Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Masalah Pelik


__ADS_3

"Dia sangat berbeda dengan wanita yang lainnya. Dia seperti sebuah fatamorgana, aku kira aku bisa meraihnya namun setelah aku genggam ternyata dia tidak ada di sisiku," keluh Cristian. "Untuk pertama kalinya aku tidak paham dengan yang namanya wanita."


"Wanita adalah hal rumit yang tidak bisa . Cukup mengerti hati mereka maka merekapun akan tunduk padamu. Jangan terlalu bersikap keras karena mereka itu rapuh," jawab Aura.


"Mom, Cinta hamil anakku," ucap Cristian.


"Betulkah? Kalau begitu nikahi dia secepatnya dan bawa dia ke rumah kita. Mommi ingin segera punya teman berbicara sembari menunggu kedatangan calon anakmu ke dunia ini,"


"Dan untuk itu mommi harus punya semangat untuk hidup lebih lama lagi dengan menjalani serangkaian pengobatan yang dokter anjurkan. Demi cucu mommi. Mommi ingin menggendongnya 'kan? Maka Mommi harus sehat dan kuat," ujar Cristian.


"Mommi sehat, Nak dan tidak butuh itu yang namanya transplatansi atau apalah itu." Aura menatap Cristian dengan penuh keyakinan. "Dan berita ini membuat mommi punya semangat lebih untuk menyongsong hidup ke depannya.''


Cristian memeluk ibunya erat. Inilah alasan mengapa Cristian terburu-buru melamar Bella. Hanya ingin melihat semangat hidup ibunya bangkit lagi. Namun sikap ketergesaannya malah beruntut panjang. Jika saja dia tidak melamar Bella mungkin masalahnya tidak akan sesulit ini.


***


Cinta segera masuk ke kamar Ardi ketika tahu pria itu sudah kembali dari tempat kerjanya.


"Akh ... ," teriak Ardi ketika melihat Cinta sudah ada di hadapannya. Dia baru saja mencopot kemeja kerjanya.


"Bisakah kau tidak masuk ke kamarku secara sembarangan," pekik kesal Ardi. Dia memakai kembali bajunya.


"Aku ingin segera berbicara padamu tentang masalah penting ini," ujar Cinta.


"Ya Tuhan Cinta kau itu wanita dewasa dan aku seorang pria. Dan kau itu majikanku apa yang akan mereka katakan jika tahu kau masuk ke kamarku," terang Ardi.


"Ini penting," ucap Cinta. Ardi memandangi mata Cinta yang terlihat cemas.


"Kau keluar dulu kita bicarakan masalah ini keluar rumah. Sembari makan. Aku sangat lapar Cinta tadi siang pacarmu itu memberiku begitu banyak pekerjaan hingga aku tidak bisa makan."


"Ardi!" seru Cinta dengan mata yang langsung merebak merah.


"Bukankah dia kekasihmu? Kau bahkan bermalam dirumahnya!" ucap Ardi.


"Kau jahat!" teriak Cinta lalu berlari keluar dari rumah khusus pelayan. Ardi mengejarnya dan menarik tangan Cinta lalu memeluknya.


Cinta menangis dalam dekapan Ardi.


"Maaf jika kalimatku malah menyakitimu." Cinta menggelengkan kepalanya dalam dekapan Ardi.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari Setiawan berjalan mendekati mereka.


"Ehem ... ." Deheman Setiawan mengagetkan mereka berdua. Cinta segera menghapus air matanya agar ayahnya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Sepertinya kalian harus kunikahkan secepatnya." Cinta membelalakkan mata dan membalikkan badan.


"Ayah!" protes Cinta dengan muka ditekuk.


"Dari pada ayah selalu melihat kalian berpelukan mending kalian langsung kunikahkan sekalian. Takutnya Cinta malah hamil duluan sebelum menikah," ledek Setiawan.


Deg! Cinta menelan salivanya dalam-dalam.


Dia langsung menundukkan pandangannya.


"Ardi aku tunggu kau dan keluargamu datang untuk melamar Cinta. Jika bisa secepatnya dalam minggu ini saja." Setiawan mengacak lembut rambut Cinta dan meninggalkan mereka berdiri termangu oleh pikiran masing-masing.


"Kau ganti bajumu dulu lalu kita bicarakan masalah ini di luar."


Cinta menganggukkan kepalanya lalu berjalan masuk kembali ke dalam rumah. Dia bersiap untuk pergi bersama Ardi. Setelah selesai bersiap Cinta turun ke bawah setelah mendapat pesan jika Ardi sedang menunggunya.


Cinta segera turun ke bawah melewati anak tangga. Dia tidak sadar jika dia sedang di perhatikan oleh seseorang.


