
#Berharap dapat promosi dari NOVELTOON pembacanya masih sedikit banget.
Bantu aku dengan memberikan likenya dong, cukup tekan tombol like aja kok, itu sangat mendukung karya ini agar bisa naik lagi.
Masukkkan juga favorit,
Bila kalian suka beri Votenya yah...
Setiap aku buka hape itu menantikan tanda cinta dari kalian dalam bentuk komentar, biasanya yang suka komen nanti akan aku senggol di akhir tulisanku, kenapa? Karena aku apresiasi komentar setia kalian.
***
Ardi tersenyum senang. Tak apa, dia akan dengan senang hati menerima anak Cinta sebagai anaknya nanti, asal bisa hidup bersamanya.
"Apakah kau mau menikah denganku?" tanya Ardi.
Pertanyaan Ardi yang tiba-tiba mengejutkannya. Rasa gugup tiba-tiba menjalar di tubuhnya. Bukan karena senang, tapi takut jika jawabannya menyakiti hati sahabat yang selalu berada di sampingnya.
"Aku ... ." lidah Cinta terlalu kelu untuk melanjutkan lagi kata-katanya.
"Bila kau tidak menikah dengan Cristian lalu bagaimana nasib anak ini, dia tidak punya nama seorang ayah dan sosok ayah yang akan menemaninya. Bisakah kau bayangkan nasib si anak itu kedepannya?" Ardi lalu terdiam sejenak dan membiarkan Cinta berfikir terlebih dahulu.
"Kau jangan egois dengan mementingkan perasaanmu sendiri. Jika kau tidak mau menerima Cristian maka menikahlah denganku demi anak yang mungkin sudah kau kandung saat ini," ucap ardi.
"Berilah aku waktu untuk berfikir?" pinta Cinta.
Ardi mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Cinta.
"Aku tidak pernah mengatakan ini sebelumnya tapi perlu kau ketahui jika aku sudah sejak lama mencintaimu. Aku tahu ini bukan momen yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku tapi ini mungkin bisa menjadi satu alasan untukmu berfikir mengenai diriku. Aku pun berjanji akan menyayangi anakmu seperti anakku sendiri jika kau mau menerima lamaranku ini," ungkap Ardi sepenuh hati.
"Dan satu hal aku tidak akan memaksamu dalam hal ini," lanjut Ardi.
"Kau tidak pernah memaksa apapun padaku, kau orang yang paling mengerti aku setelah ayah."
"Tapi aku hanya menganggapmu sebagai seorang kakak saja."
"Kalau begitu pikirkan perkataanku baik-baik. Cristian atau aku?" tegas Ardi.
***
Acara pertunangan Cristian dan Bella akan dilaksanakan. Namun, Cristian masih saja duduk di meja bar dalam kamar hotel yang dia pesan. Masih memakai kemeja biasa.
__ADS_1
Aura dan Erick yang sudah bersiap terkejut melihat putra mereka masih dalam keadaan kacau. Mereka menggelengkan kepalanya.
Dengan langkah yang anggun Aura mendekati Cristian yang masih duduk dengan santai sambil menikmati minumannya.
"Ini acaramu dan kau masih saja duduk di sini, jangan lari dari kenyataan hadapilah dengan kepala tegak," nasihat Aura.
"Aku tidak mendidikmu untuk menjadi lelaki lemah dan pengecut," ujar Erick.
"Aku bukannya lari dari kenyataan Mom, aku hanya menunggu sesuatu. Kalian pergilah saja terlebih dahulu. Aku pasti akan menyusul kalian.''
Aura tahu watak licik anaknya yang akan memanfaatkan kesempatan sekecil apapun.
"Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan tapi semoga berhasil dengan rencanamu,'' ucap Aura mencium pucuk kepala putranya dan pergi keluar bersama suaminya.
Sepeninggal orang tuanya Cristian memandangi sebuah paper bag yang ada di sebelahnya.
"Kau sangat keras kepala maka aku jauh lebih keras kepala dibanding dirimu. Kita lihat! Kau atau aku yang menang kali ini." kata Cristian sembari meminum lagi sisa alkohol di gelasnya.
Sedangkan di aula hotel Bella sedang merasa sedikit cemas karena Cristian belum juga sampai. Hatinya merasa sedikit lega ketika melihat kedua orang tua Cristian masuk ke dalam ruangan. Tapi mukanya kembali ditekuk saat tidak mendapati Cristian berjalan bersama mereka.
Bella menarik kedua sudut bibirnya dengan sangat terpaksa. Dia menyambut calon mertuanya dengan sebaik-baiknya.
