Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Lupakanlah


__ADS_3

David menimang pil KB itu di tangannya. Dia tahu jika Bella berhak atas pilihan hidupnya. Akan tetapi, ini sangat menyakiti hati karena wanita itu tidak inginkan anak darinya.


Dia tahu mungkin Bella butuh kepastian tentang hubungan mereka yang belum bisa dia berikan untuk saat ini. David tahu perasaannya sendiri jika dia sangat mencintai Bella. Nemun, dia sendiri tidak yakin jika wanita itu mencintainya. Dia mungkin mau bersamanya hanya demi kontrak kerja itu, tetapi apakah setelah itu dia akan pergi meninggalkannya. Dia tidak bisa melepaskan Bella.


David lalu membuang Pil KB itu ke tempat sampah dan mulai membaca dan meneliti laporan pegawainya. Setelah lama membaca tidak ada kata-kata yang ada dalam laporan itu tersangkut di otaknya. Dia kesal lalu menutup laporan itu.


David mengambil handphonenya dan menemukan sebuah nama yang dibutuhkannya saat ini.


Dia mengetikkan sebuah pesan. Pesan yang akan merubah semuanya.


Bella terlihat keluar dari kamar itu. Penampilannya tampak lebih segar, itu karena dia baru saja mandi. Senyum manis terlukis di wajahnya senyuman lembut dan menghangatkan diri David. Dia menghela nafasnya dalam. Rasa takut jika wanita itu tiba-tiba pergi kembali menyergapnya.


"Aku sudah memesankanmu kopi," tunjuk David pada dua buah cangkir di atas meja sofa.


"Kau tahu yang kubutuhkan saat ini," ucap Bella mengambil kopi miliknya dengan tangan kiri dan kopi milik David dengan tangan kanan. Lalu memberikan kopi hitam itu pada suaminya. Dia sendiri meminum kopi creamer kesukaannya.


Bella menyesap kopinya sembari mengangkat alisnya ke atas. Rasanya segar dan hangat di perutnya yang kosong. Ya, sedari tadi dia belum makan apapun dan harus melayani pria itu.


"Pria itu sangat suka kopi hitam yang pahit, padahal kehidupan ini sudah pahit. Kenapa mereka tidak menambahkan banyak gula untuk menambah citarasanya," kata Bella.


"Mereka yang suka pahit bukan berarti mereka menyukai kepahitan dalam kehidupan. Kau lupa jika aku punya kau untuk memaniskan hidupku," jawab David membuat wajah Bella merona karena malu teringat perbuatan mereka tadi.


Sejenak mereka terdiam menikmati kopi di tangan.


"Jika aku selalu di sini, bisa dipastikan kau tidak akan mengerjakan pekerjaanmu," ujar Bella melihat tumpukan map yang menggunung di atas meja David.


"Aku akan menyelesaikan bagianku nanti, yang terpenting aku bisa melihatmu setiap hari." David meletakkan kopinya dan menatap wanita yang berdiri di sampingnya.


"Apa yang bisa kubantu agar pekerjaanmu menjadi lebih ringan?" tanya Bella.


"Tidak perlu duduklah di sofa saja. Bermain handphone atau menonton acara Tv," kata David menepuk pantat Bella keras membuat wanita itu memekik kaget.


"Aku akan kembali ke perusahaanku jika kau tidak memberikanku pekerjaan," ancam Bella.


"Baiklah kau menang," David lalu memilihkan sebuah map berisikan rencana pembangunan perluasan pabrik garment milik Bella.

__ADS_1


"Kau lihat rancangan ini dan pelajari jika ada masalah kau bisa mengatakannya padaku," kata David.


Mata Bella melebar tatkala melihat is di dalam map itu.


"Wah ... wah ... kau bekerja sangat cepat sekali, dalam waktu sekejap saja, rencana ini telah memiliki suatu rancangan bentuk gedung, alat2 dan semuanya lengkap," teriak Bella girang.


"Aku selalu memperkerjakan orang berkompeten di bidangnya."


Bella mencium pipi David cepat.


"Terima kasih banyak, kau memang Hero-ku," ujar Bella.


"Hanya itu?" tanya David.


"Kau telah mendapatkan semuanya apalagi?


"Dua malammu?" kata David.


Bella memutar bola matanya malas. David terkekeh melihat itu.


"Iyalah," jawab Bella lalu berjalan menuju sofa dan mulai mempelajari apa isi di dalam map itu.


