Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Ungkapkan Rasa di Hatimu


__ADS_3

"Apa kau sedang hamil?" tanya David membuat Bella bertambah kesal dan marah.


"Aku belum tahu," ucap Bella lirih sembari memegang dahinya dan menangis. David menarik tubuh Bella untuk memeluknya , namun Bella memberontak dan menolak. David tetap memeluknya erat.


"Aku membencimu ... ," ucap Bella ketika menyudahi perlawanannya. Tangisnya semakin menjadi di dada David.


"Aku mencintaimu, selalu ... ," bisik David.


"Kau bohong, semua pria memang seperti itu hanya memikirkan dirinya sendiri. Tidak peduli pada perasaan wanitanya," ungkap Bella.


"Aku peduli padamu, aku peduli pada perasaanmu. Tidakkah kau sadar, jika aku berusaha untuk selalu membuatmu bahagia?" ucap David.


Hal ini yang membuat Bella takut pada David. Takut cinta pria itu akan membuat dirinya jatuh ke dalam hatinya semakin dalam.


"Jika kau peduli maka akhiri ini. Aku tidak sanggup lagi jika terus-menerus bersamamu," ujar Bella lirih.


"Kenapa?" tanya David.


"Aku takut jika jatuh cinta padamu dan pada akhirnya perpisahan itu akan membuatku sakit terlalu dalam," batin Bella.


"Karena kau tambah mengikatku semakin erat setiap harinya. Membuatku sesak. Aku bahkan tidak punya kebebasan lagi untuk berhubungan dengan siapapun tanpa seijinmu," kata Bella mencari alasan.


"Aku bahkan berniat mengurungmu di dalam rumah terus agar hanya aku yang bisa melihatmu saja!" ujar David membuat Bella terhenyak dan menengadahkan kepalanya. Di saat yang sama satu kecupan kecil mampir ke bibirnya. Pria itu tidak puas lalu mulai menciumnya lagi.


Bella mendorong tubuh David. Dia ingin marah, kenapa pria ini malah bersikap manis padanya?


"Jangan menolakku!" bentak David menatap tajam Bella. Membuat wanita itu terdiam.


David lalu mencium kening Bella.


"Maaf aku tidak bermaksud membentakmu tadi," ucap pria itu. David mengangkat tubuh Bella dan berjalan ke tempat tidur. Meletakkannya dengan lembut di sana. Dia lalu ikut berbaring di sisinya. Semalam dia tidak menemui Bella. Kemarin siang, dia ada rapat di luar, setelah itu menemani Sofi periksa dan menemaninya di rumah.


Padahal dia sudah melihat Bella kemarin pagi tapi dia merasa sangat merindukannya di malam hari. Dia sangat tersiksa di malam hari karena tidak bisa merasakan aroma wanita itu sebelum dia tidur. Ingin menelfon Bella namun Sofi merengek ingin selalu ditemani olehnya, dia tidak berani untuk menyakiti Sofi di kondisi tubuhnya yang lemah. Pagi harinya dia mencari Bella. Namun wanita itu tidak juga dia temui. Hingga dia tahu ternyata istri kesayangannya sedang marah dan merajuk.


''Kenapa kau marah jika kau benar-benar hamil?" tanya David menatap Bella yang tidur terlentang sembari memainkan tangannya.


Bella menarik nafas dalam.

__ADS_1


"Bukankah tadi aku sudah katakan alasannya?"


"Tadi kau sedang emosi, aku ingin jawaban jujur darimu?" David memiringkan tubuhnya memrapikan anakan rambut yang menutupi wajah Bella.


Ini yang Bella benci, semakin pria itu memberikan perhatian lebih semakin dia tidak bisa mengeluarkan kemarahannya. Seharusnya David emosi saja sepertinya tadi. Mereka bertengkar dan bukankah itu akan lebih baik.


"Kita tidak punya hubungan yang berarti bukan? Semuanya akan berakhir tiga bulan dua Minggu lagi. Lalu untuk apa aku harus hamil anakmu?" kata Bella.


"Aku tidak ingin mengakhirinya, karena itu aku ingin kau hamil. Agar kau selalu terikat padaku?" jawab David terus terang.


"Apa kau benar-benar mencintaiku?" tanya Bella tidak percaya.


"Setiap hari kukatakan padamu? Apakah kau mengira jika itu hanya bualan belaka?"