"Tante kira dia sudah datang. Tante betul betul tidak tahu jika dia belum ada di sini? Dasar anak nakal," ucap Aura menghindari masalah.
"Oh ... apakah dia ada hotel ini tante?" tanya Bella lagi dengan raut muka sedih.
"Tante tidak tahu sayang, coba kau telephon dia dan tanyakan mengapa belum datang kemari," kata Aura mencoba untuk bersikap tenang. Dia tidak ingin mencampuri masalah anaknya yang rumit itu.
Aura mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari satu sosok yang menjadi pusat perhatiannya semenjak kemarin.
Dia mendekati sosok yang sedang duduk di pojok ruangan sendiri dengan wajah sedih. Aura berjalan mendekatinya.
Cinta mendesah pelan setelah melihat pesan dari handphonenya. Dahinya berkerut, nampak sekali dia sedang berfikir keras saat ini.
"Hallo sayangku," sapa Aura pada Cinta.
Cinta terkejut langsung mendongakkan kepalanya melihat ke arah Aura.
"Tante !" panggil Cinta tersenyum. Aura memeluk tubuh Cinta.
"Panggil aku mom saja," ucap Aura tetap memeluk Cinta. "Kenapa wajahku terlihat sedih begini?"
__ADS_1
"A-aku hanya tidak suka dengan kebisingan ini."
"Kau tidak suka acaranya atau kebisingan ini. Setahuku seorang penari senang dengan kemeriahan sebuah acara," sambung Aura.
"Tan, eh mom aku,"
"Bicaralah dengan Cristian dia menunggumu di kamar atas. Jangan gantung perasaannya ?" Aura memegang kedua bahu Cinta.
"Mom,"
"Kau lihat Bella, betapa dia gelisah menanti Cristian saat ini. Beri keputusan yang tepat bagi hubungan kalian bertiga?"
Mata Cinta merebak melihat ke arah Aura. Aura mengerti kegalauan hati Cinta. Dia lalu mendekap Cinta dengan erat.
"Apapun keputusanmu aku akan selalu bersamamu," ucap Aura yang menenangkan Cinta.
"Dia ada di lantai tiga puluh kamar V-3378," bisik Aura lalu memandang Cinta dan menganggukkan kepalanya. Jauh dari dalam hatinya dia ingin melihat Cinta dan Cristian bersatu.
Riska melihat kebersamaan Aura dan Cinta yang terlihat sangat mesra. Timbul sebuah pertanyaan dalam benaknya tapi dia enggan untuk menerka kemungkinan itu.
Cinta berjalan meninggalkan aula hotel. Tatapan mata Riska tidak lepas melihat setiap gerak gerik Cinta. Dia merasa ada kejanggalan di sini.
Cinta hendak masuk ke sebuah lift. Namun seseorang memanggilnya dari arah belakang. Dia menoleh untuk melihatnya.
"Ibu!"
Riska mendekati Cinta dengan tatapan mengintimidasi.
"Aku harap kau tahu apa yang kau lakukan. Jangan berbuat hal aneh yang akan membuat kakakmu terluka," kata Riska lalu berbalik meninggalkan Cinta yang termangu mendengar ucapan Riska.
Dia masuk ke dalam lift dan berbalik melihat tubuh Riska yang menghilang ketika pintu lift mulai tertutup.
Kaki Cinta terasa lemas seketika. Dia berjongkok dan berpegangan pada dinding lift. Sedikit jerit dia keluarkan agar rasa di hatinya bisa keluar sedikit. Dia marah, sedih, dan terluka. Tapi dia tidak bisa mengungkapkan semua perasaannya. Tidak pada siapapun.
Pintu lift kembali terbuka. Cinta kembali berdiri tegap. Menyeka bekas tangisnya dan berjalan mencari kamar milik Cristian. Dadanya berdegub dengan kencang. Ini seperti menunggu malaikat maut yang akan menghampirinya. Ingin lari namun dia tidak kuasa.
Dia mengetuk sebuah pintu kamar. Notifikasi pesan masuk ke handphonenya yang menyuruhnya untuk masuk sendiri ke dalam.
Cinta mengusap wajahnya dan mengambil nafas dalam-dalam sebelum membuka pintu kamar itu. Dengan tangan sedikit gemetar dia memutar knop pintu.
Dia memegang dadanya yang berdebar dengan sangat kencangnya. Bibirnya digigit untuk mengurangi rasa gugupnya. Salivanya di telan dalam-dalam ketika melihat Cristian yang ada di hadapannya.
__ADS_1