
Malam harinya, Bella akhirnya pergi ke hotel tempat mereka menginap beberapa hari yang lalu. Dia mulai membuka pintu dan masuk kamar hotel yang sudah di hias dengan lilin dan bunga-bunga mawar merah yang bertabur di sepanjang jalan menuju ke tempat tidur.
"Indah, andai saja dia memang benar kekasih atau suamiku," batin Bella. Dia melihat di tempat tidur ada beberapa kotak bingkisan. Di atasnya ada secarik kertas bertuliskan.
Pakailah semua ini
David
Bella mulai membukanya satu persatu.
Kotak pertama berisi kalung berlian nan cantik. Kotak ke dua berisi parfum mahal dan berkelas. Dan kotak ketiga berisi lingerie berwarna merah menyala.
Bella membuka matanya lebar-lebar. Dia menghela nafas dalam-dalam. Kesal namun romantis. Haruskah dia menurutinya. Tidak ini salah. Tidak seharusnya dia tidur bersama pria status suami orang dan menjalin hubungan dengannya. Bella melempar lingerie itu ke tempat tidur dan duduk di pinggiran ranjang.
Handphone di tangannya tiba-tiba bergetar. Bella mulai melihat siapa yang memanggil.
"David ... ."
Panggilan itu berakhir ketika Bella memencet tombol hijau. Sebuah notifikasi pesan lalu terlihat di layar.
David : Mandilah dan pakai baju itu !!!
Sepertinya tanda seru tiga itu peringatan keras darinya. Pikir Bella.
Bella : Aku hanya ingin bertemu denganmu bukan tidur apalagi berbuat jauh lagi!
David : Kalau begitu pulanglah! Jika kau tidak ingin, toh aku tidak akan memaksamu.
Bella terdiam mulai menimang-nimang handphone di tangannya. Lama dia berfikir sebelum dia memutuskan untuk pergi dari ruangan ini.
Bella akhirnya keluar dari kamar itu dan berdiri di depan pintu untuk waktu yang lama. Hidupnya atau hidup orang banyak. Hatinya bimbang untuk memilih.
__ADS_1
Malam pukul Sebelas malam David masuk ke kamar yang dia pesan. Dia sendiri tidak yakin jika Bella ada di sana. Dengan langkah gontai dia mulai membuka kamar di dalam kamar President Suite Room Hotel. Untuk memastikan perasaannya
Dirinya terkejut tatkala melihat Bella tertidur pulas di tempat tidur yang penuh dengan kelopak bunga mawar. Cahaya lilin yang menerangi setiap sudut ruangan menjadikan suasana telihat lebih romantis dan indah. Bau harum bunga mawar menyeruak memasuki hidung David. Membuat libidonya naik seketika. Apalagi penampilan Bella yang membuat hasratnya semakin membumbung tinggi.
Dia lalu duduk di pinggiran tempat tidur dan mengecup kening Bella dalam. Wanita itu tetap saja tertidur pulas.
Dia lalu memandanginya. Satu jarinya dia gunakan untuk mengusap wajah lembut dan putih milik Bella.
Dia sadar dia telah tertarik dan jatuh cinta pada wanita itu dari pandangan pertama. Dan hatinya itu tidak salah untuk memilihnya. Jatuh Cinta di saat umurnya sudah tiga puluh lima tahun dan mempunyai seorang istri. Itu sangat tidak logis dan aneh, namun itulah hidupnya.
David membuka baju jas miliknya dan melepaskan dasinya. Dia lalu tidur di sebelah Bella dan memeluknya. Mengistirahatkan tubuhnya yang lelah dan ikut terlelap bersama pujaan hatinya.
Ini indah jika menjadikan Bella miliknya secara utuh dan sah. Batin David.
Bella sendiri mulai membuka matanya ketika tubuhnya merasa sesak. Dia terpana ketika melihat wajah David sudah berada di hadapannya. Sejenak dia terdiam tidak bergerak, terpana oleh keindahan yang Tuhaan ciptakan untuknya nikmati.
Bau harum dada David serasa menenangkannya. Niat hati ingin menjauhi pria itu Bella malah mendekatkan dirinya dan masuk lebih dalam ke dekapan pria itu. Menghirup aroma tubuh yang menenangkan dan hatinya mulai terasa hangat. Dia seolah terlindungi dalam dekapannya.
