
Alehandro merasa lega ketika mendapat berita jika Dara sudah selamat dari Kris. Dia menyembunyikan hal ini dari Maria takut, jika wanita itu akan panik. Bagaimana pun Alehandro bisa merasakan kasih sayang Maria untuk sahabatnya itu.
Maria yang sedang menatap layar handphonenya tidak sadar meletakkan handphonenya ketika Alehandro mendekat.
Maria melihat wajah Alehandro yang serius. Dia langsung menegakkan tubuhnya dan menghadap pria itu.
"Ada apa?" tanya Maria.
"Kau seperti bisa mengerti pikiranku!" jawab Alehandro.
"Aku istrimu," cetus Maria. Alehandro lalu menarik tubuhnya mendekat.
"Maria," panggil Alehandro.
"Hmmmm."
"Kakekmu tadi menemuiku," kata Alehandro.
"Kakek?" tanya Maria. Kedua alisnya kedua alisnya di satukan.
"Ayah dari Natalia, ibumu!" kata Alehandro.
"Aku tidak mau mereka pernah mencoba membunuhku," cerita Maria.
"Siapa?" tanya Alehandro terkejut.
__ADS_1
"Aku tidak tahu hanya saja kata ayah mereka keluarga dari ibuku," jawab Maria. Maka dari itu aku selalu mencoba menyembunyikan diri.
"Kenapa mereka ingin membunuhmu?"
"Aku tidak tahu, yang jelas aku tidak ingin bertemu dengan orang yang berkaitan dengan wanita itu. Ibuku telah meninggal dua puluh tahun yang lalu!" seru Maria kesal.
Alehandro lalu terdiam melihat Maria yang telah naik emosinya. Sebaiknya dia tanyakan masalah ini pada Cristian.
"Kapan terakhir kali mereka menyerangmu?''
"Beberapa tahun yang lalu hingga aku harus dilarikan ke rumah sakit setelah itu Kak Cristian menjagaku ketat. Aku hanya boleh keluar dari rumah untuk kuliah saja walau terkadang aku mencuri waktu untuk bermain bersama teman-temanku," jawab Maria.
"Ya, kau dulu sangat nakal pergi ke bar di tengah malam jika pria lain yang menemukanmu mereka pasti tidak akan melepaskan mu semudah itu," ujar Alehandro. Maria menengadah melihat wajah Alehandro. Dia lalu memainkan jari-jarinya.
"Kau juga tidak melepaskan ku," gumam Maria sambil menggigit bibirnya.
"Gombal!" kata Maria menepuk pelan lengan Alehandro.
Pria itu lalu menarik tubuh Maria sehingga duduk di atas pangkuannya.
"Apa kau tidak teringat bagaimana kita bertemu. Bagaimana kau dengan berani tiba-tiba datang duduk diatas pangkuan lalu menciumku," cetus Alehandro.
Maria mengangkat alis dan menggigit bibirnya.
"Itu ... itu ... ," kata Maria enggan menceritakan perasaannya.
__ADS_1
"Itu kenapa? Katakan apa yang kau rasakan padaku waktu itu?"
"Itu hanya sebuah candaan semata," jawab Maria.
"Hanya sebatas itu, tidakkah kau mengingatnya?" tanya Alehandro. Maria mengatupkan dua bibirnya erat.
"Itu ... itu ... ciuman pertama yang terasa berbeda karena sebelum itu aku tidak pernah melakukan ciuman sedalam itu," kata Maria jujur.
"Memang sudah berapa pria yang menciummu?'' tanya Alehandro menegakkan punggungnya.
"Entah aku lupa," jawab Maria enggan untuk menjawab.
"Jadi kau punya banyak pria dalam hidupmu?" Apa yang pernah mereka lakukan padamu? Apakah mereka telah menyentuh ini dan ini," tunjuk Alehandro pada bagian krusial Maria.
"Mereka tidak sebrengsek dirimu," kata Maria.
"Jika pun aku bersama kekasihku, mereka hanya akan memelukku dan mengecup bibir hanya sebatas itu," jawab Maria tersinggung karena Alehandro seperti menganggapnya wanita gampangan. Dia lalu membuang wajah ke tempat lain dengan muka yang memerah karena marah.
Alehandro memegang dagu Maria dan menatapnya.
"Aku hanya cemburu jika membayangkan seseorang menyentuhmu, karena bagiku kau tercipta hanya untukku," ujarnya.
"Jika kau pun begitu aku pun cemburu ketika wanita lain menyentuhmu walau niatnya hanya untuk menyapa. Termasuk pada ibuku, dia menggoda suami anaknya sendiri, wanita apa itu?" kata Maria kesal.
"Dia tidak tahu jika aku adalah menantunya,"
__ADS_1
"Aku kok curiga jika kau dan ibuku sebelumnya pernah punya hubungan lebih dari sekedar teman," ujar Maria. Alehandro mengusap keringat di dahinya. Dia tersenyum canggung.