
Cristian memandangi wajah pucat Cinta. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hatinya yang membuat pikirannya kacau. Kelopak mata Cinta bergetar, buliran bening keluar dari ujung matanya. Isak tangis lirih mulai terdengar.
Dia menangis dalam tidurnya. Sebenarnya apa yang dia rasakan, pikir Cristian. Rupanya bukan hanya dia saja yang terluka, cinta pun sama-sama merasa sakit seperti dirinya. Mungkin lebih sakit dari yang dia rasakan.
Cristian naik ke atas tempat tidur dan memeluk tubuh Cinta erat. Ajaibnya tangis Cinta mereda setelah di peluk oleh Cristian.
"Tidak ibu jangan lakukan itu padaku, hik ... hik ... maafkan aku,'' lirih Cinta di sela tidurnya.
Cristian meletakkan kepala Cinta di lengannya, dia menyatukan pipinya di pipi Cinta dan mendekapnya erat.
"Tenanglah ada aku," bisik Cristian. Mendengar suara Cristian membuat Cinta tersadar dan membuka matanya pelan. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali. Berfikir jika semua ini hanyalah mimpi indah tatkala melihat manik mata cokelat itu ada di hadapannya.
Dia takut berkedip karena mengira jika dia berkedip maka mimpi itu hilang seketika. Cristian menyentuh pucuk hidung Cinta membuat wanita itu tersadar jika ini bukan mimpi. Dia mulai teringat jika tadi sedang berbicara dengan ibu Cristian.
"Aku harus pergi," ucap Cinta tiba-tiba hendak melepaskan pelukan Cristian. Namun Cristian hanya diam menatapnya saja malah tambah mengeratkan pelukannya membuat Cinta susah bernafas.
"Cristian lepaskan aku!" ucap Cinta berusaha untuk melepaskan diri. Tapi Cristian malah meletakkan kepala Cinta di dadanya dan mengusapnya pelan.
"Bukankah seharusnya dia marah dan benci padaku mengapa dia malah bersikap seperti ini?" batin Cinta bingung.
Bau tubuh Cristian khas kayu-kayuan selalu bisa menghipnotis Cinta. Dia merasa nyaman dan mulai tenang. Biarkan dia sedikit egois untuk kali ini saja sebelum hari esok.
Cristian tidak mengatakan apa-apa. Karena dia hanya ingin menikmati momen ini. Dia kira hidupnya telah berakhir bersamaan dengan mayat janin yang dia kuburkan kemarin namun ternyata ini hanyalah sebuah sandiwara saja. Dia marah tapi lega.
Mereka sama-sama saling merindu namun enggan untuk berkata jujur.
"Aku ingin pulang, Cristian.Lepaskan aku!" cicit Cinta. "Jangan seperti ini!"
"Makanlah dulu," ucap Cristian melepaskan pelukannya. Namun anehnya Cinta malah merasa kehilangan.
"Aku ... ,'' Cinta terdiam tatkala melihat tatapan tajam Cristian.
Dia lalu menyapu sekeliling ruangan itu dengan kedua matanya. Mencari sebuah jam untuk waktu. Ini sudah sore atau belum. Ada acara pengajian nanti malam dan dia harus sudah ada di sana. Dia sangat menyesali tindakannya yang tidak mau menuruti perkataan Ardi agar tidak usah kemari.
Cristian turun dari tempat tidur dan mengambil makanan dan atas meja uang sudah disiapkan sejak tadi.
Dia lalu membawa baki berisi makanan dan minuman mendekat ke arah Cinta, menyerahkan baki berisi makanan itu.
"Aku harus pulang," kata Cinta menyibak selimutnya dan berniat untuk turun. Tangan Cristian yang panjang memegang pergelangan tangan Cinta. Dia menatap tajam pada Cinta membuat Cinta terdiam dan takut.
"Kau memang seharusnya tidak diperlakukan lembut baru mau menurut," ucap Cristian.
"Aku ... ,''
__ADS_1
"Makan atau aku akan mengikatmu di sini sepanjang hidupmu. Aku nanti akan memberikanmu pelajaran karena berani melakukan hal itu tempo hari!" seru Cristian dengan mimik menyeringai jahat.
Cinta menelan salivanya, dia tetap bersikeras untuk bangkit dan keluar dari tempat itu. Cristian meletakkan baki itu di atas nakas dan segera mengejar Cinta yang mulai berlari hingga sampai ke pintu, wanita itu berniat untuk membukanya namun tubuhnya diangkat oleh Cristian.
"Lepaskan aku!" teriak Cinta memberontak.
Cristian membawanya ke tempat tidur lalu meletakkannya di atas ranjang. Dia laku naik ke atas dan mengkungkung Cinta.