Gesekan lembut di kulit mereka membuat Bella menahan nafas. Pikiran gila mulai ada dan meracuni pikirannya. Kenangan malam indah mereka membuat dia menggigit bibirnya sendiri. Nafasnya mulai memburu dan itu disadari oleh David yang ikut terbangun tatkala
Pria itu mulai menggerakkan tangannya yang berada di pinggang Bella ke belakang punggung dan mengusapnya perlahan naik turun ke atas.
"Kau sudah bangun!" tanya Bella menengadahkan kepalanya melihat wajah David. Wajah khas orang bule itu yang mereka katakan.
Bukannya menjawab dengan kata-kata pria itu malah menggerakkan tangannya nakal ke seluruh tubuh Bella, membuat dia mendesis dan melenguh.
Semua terjadi begitu saja tanpa kata, hanya suara penuh kenikmatan yang mereka keluarkan. Dua-duanya saling menikmati satu sama lain. Melakukan berbagai posisi dan mulai saling mengisi dan terbuka. Bella pun sudah mulai membuang rasa malunya dan aktif bergerak menemukan apa yang disukai oleh David dan dia menyukai reaksi yang diberikan oleh pria terhadap sentuhan yang dilakukannya.
Percintaan mereka kini lebih cepat, lebih kuat dan lebih vulgar serta memberikan ide posisi yang akan lebih memuaskan pasangannya.
David terkulai lemas di atas punggung Bella dan mengangkat rambutnya dan menyeruak masuk ke dalam tengkuk wanita itu dan menghirup harum aromanya.
__ADS_1
Menyenangkan sekali mendengarkan erangan puas wanita itu dibawah bibirnya. Saat melihat ke arah jendela kamar balkon yang tidak tertutup dia sadar bahwa langit sudah tidak gelap lagi dan mulai bersinar terang.
Ini sudah pagi, benar awal pagi yang luar biasa dan melelahkan.
"Aku lapar," ucap Bella tiba-tiba.
"Aku akan memesankan makan pagi ke kamar," ucap David. David mulai memesan makanan melalui sambungan telephon ke resepsionis.
"Jam berapa kau pulang, kenapa tidak membangunkanku," tanya Bella sembari duduk bersandar di headboard.
"Jam sebelas malam. Aku tidak mengira kau masih berada di kamar ini," David mulai menarik tubuh Bella dan menciumi rambutnya.
"Karena aku butuh bantuanmu!" ucap Bella menatap David. David benci ketika menyadari Bella datang bukan karena merindukannya.
"Apa yang kau butuhkan! Kontrak kerjasama itukah?" tanya David.
"Ya, karena aku butuh banyak uang untuk menutup kerugian biaya produksi dalam beberapa bulan terakhir ini." Bella menegakkan duduknya sembari memegang selimut agar tidak lagi melorot.
"Yang kau butuhkan seorang investor untuk jangka waktu panjang."
"Ya, dan juga proyekmu itu," jawab Bella dengan mata penuh harap.
"Aku akan membantumu hanya saja jadilah istri keduaku sebagai jaminannya," jawab David.
Bulu mata tebal dan lentik milik Bella bergerak ketika matanya mulai melebar. Dia menelan salivanya dalam-dalam. Ini bayaran mahal untuknya. Dia akan menemui cibiran dari orang terdekat dan sanksi sosial dari masyarakat.
"Kau tidak ingin memastikan ke arah mana hubungan kita ini? Bukankah hal itu yang selalu wanita inginkan?" tanya David.
"Ini akan mudah kujawab jika kau itu pria single tapi kau itu pria beristri dan status wanita kedua itu sangat hina di mata masyarakat. Mereka akan terus mencemooh dan menghinaku status sebagai perebut suami orang itu akan terus melekat hingga aku mati.''
"Aku tahu itu!" jawab David.
__ADS_1
"Hanya saja aku juga tidak ingin membiarkanmu pergi bersama wanita lain. Dengan status pernikahan kita nanti aku telah mengikatmu jauh ke dalam hatiku! Dan pikiranku akan lebih tenang."
"Aku tidak bisa menjadi perebut suami orang!" jawab Bella. Dia teringat akan rasa sakit yang ibunya rasakan ketika ayah pergi bersama wanita lain.