Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Anak Sombong


__ADS_3

"Ibu ... ," panggil gadis kecil yang sedang berlari di pinggiran pantai pasir putih tanpa alas kaki. Rambutnya yang kemerahan akibat sering terpapar sinar matahari jatuh di punggungnya, berayun-ayun terkena angin kencang. Langkahnya terlihat ringan seperti tidak menapak bumi, loncat kesana kemari seraya memegang topi lebar di tangannya.


Sang ibu meletakkan kedua tangan di pinggangnya.


"Tidak keluar rumah sendiri Rose," ujar Dara.


"Mom ... i need privacy," ujar gadis kecil itu.


Mata Dara membelalak lebar. "Who taught you that?" Anaknya sering menonton video YouTube dan sering berhubungan dengan orang luar sehingga bukan hal sulit baginya untuk berbicara dengan bahasa Inggris disertai logat orang dewasa


"Call me Ibu not Mom, okey!"


"Mom dan Ibu sama saja dan semua temanku memanggil ibunya dengan sebutan Mom," ujar Rose.


"Rose, kita orang Indonesia bangga dengan panggilan asal negara kita sendiri," terang Dara memegang tangan anaknya dan membawanya kembali ke rumah mungil mereka yang terletak tidak jauh dari pantai.


"Banyak orang jahat yang berada di luar Sayang, kau masih sangat kecil tidak bisa bepergian sendirian."


"Bu, aku hanya ingin melihat sunset. Aku bosan berada di rumah melihat ibu mengurus jualan saja," rajuk Rose.


Dara lalu menggendong Dara dan mencium pipinya. "Maaf Sayang besok Ibu ada pesanan Snack untuk acara di sebuah hotel besar jadi ibu harus mengerjakannya mulai sekarang. Tetapi ibu janji besok ibu akan mengajakmu jalan-jalan jika acara itu sudah selesai."


"Janji Bu," kata Rose kecil. Dara menganggukkan kepalanya.


"Yeay," kata Rose.


"Tetapi Mom, aku tadi pergi ke pantai bersama dengan paman Ardi dan Tante Sonya, hanya saja mereka sedang berbicara dengan seseorang jadi aku bermain-main di pantai sendiri."


"Berbahaya bermain di pantai sendiri jangan ulangi lagi!"

__ADS_1


"Siap Bu," jawab Rose. Dara lalu menggelitik Rose.


Tidak terasa waktu telah berjalan secepat ini. Rose-nya kini telah tumbuh besar dan bisa menjawab pertanyaannya dan memberikan pertanyaan yang lain pula dan acap kali membuat Dara bingung untuk menjawabnya. Rose adalah anak yang cerdas dan sangat dewasa, dia selalu mengerti kesibukannya, tidak banyak merengek dan mengeluh.


"Sudah sepuluh adonan kue kita panggang apakah masih butuh membuat lagi, Bu," tanya seorang pegawai pada Dara.


"Sudah berapa kue yang dihasilkan?" tanya Dara.


"Mungkin lima ratusan," jawab pegawai Dara.


"Kalau begitu buat 10 adonan lagi, kita butuh seribu kue, ada yang buat tambahan selebihnya kita bisa pajang di etalase toko," kata Dara.


"Bu, abon ini sudah matang atau belum?" tanya pegawai yang lain.


"Men Sarti sudah biasa membuatnya tentu lebih mengerti, aku percaya dengan buatan Men Sarti," ucap Dara mengusap pundak wanita paruh baya itu.


Bagian depan rumahnya dia buat untuk toko roti dan Snack miliknya, sebagian belakang toko untuk dapur dan sebagian belakang untuk ruang istirahat dirinya dan para pegawai serta bagian atas untuk rumah.


Awalnya dia hanya membuat makanan kecil di depan rumah dibantu oleh Men Sarti, kemudian usaha itu berkembang cepat karena promosi yang gencar dia lakukan di media sosial. Lama-kelamaan usaha itu sudah maju dan bisa memiliki lima orang yang selalu membantunya. Mereka bahkan rela menginap jika ada pesanan dalam jumlah banyak. Dara pun memperlakukan mereka seperti keluarga sendiri sehingga mereka betah bekerja bersamanya.


Setelah memandikan Rose, Dara meneliti hasil pekerjaan anak buahnya sedangkan Rose ke toko.


Sebuah mobil sedan berwarna putih berhenti di depan toko Dara. Sepasang kaki kecil turun dari dalam mobil.


"Kau beli apa saja yang dia mau dan cepat masuk kembali ke mobil. Sebentar lagi kita akan sampai di hotel."


"Baik, Pak!"


"Ayo, Den!" ajak pria paruh baya itu menggandeng tangan kecil seorang anak lelaki yang berjalan dengan menegakkan kepalanya tinggi. Kaca mata hitam tersampir di hidungnya yang kecil dan tinggi. Rambut cokelat tersisir rapi ke belakang.

__ADS_1


Rose yang sedang duduk di kursi kasir memperhatikan tingkah laku anak itu.


"Aden mau yang mana?" tanya sopir itu.


"Aku mau kue yang cokelat, dan yang berbentuk kepala babi sepertinya sangat lezat, dan baunya wangi. Aku juga mau ini, ehm tetapi terlihat tidak bagus," anak itu mencium kue di plastik.


"Makanan apa ini!" teriak anak itu melemparkan satu kue ke lantai.


"Aden!" ucap sopir itu terkejut lalu memungut bungkusan kue lokal yang dibuang oleh majikannya.


"Eh ... kau tidak boleh membuang makanan, nanti berdosa. Kalau tidak mau jangan diambil, tidak usah mengejek baunya!" seru Rose jengkel.


Anak kecil itu menatap tajam ke arah Rose.


"Terserah aku mau membuangnya atau tidak, aku bisa membayarnya jika aku mau!" Rose langsung berdiri di atas kursi dan meletakkan tangannya di pinggang.


" Dasar sombong! Tidak so...," tangan Dara langsung membekap tangan putrinya. Rose meronta marah.


Wajah putih anak lelaki itu terlihat memerah. Dia mengepalkan tangannya keras.


"Aduh adek tampan mau beli apa?" tanya Dara ramah.


"Aku tidak suka makanan di sini semuanya. Kau bayar saja dan ambil untukmu!" teriak Kaisar lalu keluar dari toko itu dengan kesal.


Dara mengangkat dua alisnya ke atas.


"Maaf Bu, Aden sangat dimanja jadi suka berbuat seenaknya, jangan diambil hati."


Mang sopir itu lantas membayar semua makan itu dan membawanya ke dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2