Cinta menoleh dan terkejut melihat Cristian sedang duduk berhadapan dengan Bella. Pria itu menatapnya tajam dan dingin.


"Ardi menungguku di luar, maaf Kakak aku harus segera pergi," kata Cinta berlalu begitu saja takut jika Cristian segera mencegahnya atau melakukan sesuatu yang akan membuat curiga kakaknya.


Cristian mengeratkan giginya marah melihat Cinta mendatangi Ardi dan mereka keluar rumah dengan bergandengan tangan.


"Pasangan yang serasi bukan? Ayah tadi mengatakan pada ibu jika dalam waktu dekat ini Cinta akan dilamar oleh Ardi," kata Bella dengan wajah yang bahagia.


Cristian sendiri mengepalkan tangannya erat menahan marah. "Sebenarnya apa yang telah terjadi? Mengapa Cinta mau menikahi Ardi?"


Cristian memegangi dahinya yang terasa pening.


"Kau sakit?" tanya Cinta khawatir melihat muka merah Cristian.


"Aku sedikit pusing, sebaiknya aku pulang saja ke rumah," ujar Cristian lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Apa perlu kuantarkan?" tanya Bella cemas.

__ADS_1


"Tidak perlu," tolak Cristian memberikan kecupan ringan di pipi Bella dan berjalan ke luar rumah.


Riska sendiri memperhatikan mereka dari balik tembok ruangan. "Harus ada yang berkorban di sini. Dan aku tidak ingin melihat air mata di wajah Bella. Cukup aku saja yang pernah merasakannya. Dan Cinta merasakan apa yang kurasakan ketika suamiku diambil oleh ibunya. Walau ini kejam tapi inilah hidup, karma selalu akan berjalan nantinya. Dan karma ibunya kini diterima oleh anaknya."


Ardi memarkirkan kendaraannya di cafe kesukaan mereka. Ardi memesan makanan kesukaan mereka.


Cinta ingin lidah Cinta sudah gatal untuk menceritakan masalahnya namun Ardi menolak untuk mendengarkan sebelum mereka menghabiskan makanan ini bersama.


"Jika kau menceritakan masalahmu saat ini bisa dipastikan kita tidak jadi makan nantinya." Ardi memasukkan suwiran ayam goreng ke dalam mulutnya.


"Dan anakmu butuh asupan makanan bukan tangismu," imbuh Ardi lagi membuat Cinta membeku di tempatnya. Dia hampir lupa jika ada sosok lain yang bergantung hidup padanya dan harus dia jaga. Dia tidak boleh egois untuk larut dalam perasaan ini dan mengabaikannya.


Walau makanan itu terasa tidak enak karena hatinya yang sedang kacau namun dia mengikuti saran Ardi untuk menghabiskan. makanan itu, demi anak perkembangan janin dalam perutnya.


Makanan mereka telah habis dan Cinta memulai ceritanya. Sesekali terdengar isakan kecil dari mulutnya.


"Jadi kau bukan anak kandung dari nyonya Riska?" tanya Ardi terkejut.


Cinta menganggukkan kepalanya sembari mengusap sisa jejak tangisnya. Ardi tidak tahan jika melihat Cinta sedih. Hatinya ikut sakit dan perih.


"Aku hanyalah anak gelap dari ayahku, aku sendiri belum tahu siapa ibuku. Dan mengapa aku dilahirkan? Aku takut menanyakan masalah ini pada ayah," ucap Cinta terisak.


Ardi menghela nafasnya panjang.


"Kau yang sabar Cinta. Lalu bagaimana hubunganmu dengan Cristian, kau akan membawa kemana hubungan gelap yang telah kalian jalani ini?"


"Aku ... aku ... tidak bisa bersamanya lagi. Aku harus mengakhiri semuanya. Kakak begitu baik aku tidak bisa menyakitinya dan ibu telah berkorban banyak padaku, aku tidak bisa membuat hatinya terluka."


"Lalu apa yang mau kau lakukan?" tanya Ardi.


"Menikahlah denganku dan akui anak ini sebagai anakmu?" pinta Cinta.


"Kau gila Cristian tidak akan menerimanya." Ardi menyandarkan dirinya di kursi.


"Dia harus mau jika masih mau melihat aku dan anak ini ada!"


"Apa maksudmu?" tanya Ardi bingung.


***

__ADS_1


Semangat hampir down melihat jumlah pembaca yang masih minim banget. Tetap bertahan hingga akhir bulan. Jika belum ada kenaikan signifikan terpaksa aku tamatkan diakhir bulan. Sebenarnya Plot sudah kubuat hingga 100 episode lebih. Kita lihat nanti aja di akhir bulan. Semoga dapat rekomendasi dan promosi dari pihak NT agar ada kenaikan pembaca. Amiin


__ADS_2