Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Harapan yang Hilang


__ADS_3

Sekilas Kris melihat Dara bersama Ray dalam mobil yang sedang berjalan, dia lalu mulai menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Dara. Dia lalu menurunkan kaca mobilnya.


Ibu-ibu yang masih sedang berkerumun melihat ke arah Kris dan menanyai Kris. "Mau ke rumah siapa, Aa?"


Kris tersenyum, membuat ibu-ibu itu saling menyikut terpana pada wajah Kris yang tampan dan sangat oriental. Mirip dengan oppa-oppa Korea.


"Ke rumah Dara," jawab Kris sembari menunjuk rumah Dara dengan pandangan mata.


Dia tahu Dara sedang pergi keluar tetapi dia akan menunggu dia hingga pulang. Keinginan itu sudah bulat dalam hatinya.


"Sayang sekali Neng Daranya baru saja pergi keluar kota."


"Keluar kota?" tanya Kris terkejut.


"Ya, Neng Dara bersama Bu Savitri dan keponakannya rencananya akan pindah ke Jakarta," ujar Ibu yang lain.


"Pindah?!" Kris langsung memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Iya, saya juga terkejut mendengarnya tadi."


"Kemana? Maksudnya mereka pergi ke rumah sanak saudara, atau kalian tahu pindahnya ke Jakarta mana?"


"Neng Rita? Ini ada tamunya neng Dara," panggil tetangga Dara pada keponakan Savitri.


Seorang wanita muda yang dipanggil lalu mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


"Ada apa Bu?" tanya Rita.


"Leu aya nu naroskeun alamat imah Neng Dara di Jakarta," ujar ibu itu.


"Oh, kami juga kurang tahu soal itu Aa. Rencananya sangat mendadak. Bi Savitri tidak mengatakan apa-apa hanya menyerahkan rumahnya untuk di jaga oleh saya dan suami," ucap Rita.


"Savitri?" batin Kris. Itu adalah nama ibunya tetapi tidak mungkin itu adalah ibunya karena dia ada di Kuningan bukan di Suka Bumi. Mungkin itu hanya kebetulan saja.


"Enya, sanajan Savitri karék panggih jeung Dara, manéhna deukeut pisan. kawas anak jeung indungna," tambah ibu itu pada Rita.


"Ya, hubungan mereka sangat dekat saya saja heran," tanggap Rita.


Kris yang tidak mengerti bahasa Sunda hanya tersenyum. Dia lalu berpamitan dan meninggalkan tempat itu.


Dia kembali menyetir pulang kembali ke Jakarta. Impiannya kini hilang sudah. Kecewa, marah, putus asa dan kesal bercampur menjadi satu. Dia lalu memukul keras setir mobilnya.


Seribu pikiran negatif merasuk di otaknya. Harapannya kini telah musnah menjadi debu.


Sebuah panggilan lalu masuk ke handphonenya. Ternyata panggilan dari kakeknya. Kris lalu menerima panggilan itu melalui earphone.


"Kris kau gila pergi saat ada rapat besar dengan para petinggi perusahaan. Bagaimana tanggung jawabmu sebagai pimpinan perusahaan," seru Kakek Wasesa pada Kris.


"Maaf Kakek aku sedang ada urusan penting," ujar Kris memegang kepalanya yang tambah terasa pening.


"Aku tidak mau tahu alasanmu itu, yang ingin aku lihat adalah kesiapanmu dalam menjalankan perusahaan ini. Kau baru saja diangkat menjadi CEO satu bulan tetapi kau malah membuat ulah lalu bagaimana...."

__ADS_1


Brak!!!


Prang!!!


Pyak!!!


Mobil Kris di tabrak oleh sebuah truk yang hendak menyalip dari arah berlawanan dan dia tidak sempat untuk menyelamatkan diri.


"Dara," hanya kata itu yang sempat keluar dari bibirnya sebelum dia memejamkan matanya.


"Kris, kau kenapa?" tanya Kakeknya yang masih terdengar dari handphone Kris.


Kris sendiri sudah tidak sadarkan diri. Mobilnya telah ringsek dan hancur. Beberapa orang yang berada di tempat kejadian langsung berlari menyelamatkan Kris yang terjepit di dalam mobil.


Seseorang mengambil handphone milik Kris.


"Kris apa yang terjadi," ujar Wasesa dengan suara yang bergetar ketakutan.


"Maaf Pak pemilik mobil ini mengalami kecelakaaan," ucap pria itu.


"Cepat bantu, sepertinya dia masih hidup," teriak seseorang yang masih terdengar oleh Wasesa.


"Entahlah, dia terluka sangat parah sulit, untuk bertahan," timpal yang lain.


Wasesa hanya bisa mendengar teriakan-teriakan orang itu dari balik telephonnya.

__ADS_1


***


__ADS_2