Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Ingin Pergi


__ADS_3

Sudah dua bulan ini Dara tinggal di rumah Kris pria itu tidak pernah berulah macam-macam dengannya juga tidak berusaha bersikap tidak baik padanya. Semua terasa menyenangkan hingga dia sendiri enggan untuk pergi dari rumah itu. Tetapi ini bukan kediamannya dan Kris bukan miliknya. Dara tahu diri akan hal itu. Dia akan bersikap layaknya seorang pelayan ketika keluarga Kris datang untuk mengunjungi pria itu.


Dara tidak mempermasalahkan hal itu karena pada kenyataannya dia hanya menumpang hidup pada Kris dan dia sendiri yang mengatakan bahwa dia mau tinggal di penthouse ini asalkan Kris mau membiarkannya bekerja di rumah ini. Kris setuju dengan syarat Dara mau menerima uang darinya sebagai pembayaran atas pekerjaan itu.


"Aku terlambat bangun tadi," ujar Kris sembari membawa tas serta dasi di tangannya.


Dia lalu meletakkannya di kursi dan mengambil cangkir kopi yang biasa Dara siapkan di meja bar dapur. Dara meletakkan piring berisi sandwich telor di atas meja.


Dia lalu mengambil dasi milik Kris dan menyelamatkannya di leher pria itu membuat Kris menghentikan kegiatannya dan melihat ke arah Dara.


Dara mulai menyimpulkan dasi itu tanpa menatap mata Kris walau pria itu melihat ke arah matanya.


"Sudah," kata Dara menarik sebuah senyuman yang terlihat terpaksa.


"Ada apa?" tanya Kris. Merasa ada yang berubah dari Dara. Biasanya setiap pagi wanita itu terdengar berdendang dengan riang di sudut dapurnya. Tetapi jauh di dalam mata Dara dia melihat ada kesedihan di sana yang membuat hatinya sakit.


"Tidak ada apa-apa," ucap Dara mengambil menarik Surai hitam rambutnya ke belakang. Lalu membalikkan tubuh hendak berjalan ke arah dapur. Dia terlihat enggan untuk melihat ke mata Kris.


Kris lalu menarik satu lengan Dara sehingga mendekat ke tubuhnya dan memegang lengan satu. Membuat wanita itu berhadapan dengannya.


"Ada apa?" tanya Kris.


"Tidak ada apa-apa," ucap Dara. Dia lalu menarik nafas panjang.


"Kris katamu kau akan terlambat pergi bekerja karena itu makanlah selagi sandwich itu masih hangat," kata Dara.


Kris membasahi bibirnya yang terasa kering sembari menengadahkan kepalanya ke atas.


Sikap Dara yang diam itu terasa mengganggu hatinya.


"Kalau ada masalah katakan saja padaku," ujar Kris menunduk.


"Tidak ada apa-apa sungguh semuanya baik-baik saja," kata Dara menengadahkan wajahnya membalas tatapan mata Kris.


Kris lalu melepaskan pegangannya di lengan Dara dengan berat hati. Dia lalu menarik kursi dan mulai duduk.

__ADS_1


"Mana sarapan untuk mu?" tanya Kris.


"Aku sudah meminum susu dan perutku masih terasa kenyang," ujar Dara. Berdiri di sebelah Kris.


"Aku akan makan sendiri," kata Kris.


"Sebelumnya kau pun terbiasa makan sendiri," ucap Dara.


Kris lalu melihat ke arahnya."Ada apa? Tidak biasanya kau seperti ini. Apa yang kau sembunyikan?"


"Aku mengatakan kebenarannya. Bukankah kau sudah biasa tinggal sendiri? Nanti setelah aku pergi pun kau juga harus makan sendiri lagi," kata Dara hati-hati.


Kris memejamkan matanya. Mengapa perkataan Dara tentang kepergiannya tidak ingin dia dengar? Hatinya merasa sakit.


Dia lalu meletakkan pisau dan garpu di tangannya kembali lagi ke meja.


"Apa kau berencana akan meninggalkanku?" tanya Kris.


Dara tertawa kecil. Dia lalu melihat ke arah Kris.


"Tidak, kau tidak bisa pergi dari sini," ucap Kris.


"Kenapa?" tanya Dara. "Kau akan menikah kurang dari satu bulan lagi! Dan sebaiknya aku pergi dari sini."


Rahang Kris mengetat, dia lalu menundukkan wajahnya dan menarik nafas panjang.


