
Maria hanya terdiam memandangi Natalia sembari menghela nafas panjang. Dia tidak bisa membantah kata-kata suaminya kali ini. Jika ada Dara mungkin dia bisa meminta bantuan Dara untuk menemaninya kala suaminya sedang tidak ada di sini. Tetapi Dara tidak ada dan Kak Cinta baru saja melahirkan.
Maria memandangi wajah suaminya. Dari awal dia bersikeras agar Maria dan wanita itu berdamai. Hati Maria tidak bisa dengan mudah menerimanya tetapi mungkin ini cara Tuhan memberi jalan pada makhluknya untuk saling berdamai. Ya berdamai dengan keadaan. Toh selama ini dia juga telah terbiasa berdamai dengan situasi yang buruk dan situasi ini tidak seburuk yang dia duga. Kecuali perkara sakitnya, dia sendiri tidak yakin jika dirinya bisa selamat nantinya. Tetapi dia punya keinginan besar untuk bisa menyelamatkan janin dalam kandungannya.
Untuk itu dia memang memerlukan orang yang mendukungnya. Akan tetapi apakah wanita itu bisa layak diberi kesempatan? Apakah dia bisa mendukung dan memberi semangat padanya dalam menjalani hari berat yang akan dilaluinya?
Baiklah mari beri dia kesempatan. Apakah dia bisa merubah kain yang telah robek menjadi utuh kembali. Rasa tidak akan mungkin. Jikapun dia menolaknya yang ada suaminya malah akan mempermasalahkan hal ini. Maria tidak ingin bertengkar dengan suaminya karena hanya dia orang pertama yang dia percayai selain Kak Cristian. Dia juga sangat menghormati dan mencintai suaminya. Tidak mungkin dia menolak permintaan suaminya.
"Alehandro kau selalu bisa memaksakan kehendakmu padaku dari awal kita bertemu dengan cara yang halus," batin Maria
"Baiklah ,aku bisa apa menolaknya?" jawab Maria melirik ke arah Natalia yang terlihat lega.
"Natalia, sebaiknya kau pulang saja terlebih dahulu biar aku bersama Maria. Besok pagi kita bisa bergantian karena aku harus pulang melihat keadaan Mom yang sedang sakit juga."
Natalia sebetulnya keberatan meninggalkan Maria namun dia tidak bisa menolaknya. Untuk mendekati Maria itu tidak mudah butuh kesabaran ekstra. Tetapi dia tidak akan menyerah karena kesalahannya pun telah dilakukan berpuluh-puluh tahun yang lalu. Mungkin karena itu dia tidak dipercayai lagi diberi keturunan. Satu anak saja dia sia-siakan.
Natalia lalu mendekati Maria untuk berpamitan.
"Aku sebetulnya ingin menemanimu di sini tetapi suamimu ingin agar kita bergantian dalam menjagamu." Natalia menghela nafas dan tersenyum. Dia hendak menyentuh kepala Maria namun dia tarik kembali tangannya.
"Jika kau membutuhkan aku, kapan pun, hubungi aku, karena mulai sekarang aku akan ada untukmu," ujar Natalia.
"Jangan mengumbar janji yang mungkin tidak bisa kau tepati," sindir Maria tetapi tatapan tajam Alehandro membuatnya menundukkan kepala.
__ADS_1
"Sudahlah Ale, kita berdua butuh waktu untuk saling mengenal. Aku cukup tahu diri dengan kesalahan yang pernah kulakukan dulunya," ujar Natalia melihat ke arah Maria.
Natalia bisa melihat Maria begitu menghormati suaminya. Tidak pernah dia terlihat berani membantah suaminya, apapun itu. Alehandro juga terlihat sangat menyayangi Maria. Pasangan yang sempurna hanya saja Tuhan sedang menguji kadar cinta mereka masing-masing.
"Aku pergi dahulu, Maria. Ale, jaga anakku baik-baik. Hubungi aku kapanpun kau membutuhkan bantuanmu,'' kata Natalia lagi pada Alehandro. Alehandro hanya menganggukkan kepalanya.
Natalia lalu meninggalkan kamar rawat inap itu dengan langkah yang berat. Dia sempat melihat ke arah Maria sebelum menutup pintu itu.
Alehandro lalu menatap pada Maria dan merapikan surai hitam yang menutupi wajahnya.
"Apakah kau ingin memakan sesuatu?" tawar Alehandro.
"Tidak aku hanya ingin berbaring dipeluk olehmu," jawab Maria.
Maria lalu berbaring dengan bersandar di lengan Alehandro.
"Apa kau sudah tahu?"
Maria menganggukkan kepalanya. Alehandro mengerutkan dahi.
"Mengapa kau tidak memberitahunya padaku?"
Tangan Maria membentuk sketsa abstrak di dada Alehandro.
__ADS_1
"Aku ingin melihat ekspresimu ketika melihat jenis kelamin anakmu ketika melihatnya dari layar sewaktu kita melakukan USG secara langsung." Kepala Maria menengadah lalu menatap mata Alehandro.
"Kita akan melakukannya besok," kata Alehandro.
"Aku tiba-tiba ingin mengatakannya padamu sekarang, kalau anak kita ... ," jari Alehandro diletakkan di lambium Maria yang pucat dan kering.
"Besok Dokter akan memeriksa keadaanmu bersamaku. Kita akan melihatnya bersama agar menjadi surprise untukku."
Tangan Maria memegang satu tangan Alehandro dan di letakkan di perutnya. Hati Alehandro kembali mendesir sakit menyentuh perut itu.
"Aku yakin dia akan mirip denganmu karena setiap saat yang ada di mataku hanya bayangan wajahmu saja atau dirimu yang asli," ledek Maria.
"Memang ada diriku yang palsu?"
"Ada, Dono," kata Maria tertawa keras. Tetapi tawanya kembali menjadi ringisan. Perutnya kembali terasa melilit. Dia tidak mengatakan apa-apa tetapi cengkraman keras tangannya pada Alehandro bisa menggambarkan rasa sakit yang di derita Maria.
"Sayang, aku akan memanggilkan Dokter untukmu!" kata Alehandro khawatir dan panik.
"Tidak! Aku hanya butuh kau memelukku dan menghilangkan rasa sakit ini," ujar Maria menekan keras jari-jarinya ke daging tangan Alehandro.
Alehandro hanya bisa memeluk istrinya dengan erat sembari mencium pucuk kepala dan tangannya mengusap pelan perut Maria.
"Sayang bertahanlah, demi ibumu dan ayahmu ini," bisik Alehandro untuk anaknya dalam kandungan Maria.
__ADS_1
"Aku akan bertahan asal kau ada di sisiku," ujar Maria di tengah rasa sakitnya.
"Kau harus bertahan karena hanya kaulah yang aku harapkan akan mendampingiku hingga akhir hayat," kata Alehandro.