
"Wah, ada artis datang," ujar seorang tamu. Mendengar hal itu wajah Maria menggelap dan memerah. Dia hendak mengusir wanita itu namun dia tidak ingin ada keributan di acara sakral syukuran kehamilannya.
"Hallo Maria, aku datang untuk mengucapkan selamat atas kehamilan mu. Aku turut bahagia mendengarnya," kata Natalia tulus. Dia mengulurkan hadiah itu pada Maria. Namun, Maria menerima tanpa melihat ke arahnya.
"Natalia, sebaiknya kau duduk di sana saja bersamaku," ajak Mom Lusi yang mengerti perasaan menantunya.
Natalia tersenyum canggung dia lalu mundur dan mendekati Mom Lusi. Alehandro memberi tempat pada Kakek Maria Putra Tanjung untuk duduk di salah satu kursi sedangkan anggota keluarga yang lain mulai mendekati Maria untuk mengucapkan selamat.
"Hallo, Maria, aku adalah pamanmu Anwar. Kakak dari Natalia. Senang sekali bertemu denganmu," kata salah seorang pria berparas tampan namun sudah berumur matang mungkin di pertengahan empat puluhan.
Maria membalas jabatan tangan itu.
"Dan ini Raya, istriku," ujar pria itu lagi memperkenalkan istrinya. Pria itu juga mengenalkan anak-anaknya yang lain yang berumur di bawah Maria.
Mood Maria turun seketika karena kedatangan keluarga dari ibunya tapi dia menahan diri agar tidak terlihat oleh khayalak ramai.
__ADS_1
Acara berlangsung dengan sangat baik. Tidak ada kegaduhan atau hal sejenisnya hingga akhir acara.
"Aku lelah, ingin pergi ke kamarku," bisik Maria pada Alehandro.
"Maria tidak baik menghindari," ucap Alehandro lirih. ''Kita makan bersama terlebih dahulu."
Maria menatap tajam Alehandro. Dia bisa menebak jika suaminya yang mengundang seluruh orang-orang dari keluarga kakeknya untuk datang.
"Hingga detik ini aku masih menahan diri maka jangan halangi aku untuk pergi sebelum kesabaranku mulai habis!" ucap Maria lirih namun penuh penekanan.
Maria lalu pergi meninggalkan mereka semua dengan kepala tegak.
Maria lalu masuk ke dalam kamar tidak sadar jika Natalia mengikutinya sedari tadi. Dia lalu menutup pintu tanpa menguncinya setelah itu pergi ke tempat tidur dan duduk di pinggir ranjangnya.
Tak habis pikir, mengapa Alehandro melakukan ini. Bukankah suaminya sudah tahu jika dia tidak ingin bertemu dengan keluarga dari pihak ibunya tetapi mengapa dia memaksa. Apa karena dia bersikap sedikit baik pada Kakeknya sehingga Alehandro berpikir jika dia akan menerima semua itu begitu saja?
__ADS_1
Tidak, pikiran mereka salah. Dia belum memaafkan semua orang itu. Hatinya terlalu sakit untuk melakukannya. Kakeknya yang menyebabkan keluarga ayahnya terpuruk dan nasib ayahnya buruk. Belum sampai itu saja, mereka membawa pergi ibunya dengan embel-embel kehidupan yang lebih baik.
Ini tidak adil jika semua kesalahan yang mereka lakukan selama berpuluh-puluh tahun hanya termaafkan tidak lebih dari satu bulan. Dia merasa mengkhianati sosok ayahnya jika dia menerima mereka.
Dia masih ingat bagaimana ayahnya masih menyimpan foto kebersamaan dengan ibunya sewaktu mereka masih di sekolah dulu hingga akhir hayatnya. Sebuah foto yang sangat dibencinya hingga dia sendiri yang membakar ketika ayahnya Dia tidak pernah mau melihat foto ibunya sedari dulu. Rasa bencinya sudah terpatri jauh ke dalam hati hingga tidak mungkin untuk membuatnya pulih.
"Maria?" panggil seorang wanita.
Maria menoleh melihat seorang wanita yang paling dibencinya masuk ke dalam kamar.
"Hei! Mengapa kau masuk ke dalam kamarku?" hardik Maria pada Natalia dengan mata yang menyalang.
"Maria kita perlu bicara," ucap Natalia.
"Untuk apa, apa kau juga akan seperti ayahmu yang datang untuk meminta maaf hanya karena tidak mempunyai ahli waris sah! Tuhan memang adil kau menelantarkan anakmu dan sekarang kau tidak mempunyai keturunan. Jika kau punya seorang anak aku yakin kau tidak akan sudi untuk menemuimu!" seru Maria.
__ADS_1
"Maria semua tidak seperti yang kau pikirkan?" Natalia berusaha untuk mendekati Maria dan menenangkannya tetapi Maria merenggangkan tangan ke depan Natalia.
"Tidak seperti yang aku pikirkan? Ha ... ha ... ha... kau mau melawak? Kau ingin mengatakan jika kau terpaksa melakukannya karena bla ... bla ... bla ... suatu cerita yang mau kau rekayasa karena kebenarannya hanya kau dan ayah yang tahu dan ayah sudah tiada sehingga kau bisa bebas berbohong begitu? Aku tidak akan pernah percaya kata-katamu. So, jangan berusaha membela dirimu karena disini aku yang jadi korban keegoisanmu!" ucap Maria penuh penekanan seraya menunjuk pada Natalia.