"Sebaiknya aku pergi bekerja, kita akan bicarakan masalah ini nanti malam," kata Kris bangkit dan mengambil tasnya tanpa mau melihat ke arah Dara.


"Aku sudah menemukan tempat yang baik untukku tinggal dan aku akan pindah ke sana secepatnya," ujar Dara menahan tangis, membuat langkah kaki Kris berhenti.


"Tunggu aku pulang baru kita akan membicarakan ini baik-baik." Pria itu lalu meninggalkannya sendiri tanpa melihat ke arah Dara. Tubuh Dara melemas, dia lalu bersandar pada meja dan memegang dadanya yang terasa sesak setelah melihat kepergian Kris.


"Jangan menangis Dara, kau bisa. Dia itu rembulan yang tidak bisa kau raih. Kau harus tahu diri," gumamnya sendiri sembari menyeka air matanya.


Dara lalu berjalan ke arah kamarnya. Langkahnya terhenti ketika melihat ruang santai di depan televisi. Setiap malam Kris akan memegang laptop menyelesaikan pekerjaannya dan dia akan menonton acara drama kesayangannya. Sesekali mereka bercanda dan tertawa bersama. Sosok Kris yang ketus dan serius terkadang lumer dengan candaan Dara.

__ADS_1


Dara terkadang bersandar di bahu Kris ketika melihat adegan drama yang menyedihkan.


Flash back.


"Untuk apa kau menangisi cerita yang tidak nyata itu?" tanya Kris sewaktu pertama kali melihat Dara menangis menonton sebuah serial televisi.


"Apa kau tidak bisa merasakan kesedihannya ketika si pria pergi meninggalkan wanita itu. Padahal mereka saling mencintai tetapi terhalang oleh restu orang tua," ucap Dara sembari menyeka air matanya.


"Mereka saja yang lebay yang menganggap cinta adalah segalanya padahal ada hal-hal lain yang bisa dilakukan untuk melupakan cinta itu. Misalnya memiliki kekasih yang lain," jawab Kris. Dara lalu menyubit lengan Kris yang keras.


"Memang kau!" kata Dara.


"Aku pernah jatuh cinta dan aku pernah merasakan kehilangan tetapi aku bisa mengatasinya dengan memiliki kekasih yang lain," jawab Kris santai.


"Itu namanya bukan cinta sejati. Jika cinta sejati ingin selalu memiliki, walau dipisahkan pun tidak ada yang sanggup menggantikannya," ujar Dara. Dia lalu menunjuk ke hari Kris. "Di sini hanya ada namanya dan tidak tergantikan, kau tahu kenapa?" tanya Dara.


Kris menggelengkan kepalanya menatap ke arah Dara.


"Karena pasanganmu adalah bagian dari dirimu, dia adalah tulang rusukmu, jadi kau akan merasa kehilangan ketika dia pergi," jawab Dara.


Kris hanya terdiam menatap Dara. Wanita itu lalu melihat kembali ke layar televisi.


"Dara aku ingin mencium bibirmu boleh?" tanya Kris.


Dara lalu memukulkan bantal ke lengannya keras.


"Kau minta saja ciuman itu ke calon istrimu Seila, jangan minta padaku," ujarnya sembari menggelengkan kepala.


"Sudah aku mau tidur saja takut kau jadi harimau yang kelaparan dan akan memangsamu," kata Dara beranjak pergi.


Flash back off


Semua rumah ini akan dia tinggalkan besok. Dia tidak bisa berlama-lama tinggal bersama Kris. Kakek Kris kemarin mendatanginya dan menawarkan sejumlah uang agar Dara pergi meninggalkan Kris dia kira Dara adalah wanita simpanan Kris.


Dara menolak dan mengatakan akan pergi dari rumah ini. Dia juga mengatakan dia hanya pelayan yang bertugas membersihkan rumah ini dan menyiapkan kebutuhan Kris. Tetapi pria itu tidak percaya, dia mengatakan Dara tidak lebih dari seorang ******. Jika memang dia adalah seorang pelayan maka dia harus pergi dari rumah ini dalam waktu tiga hari. Jika tidak, maka nasib Kris akan berada di ujung tanduk. Dia tidak akan diakui sebagai keturunan keluarga Danuraja.

__ADS_1


Dara tidak tahu bagaimana latar belakang keluarga Kris tetapi dia tidak ingin menjadi penghalang Kris untuk mencapai kebahagiaannya.


__ADS_2