"Aku kira kau tukang obral janji pada setiap wanita. Tentunya istrimu juga mendapat kata cintamu, jika tidak bagaimana dia bisa menikah denganmu dan hamil anakmu. Jika itu dilakukan tanpa landasan cinta itu tidak masuk akal. Kalian telah menikah selama lima tahun. Itu bukan waktu yang sebentar untuk menjalin suatu hubungan tanpa cinta. Apalah aku yang baru mengenalmu beberapa hari ini," ungkap Bella dengan suara yang terdengar getir.


"Tatap mataku dan katakan lagi yang baru kau ucapkan!" kata David memegang dagu Bella agar melihat ke arahnya.


"Aku tidak tahu?" ucap Bella menangis, dia meletakkan kepalanya di dada David. David menengadahkan wajahnya ke atas.


"Ya Tuhan Bella, bagaimana caranya agar aku bisa mengungkapkan rasa cintaku padamu dan kau mempercayainya. Tidakkah kau dengar detak jantungku yang selalu berdegub kencang bila bersamamu," kata David.


"Jangan hiraukan pendapat orang, mari kita mulai hidup kita yang baru bersama-sama. Jika kau memperbolehkannya, aku ingin melamarmu menjadikanmu istri sah ku pada ayahmu malam ini. Agar kau mengerti bahwa aku tidak sedang mempermainkanmu," ucap David.


"Jangan! Ayah tidak akan pernah menerima hubungan kita. Ibu juga masih marah padaku karena hubungan ini," kata Bella cepat.


"Kau tadi mempertanyakan kejelasan nasib anak yang mungkin sedang kau kandung dan kini kau melarangku untuk berterus terang pada ayahmu mengenai hubungan kita," desak David.


"Jika kau masih single, itu mungkin akan hal yang menyenangkan. Tapi statusmu pria beristri dan buruknya lagi istrimu sedang hamil. Aku bahkan tidak tega untuk menyakitinya mengingat anak dalam perutnya," terang Bella.


"Untuk itu kau berjanji akan meninggalkan diriku setelah kontrak kerja kita selesai," ucap David tersenyum lalu mencium kepala Bella lama.


Bella terdiam. Tangisnya kini telah mereda.


"Apabila aku masih single apakah kau akan menyatakan cintamu," bisik David di telinga Bella membuat tubuhnya meremang.


"Aku ... aku ... ," Bella bingung untuk menjawabnya. David memundurkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Bella.

__ADS_1


"Katakan Bella? Apakah karena statusku kau terus menahan hatimu?" tanya David lagi.


"Kau ingin aku menjawab apa?" tanya Bella lirih.


"Ungkapkan isi hatimu, tentang perasaanmu padaku, marahmu, bencimu, dan juga cintamu?"


"Aku benci statusmu yang sudah menikah dan aku marah pada diriku sendiri karena ... ," Bella kembali diam tidak mau meneruskan kata-katanya.


"Karena?"


"Karena aku selalu memikirkanmu jika kau sedang bersama istrimu," ungkap Bella.


"Apa yang kau pikirkan?"


"Apa kau melakukan hal yang sama terhadap istrimu, memperlakukannya sama sepertiku, itu sangat menyiksaku. Membayangkan kau tidur dengan wanita lain setelah kau tidur bersamaku. Berpikir apakah satu wanita saja tidak cukup untukmu hingga kau harus merasakan wanita berbeda setiap harinya?"


"Kau cemburu?"


"Aku hanya ... berpikir apakah kau tidak puas hanya dengan bersamaku?" ucap Bella lagi.


"Mungkin kau tidak akan percaya, tapi sudah berbulan-bulannya lamanya aku tidak menyentuh Sofi. Mungkin sudah lewat satu tahun ini, aku bahkan sudah lupa kapan itu?"


Bella menatap manik mata cokelat milik David melihat kebenaran dari kata-katanya.


"Aku dulu memang suka berganti wanita, aku akan bosan ketika sudah melakukannya berkali-kali dengan mereka. Karena aku melakukannya hanya sebagi kebutuhan saja."


"Kenapa tidak istrimu?" tanya Bella.


"Karena aku membayangkan pria lain pernah menyentuhnya dan terus terang aku jijik," jawab David berterus terang.


Bella terkejut mendengar hal itu.


"Apakah karena itu David selalu bergonta ganti wanita," batin Bella.


***


Tuh benerkan kalau aku g bilang vote, g ada yang vote. Cuma tiga orang saja dari hari Senin kemarin.

__ADS_1


Likenya yah jangan lupa


Komentarnya. wah sekarang tambah jadi 20 orang aku happy banget ada kemajuan.


__ADS_2