"Ya, bawa masuk ke dalam," kata David, Bella yang mendengar hal itu melihat ke arah pintu. Pintu terbuka dan seorang pria sedang berjalan membawakan bekal makanan.


"Masuk," kata David. Pria itu baru melangkahkan kakinya masuk.


"Tuan, Nyonya membawakanmu makan siang," ucap pria itu memperlihatkan apa yang dibawanya.


"Kau taruh saja di meja itu, setelah itu kau boleh pergi. Katakan terima kasih," ucap David sopan.


Bella bisa melihat jika David selalu bersikap baik dan sopan pada siapapun. Dia tidak pernah terlihat marah atau memaki seseorang. Dia bukan seorang Direktur yang kejam dan bertangan dingin. Karakter yang sangat berbeda dengan Cristian. Mereka mempunyai aura yang berbeda. Karakter Cristian sangat kuat dan keras, sedangkan David lembut serta sopan.


Sopir itu meletakkan makanan di meja dan melirik serta tersenyum sopan pada Bella, tapi Bella melihat segurat wajah tidak suka dari pria itu walau hanya sekilas. Ini hanya perasaannya sendiri atau memang ada yang disembunyikan pria itu.


"Tuan kata Nyonya anda bisa menghubunginya nanti setelah memakan makanan ini. Ini masakan yang nyonya buat untuk anda," tambah pria itu.

__ADS_1


David terlihat mengernyitkan dahinya tapi dia langsung menganggukkan kepalanya.


"Iya, kau boleh pergi," kata David. Pria itu lantas berpamitan pergi dan keluar dari ruangan itu.


Bella sendiri memandang tidak senang pada bekal itu. Dia seperti melihat saingannya. Wajahnya yang tadi terlihat berseri-seri mulai tampak lesu. Bahunya terkulai menutup mal ditangannya. David bisa melihat semuanya.


Dia berdiri dari kursi kebesarannya dan berjalan mendekati Bella. Lalu dia duduk di dekat wanita itu.


"Kita lihat apa yang istriku bawa kali ini," ucap David. Dalam hatinya dia tidak yakin ini masakan Sofi. Selain karena kondisi wanita itu yang sedang lemah, wanita itu juga bukan wanita yang mau mengotori tangannya di meja dapur.


"Untuk apa kita membayar mahal pelayan jika kita harus mengerjakan semuanya sendiri," kata Sofi dulu.


David hanya ingin melihat reaksi Bella jika melihat perhatian dari istri pertamanya.


David mulai membuka bekal makanan itu.


"Wow ... panekuk bacon sapi, ini terlihat lezat aku sangat menyukainya. Dan salad buah, terlihat cocok untuk disantap bersamaan." Wajah Bella sudah terlihat biasa saja. David tahu jika wanita itu sedang menahan dirinya.


"Ini itu puding buah-buahan, bukankah sangat cantik," tunjuk David pada sebuah puding dengan transparant dengan hiasan buah di dalamnya.


David mengusap tangannya. Dan mulai mengambil sendok dan garpu mengambil makanan itu. Dia lalu menyendokkan makanan itu dan berniat menyuapi Bella yang terlihat asik dengan map di tangannya.


Bella lalu melihat dengan tatapan sinis.


"Ini enak lho, Sofi pandai dalam hal memasak!" kata David.


"Aku tidak mau memakannya," jawab Bella menutup map itu.


"Mengapa?" tanya David pura-pura bodoh.


"Apa kau ingin membandingkan ku dengannya?" ungkap Bella sengit. "Jangan membuat moodku turun drastis."


David lalu meletakkan makanan itu dan memeluk erat Bella.


"Aku bisa saja membandingkanmu dengan Cristian tetapi tidak pernah kulakukan. Aku juga tidak ingin menyebut namanya di depanmu. Aku berusaha menghargaimu, bisakah kau juga melakukan itu?"

__ADS_1


"Jangan pernah sebut nama pria lain di depanku karena aku hanya ingin namaku yang selalu kau sebut. Aku hanya ingin melihat reaksimu saja," kata David. Bella memukul kesal lengan David. Dia ingin menangis karena sepercik rasa bersalah telah merebut suami orang.


"Jika kau sedang bersamanya maka lupakanlah aku, jika kau sedang bersamaku lupakanlah dia," ucap Bella.


__ADS_2