
"David... bagimana keadaannya, di-dia tidak meninggalkanku 'kan?" tanya Bella pada semua orang yang ada di tempat itu.
Naura menangis berdiri bersandar di pinggiran tempat tidur Bella.
"Tidak jangan katakan dia telah pergi meninggalkan aku!" ucap Bella yang ketakutan melihat reaksi Naura yang hanya menangis tanpa memberi jawaban apapun. Rasa putus asa sudah merasuki relung hatinya. Bahunya terkulai lemas.
"Tenanglah, Bella. David masih hidup dia hanya belum melewati masa kritis setelah menjalani operasi pengambilan peluru dari perutnya. Kondisinya yang banyak kehilangan darah membuat keadaannya memburuk. Tapi Dokter mengatakan bahwa operasinya berjalan dengan baik."
Bella meraung, dia menangis lega kali ini. Walau David belum siuman dan masih kritis tapi setidaknya dia tahu David sedang berjuang untuknya.
"Terima kasih Bella jika bukan karena keberanianmu David mungkin telah tiada," ucap Naura memeluk tubuh Bella. Bella lalu melepaskan pelukannya.
"Dia terluka karena berusaha menyelamatkan aku!" ucap Bella mereka semua tidak tahu bagaimana David yang rela menjadi perisai bagi dirinya.
"Kau juga telah menyelamatkan jiwanya. Dokter telah bercerita bagaimana kau datang membawa tubuh David yang telah tidak sadarkan diri dan bagaimana kau coba membangunkannya ketika dia hampir tiada kemarin." Cerita Naura.
"Aku hanya melakukan tugasku sebagai istri." Naura menangkup wajah Bella.
"Dan kau melakukannya dengan baik. Aku sangat bangga memilikimu sebagai menantuku."
Melihat hal ini, membuat Riska terharu dan menyeka air mata yang tidak bisa ditahannya. Akhirnya Bella mendapatkan semua yang dia inginkan suami dan keluarga yang mencintainya.
__ADS_1
Bella menoleh, menatap wajah ibunya.
"Bu, aku ingin melihat suamiku!" pinta Dara memelas. Riska menganggukkan kepalanya dia lalu bergantian memeluk Bella dan mendekapnya dengan penuh kasih sayang.
"Ibu harap setelah ini kau akan hidup bahagia karena ibu tidak ingin melihat kau terluka lagi baik secara fisik maupun jiwa," kata Riska.
"Jika David bangun dan keadaannya membaik maka itu adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan padaku," ucap Bella.
Bella lalu di dudukan di atas kursi roda, mereka keluar dari ruang perawatan menuju ruang IGD tempat David di rawat.
Riska mendorong kursi Bella dan Naura memegang selang infusnya. Mereka lalu berjalan melalui koridor rumah sakit yang sepi.
"Mom bagaimana keadaan Cantik?" tanya Bella.
"Syukurlah, Mom," ucap Bella.
"Tetapi dia setiap saat menanyakan keadaanmu dan ayahnya, terutama dirimu. Jika dia mengingatmu maka dia akan menangis sepanjang waktu, takut jika penculik itu masih membawamu pergi jauh."
"Kalau begitu nanti kita akan menghubunginya lewat sambungan video agar dia tahu bahwa ibunya dalam keadaan baik-baik saja," saran Bella.
"Kau menyayangi Cantik melebihi ibu kandungnya, Bella dan Cantik juga sangat menyayangimu," puji Naura.
__ADS_1
"Aku tahu jika Cantik sangat menyayangiku da aku juga sangat menyayanginya. Dia seperti putri kandungku sendiri dan aku harap Mom jangan mengatakan lagi jika dia bukan putriku," jawab Bella.
Naura tersenyum, dia lalu mengusap lembut rambut Bella."Aku tidak akan mengatakannya lagi. Mulai sekarang kau adalah ibunya Cantik Bella. "
Akhirnya mereka melihat ruang IGD di ujung lorong. Setiawan dan Tuan Robby sedang duduk berdua di depan ruang IGD tempat David di rawat. Mereka berdua berdiri ketika melihat Bella dan para istri mereka datang.
"Kau sudah sadar, Bella," tanya Setiawan mendekat ke arah Bella dan memeluknya.
"Seperti yang ayah lihat keadaanku baik-baik saja," jawab Bella.
"Aku turut senang melihatnya Bella," ujar Tuan Robby mencium pipi Bella.
"Terimakasih, Papa."
Bella melihat ke arah pintu ruang rawat yang tertutup.
"Bisakah aku masuk ke dalam melihat keadaan suamiku?" Semua orang terdiam saling memandang.
"Tetapi jika kau melihat keadaannya ayah harap kau tidak terlalu terbawa perasaan yang menyebabkanmu pingsan lagi seperti di ruang tindakan!"
"Aku janji ayah akan menahan diriku!"
__ADS_1
Riska lalu memakaikan pakaian khusus untuk masuk ke ruang IGD pada Bella setelah itu dia mengiringnya masuk ke dalam ruangan itu.
Mata Bella merebak melihat tubuh suaminya berbaring lemah di tempat tidur rumah sakit. Wajahnya terlihat pucat garis-garis ketampanannya hilang.