat sempurna tetapi kau sendiri dan terluka," gumam Bella pada cermin di hadapannya.

__ADS_1


"Kak," panggil Cinta dari balik pintu.


"Masuk saja, aku sudah selesai kok," ujar Bella.


Cinta lalu membuka pintu kamar dan masuk. Dia datang bersama Calesta.


"Hai sayang!" sapa Bella mendekati Calesta.


"Hai, ehm ... ." Calesta melihat ke arah ibunya di tidak tahu harus memanggil apa pada wanita di depannya.


"Dia itu kakak Mommie, kau bisa memanggilnya aunty," jelas Cinta.


"Aunty!" panggil Calesta sembari melihat ke arah Bella.


Bella lalu mendekati dan menggendong Calesta.


"Siapa namamu?"


"Calesta Mauriya,"


"Nama yang sangat indah," balas Bella. Mencium pipi chubby Calesta.


"Kau cantik sekali Sayang, mirip seperti ibumu, tapi sedikit mirip Cristian juga," ujar Bella. Dia lalu menghela nafas panjang dan berat. Teringat oleh momen empat tahun lalu.


"Kak, maaf. Boleh kah aku bertanya padamu?"


Bella melihat ke arah Cinta. Dia lalu menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa kau sudah menikah?" tanya Cinta takut-takut. Rasa bersalah masih bergelayut di dadanya.


__ADS_2