Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Mimpi Cantik.


__ADS_3

"Berita ini cepat sekali tersebar padahal para Polisi belum berani memberikan keterangan dan kesimpulan penyelidikan tapi para netizen sudah membuat suatu kesimpulan tersendiri."


Perkataan Bella diangguki oleh dua pelayannya.


"Itu juga yang saya katakan Nyonya mereka tida ada yang tahu masalah sebenarnya tapi menarik opini tersendiri." Satu pelayan yang muda menabok pantat temannya.


"Aww! Loro, Dek!"


"Megakse nek ngomong karo majikan kudu e sing sopan. Aja sok keminter. Dee nesu di kick sampeyan," kata temannya berbisik.


(Makanya kalau bicara sama majikan harus sopan. Jangan sok pintar. Dia marah nanti kamu di kick)


"Bolehkah saya meminjam hapenya untuk menelfon orang tuaku?" tanya Bella sopan.


Mulut dua pelayan itu terbuka lebar. Nyonya mereka sama sekali tidak tersinggung atau marah malah berbicara sopan dan baik. Dia memang cocok bersanding dengan Tuan David yang baik pula.


"Silahkan Nyonya anda meminjam seharian ini juga boleh," jawab pelayan itu lagi.


"Kau pakai saja handphone punyaku. Aku tidak akan melarangmu asal kau tidak merencakan kabur dariku!" kata David tiba-tiba.


Wajah Bella memerah karena ketahuan oleh David jika ingin meminjam handphone pelayan mereka.


"Aku hanya ingin menghubungi orang tuaku. Aku khawatir dengan keadaan mereka. Aku takut jika jantung ayah Kumat karena mendengar berita ini."

__ADS_1


"Kau bebas melakukan apapun di rumah ini aku tidak akan mengintimidasinya selama kau bersikap setia dan baik padaku!" David menangkup pipi Bella dengan mesra.


Membuat malu dua pelayan yang melihat kebersamaan mereka.


"Ojo ngeces, Tun," kata pelayan gemuk yang sudah menjanda.


"Ora mung seneng banget nek duwen bojo ganteng trus mesra koyo ngono," jawab Atun pelayan yang lebih muda bahkan masih terlalu muda untuk bekerja karena umurnya masih berkisar belasan tahun.


"Bojoku Yo ora koyo ngono," jawab Sri.


"Bunda ... Bunda ... Bunda jangan pergi!" terdengar teriakan Cantik dari lantai kamar atas. Bella segera menyerahkan hape pada pelayannya dan David segera naik ke atas untuk melihat keadaan Cantik.


Sesampainya di kamar Cantik David langsung membuka pintu kamar itu. Dia melihat Cantik menangis tersedu sembari meletakkan wajahnya di antara lututnya.


"Kau kenapa, Sayang! Mengapa menangis?" tanya David.


"Kenapa Bunda pergi, Yah? Aku sudah tidak takut pada Bunda kok. Aku sayang, Bunda,'' Isak Cantik.


David mendekap erat tubuh anaknya. Bella sendiri berdiri di pintu tidak mau merusak momen ayah dan anak.


"Memang Bunda bilang sesuatu pada Cantik?" tanya David lirih.


Dengan terengah-engah Cantik berbicara,"Bunda bilang 'maaf, Cantik harus jadi anak baik buat Ayah'. Lalu Bunda pergi ... aku mau ke rumah Bunda lihat Bunda. Aku rindu Bunda, Yah," ucap Cantik tersedu-sedu sembari menyeka air mata dengan lengannya.

__ADS_1


David menyeka air mata di pipi Cantik.


"Bunda sedang pergi nanti sore kita kerumahnya?" ucap David.


"Bunda pergi kemana, Yah?" tanya Cantik. David meneteskan air matanya dia tidak sanggup menyampaikan kabar ini pada anak yang belum berumur lima tahun ini. Dia baru berumur empat tahun lebih dan harus mengalami banyak masalah dalam hidupnya.


"Nanti Cantik lihat sendiri, Yah."


"Apa Bunda ke langit atas seperti yang Cantik lihat?" tanya Cantik polos.


"Tuhan terlalu mencintai Bundaku hingga dia ingin mengajaknya turut serta bersamanya."


"Kenapa Bunda nggak ajak Cantik. Apa Bunda tidak sayang pada Cantik? Cantik juga ingin ke langit bermain bersama bintang," David menengadah lalu melihat ke arah Bella meminta bantuannya. Air matanya sudah berada di pelupuk mata. Dia tidak tahan dengan kejadian ini.


Bella akhirnya mendekat untuk menenangkan Cantik.


"Bunda kan tadi bilang jika Cantik harus jadi anak baik buat Ayah itu artinya Bunda ingin agar Cantik tetap menemani Ayah di sini. Bukan Bunda tidak Sayang tapi Bunda Cantik tahu kalau Ayah sangat membutuhkan Cantik di sini," terang Bella.


Cantik melihat ke arah Ayahnya yang terlihat bersedih dia lalu berdiri dan memeluk leher ayahnya.


"Ayah jangan sedih Cantik tidak mau meninggalkan Ayah sendiri kok. Cantik sayang Ayah," kata Cantik sambil menangis.


"Ayah juga sayang Cantik. Jangan pernah katakan jika Cantik ingin ikut pergi bersama Bunda. Ayah takut!" kata David.

__ADS_1


"Cantik tidak akan tinggalkan Ayah," balas Cantik.


"Apa Cantik juga sayang Ibu?" tanya Bella tiba-tiba. Cantik lalu terdiam.


__ADS_2