
Dara membuka kala melihat Alehandro sedang sujud di sebuah sajadah kuning keemasan. Tingkah konyol yang biasa dia perlihatkan dan wajah menyebalkan itu, tiba-tiba sirna. Pria itu terlihat bercahaya dan berkali-kali lipat bertambah tampan. Dara bahkan tidak berkedip ketika memandanginya hingga pria itu menyelesaikan kewajibannya sebagai umat muslim.
Setelah berdoa pria itu menoleh dan tersenyum pada Dara.
"Kau tidak sholat," tanya Alehandro. Di beri pertanyaan seperti itu membuat Dara kelabakan. Entah sudah berapa tahun dia melupakan hal itu. Terakhir kali dia melakukan itu sewaktu masih berada di panti asuhan. Mungkin ada satu atau dua atau mungkin banyak kalimat dalam bacaan sholat yang dia lupa karena tidak pernah melakukannya.
Dara menarik bibirnya, canggung untuk tersenyum.
"Aku sudah lama tidak melakukannya. Aku hampir tidak mempercayainya lagi karena aku kecewa."
"Itu hak mu dan aku tidak akan memaksa karena aku bukan imammu," jawab Alehandro santai sembari melipat sajadahnya.
"Bangun dan buatkan aku kopi," perintah Alehandro.
"Aku juga bukan istrimu kenapa kau harus memerintahkan!" ucap Dara bangkit lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kaos Alehandro terlihat seksi dikenakan oleh wanita itu. Bagian atas kakinya yang langsing dan jenjang terekspose jelas.
Alehandro menahan nafas melihat hal itu. "Sabar ... semua pasti ada jalannya," batinnya.
"Ya Tuhan!" teriak Dara dari dalam kamar mandi. Alehandro langsung bangkit dan membuka pintu kamar mandi. Dara yang telah memakai handuk terkejut melihat Alehandro yang berada dalam kamar mandi.
"Kenapa kau masuk," kata Dara panik memegang ujung handuknya.
"Kau yang berteriak-teriak, ada apa?"
"Aku lupa mandi, padahal aku tidak bawa pakaian dan ... ." Dara menggigit bibirnya sambil meringis. "Kau tahu ... itu ... dalaman."
"Aku akan memesankannya ke petugas hotel," kata Alehandro.
__ADS_1
"Akan lama, haruskah aku memakai handuk ini terus." Alehandro lalu menatap ke arah tubuh Dara yang berdiri hanya tertutup oleh sebuah handuk besar berwarna putih. Segar dan menggiurkan membuat celananya sesak. "Cobaan apalagi ini Tuhan?"
"Kau bisa memakai bajuku terlebih dahulu," ujar Alehandro.
"Tanpa dalaman?"
"Mungkin celana boxerku bisa membantumu," tawar Alehandro.
Dara menghela nafas. "Baiklah."
Wajah Dara yang basah oleh air membuat gatal tangan Alehandro untuk mengusapnya, dia lalu mengepal tangannya keras.Aroma sabun mandi yang tajam membuat kepalanya bertambah pening.
"Sekarang keluarlah," usir Dara.
"Bagaimana jika aku tidak mau?" ujar Alehandro mendekat.
"Aku tahu kau pria baik, tidak akan memaksa wanita jika pasanganmu tidak menginginkannya."
"Maria sering mengatakan itu padaku," jawab Dara santai. Alehandro menaikkan kedua alisnya ke atas.
"Apalagi yang dia katakan padamu mengenaiku," tanya Alehandro maju membuat Dara mundur.
"Apa Maria berbohong padaku ya?" batin Dara ketakutan. Hingga dia terpojok di dinding kamar mandi.
Ibu jari Alehandro menyentuh bibir Dara lembut menelusurinya, membuat wanita membelalakkan mata. Lututnya seketika menjadi lemas.
"Bibirmu sangat ****, sudah berapa pria yang mengatakannya padamu?" tanya Alehandro.
__ADS_1
Dara terdiam jantungnya berdetak keras menunggu apa yang akan terjadi kemudian.
"Aku yakin semua pria yang melihatnya akan mengatakan hal itu," ucap Alehandro.
"Ya, itu memang benar, dari awal Kris bahkan sudah menggilai bentuk bibirku," batin Dara.
Alehandro lalu berdiri tegap lagi dan menarik bajunya lalu tersenyum.
"Maaf aku hilang kendali," katanya lalu keluar dari kamar mandi itu.
Dara memegang dadanya menghembuskan nafas kuat. "Huft!"
Dia lalu tersenyum sendiri dan berjalan ke depan cermin besar melihat pantulan dirinya di sana, memegang bibir yang baru disentuh Alehandro. Tersenyum panjang.
Pria itu bisa berbuat lebih tetapi dia memilih untuk menahan dirinya. Batin Dara.
Dara lalu keluar dari kamar mandi dan melihat pintu kamar yang sudah tertutup serta tidak ada Alehandro di sana. Wanita itu lalu melihat koper milik pria itu dan mulai membukanya mencari apa yang akan dipakainya sebelum baju pesanannya datang.
Hingga dia memakai bajunya anak-anak masih tertidur pulas. Dia lalu keluar dari kamar menuju ke arah dapur. Bau harum kopi yang baru diseduh menguar ke seluruh sudut ruangan. Di dapur itu Alehandro sedang membuat dua cangkir kopi panas yang masih mengepul.
"Sarapan akan dikirim lima belas menit lagi," ucapnya Dara menganggukkan kepala. Dia lalu mendekat ke arah Alehandro mengambil segelas kopi itu.
"Apa keputusanmu kali ini apakah kau akan ikut denganku ke Jakarta?" tanya Alehandro.
"Baiklah, tapi hanya satu Minggu saja setelah itu aku akan kembali kemari tetapi sebelum itu aku harus pulang ke toko untuk berpamitan dengan para pegawai," jawab Dara.
"Satu Minggu, hemmm. Tidak buruk tetapi aku yakin kau akan lebih lama tinggal di sana," jawab Alehandro sembari menyesap kopinya. Lalu meletakkannya di meja bar.
__ADS_1
"Darimana kau bisa menyimpulkan hal itu?"
Alehandro lalu meletakkan kedua tangannya di pinggang Dara. Menatapnya penuh keraguan lalu melihat ke arah bibir Dara. Cengkraman tangan itu terasa kuat seperti mengikatnya dengan tali sihir membaut Dara hanya terpaku menatapnya.