"Aku sedikit berbaik hati dengan memberikanmu makanan tetapi kau lebih suka diperlakukan kasar!" bentak Cristian.
"Makan atau kau kumakan!" ancam pria itu.Cinta yang melihat kemarahan dimata Cristian segera diam.
Melihat Cinta yang sudah tenang Cristian lalu turun dan menyerahkan lagi makanan itu.
"Habiskan!"
Melihat makanan itu ***** makan Cinta hilang seketika namun tatapan membunuh CrIstian membuatnya harus memakan itu. Dia benci nasi selama masa kehamilannya namun dia tahan jika sedang bersama keluarganya. Dia hanya makan sedikit saja. Dia lebih suka membuat salad atau makanan apapun tanpa ada unsur nasi.
Cinta menyingkirkan nasi dan hanya memakan sayurannya saja.
"Habiskan semuanya!" perintah Cristian.
"Aku tidak bisa," kata Cinta.
Cinta lalu mencoba menyendok nasi dengan rasa enek walau belum memakannya. Dan benar saja setelah nasi itu masuk ke perutnya dia mengeluarkan kembali nasi itu.
"Sudah kukatakan aku tidak bisa!" seru Cinta dengan air mata yang tiba-tiba saja mengalir.
Melihat itu Cristian menyingkirkannya dan menatap mata Cinta.
"Kau mau makan apa? Aku akan menyiapkannya," kata Cristian lembut.
"Aku hanya ingin makan salad buah," isak Cinta.
"Baiklah aku akan menyiapkannya untukmu," Cristian mulai memesan makanan pada para pelayan melalui sambungan telephon. Setelah itu dia menatap Cinta dalam. Wanita itu merasa lega dan mengusap air matanya. Hal ini saja membuat dia menangis. Tetapi semenjak hamil emosinya menjadi tidak labil dan mudah menangis.
"Kenapa kau tidak mau memakan nasi?" tanya Cristian.
"Aku tidak suka bau dan bentuknya membuat aku bergidik," jawab Cinta menunduk. Dia takut terhipnotis oleh tatapan pria itu. Tangan Cinta memainkan ujung seprai untuk mengatasi kegugupannya.
"Sejak kapan," tanya Cristian.
"Sejak aku ... ," hampir saja Cinta mengatakan kata hamil.
__ADS_1
Cristian memiringkan wajahnya menunggu jawaban Cinta. Cinta melirik sedikit dan tatapan mata mereka bertemu. Cinta buru-buru melihat ke arah bawah lagi.
Cristian mengangkat dagu Cinta dengan ujung jarinya. Memaksa Cinta untuk menatapnya.
"Sejak aku ha ... mil," lirih Cinta.
"Seharusnya itu sudah tidak kau alami karena kau ... ?" tanya Cristian menggantung. Wajah Cinta terlihat gugup. Dia bingung untuk memberi alasan apalagi. Jika dia mengatakan bahwa dia tidak hamil Cristian pasti akan marah. Tunggu mengapa dia tidak marah?
Seharusnya dia merasa sakit hati padanya.
Cinta memandang mata Cristian tanpa berkedip dia ingin membaca pikiran pria itu. Yang didapat malah dia sendiri sadar jika dia ingin mencium pria itu. Pikiran gila apa itu.
Perut Cinta berbunyi. Membuat wanita itu memerah karena malu. Cristian melepaskan jarinya di dagu Cinta.
"Kau minum saja susu itu!" perintah Cristian.
"Aku bisanya minum yang ada rasanya misalnya coklat atau rasa khusus untuk ... ," Cinta menghentikan lagi perkataannya.
"Wanita keras kepala," gumam Cristian yang kesal karena Cinta tidak mau mengakui jika dia masih hamil. Cinta masih bisa mendengarnya.
Ingin rasanya Cristian memaksa Cinta untuk bicara namun dia tidak tega membuat wanita itu tertekan. Dia teringat pesan Mike untuk berbuat baik pada wanita itu jika ingin anak didalam perut Cinta baik-baik saja.
Cristian kembali menghubungi pelayan untuk membuat susu cokelat.
"Itu membutuhkan waktu Tuan karena harus membeli di swalayan terlebih dahulu di rumah tidak ada susu khusus ibu hamil," jawab pelayan dari seberang telephon.
"Dan satu lagi apa merk yang disukai nona?''
Cristian melihat ke arah Cinta.
"Apa merk susu yang biasa kau konsumsi?" tanya Cristian.
"Pre-a-gen yang strawberry," jawab Cinta cepat. Namun dia menutup mulutnya sendiri, keceplosan.
***
Di larang sebut merk jadi aku buat salah ya!
Like...
Vote .
Coment...
__ADS_1