
"Ayah juga sayang Cantik. Jangan pernah katakan jika Cantik ingin ikut pergi bersama Bunda. Ayah takut!" kata David.
"Cantik tidak akan tinggalkan Ayah," balas Cantik.
"Apa Cantik juga sayang Ibu?" tanya Bella tiba-tiba. Cantik lalu terdiam.
Cantik berdiri dan beralih memeluk Bella. Yang duduk di sisi Cantik yang lain. Bella lalu meletakkannya dalam pangkuan.
"Cantik sayang Ibu tapi Cantik juga sayang Bunda," terengah-engah, "Ibu nggak marah kan?"
"Kalau Cantik sayang Bunda dan sayang Ibu Cantik nggak boleh nangis seperti ini. Ibu sedih bila lihat Cantik menangis seperti ini apalagi Bunda. Bunda sedang bermain bersama Tuhan dan bidadari di surga, dia sudah senang di sana tidak kesepian lagi karena banyak teman. Kalau Bunda Cantik lihat Cantik menangis dari atas langit nanti Bunda ikut menangis. Cantik tidak mau kan lihat Bunda bersedih?" terang Bella. Mata polos Cantik yang berembun melihat Bella dengan seksama dan mendengarkan setiap perkataan Bella.
Mulutnya mengatup keras dan dadanya naik turun menahan tangis.
"Bunda apa lebih suka bermain dengan bidadari dari pada dengan Cantik?" anak itu memiringkan kepalanya menunggu jawaban dari Bella.
"Cantik suka kan jika bermain bersama Ibu tapi bukan berarti Cantik tidak suka bersama bermain Bunda. Begitu pula Bunda Cantik dia senang bermain dengan Cantik hanya saja sekarang dia ... " (Bella sedikit berfikir bagaimana menerangkannya pada Cantik)
Mata Cantik menunggu jawaban dari Bella.
"Dia sedang ada tugas di langit yang mengharuskannya tinggal di sana. Jika dia rindu Cantik dia akan turun dan menemui Cantik seperti tadi," lanjut Bella.
"Kalau aku yang rindu?"
"Cantik bisa katakan pada langit bagaimana Cantik merindukan Bunda. Nanti langit akan menyampaikannya pada Bunda," terang Bella. Cantik tersenyum dalam tangisnya. Dia lalu mendekap pinggang Bella.
"Ibu temani aku saja di sini ya ... jangan seperti Bunda yang pergi ke langit meninggalkan Cantik. Jika Ibu pergi Cantik tidak akan punya teman bermain lagi," ucap anak itu.
__ADS_1
"Iya, Sayang, Ibu akan temani Cantik selama yang Cantik mau, tapi dengan satu syarat Cantik harus makan tepat waktu dan ini waktunya sarapan pagi. Yuk, kita turun ke bawah untuk sarapan. Ibu akan membersihkan wajahmu terlebih dahulu." Bella lalu berdiri menggendong Cantik dan membawanya ke kamar mandi.
"Kau adalah hal terindah yang pernah kutemui, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak ada di sini saat ini," gumam David bernafas lega sembari melihat ke arah Cantik dan Bella.
Acara pemakaman dilaksanakan pada sore harinya. Polisi memberitahu jika otopsi sudah selesai dilakukan dan keluarga tidak ingin memperlama proses pemakaman itu.
David berdiri di luar kediaman Sofi. Sebuah mobil sedan berlogo cincin empat yang menyatu masuk ke rumah Sofi. Semua orang memandang mobil itu ketika David mendekatinya. Para wartawan bersiap mendapatkan berita dari jepretan kamera karena tidak diperbolehkan mendekat dari jarak yang telah disediakan.
Bella keluar dengan menggendong Cantik. Dia sebetulnya enggan untuk datang tapi kata David ini demi Cantik. Dia pasti akan sangat membutuhkannya.
Mereka berdua memakai baju berwarna putih. Cantik melingkarkan tangannya di pundak Bella terlihat sekali jika hubungan keduanya sangat dekat secara kasap mata.
Jepretan lampu Blitz mengganggu Bella. David yang tahu segera memeluk bahunya dan membawa mereka masuk.
Sorotan mata penuh kebencian terlihat dari semua orang yang hadir di tempat itu. Seolah mereka menyalahkan Bella atas kematian Sofi. Tapi Bella berusaha menguatkan hatinya. Ada suaminya disisi yang akan selalu melindungi dan ada anak kecil yang butuh pelukannya.
"Ibu itu apa?" tanya Cantik pada peti mati di depan matanya. Membuat semua mata melihat ke arah mereka sembari menunggu jawaban Bella.
"Bunda yang tertidur pulas terbaring tidur di sana," jawab Bella berbisik.
"Kenapa tidak di tempat tidur saja, Bu?" tanya Cantik.
"Karena Bunda menyukai tempat tidur itu." Cantik mengangguk kepalanya. Sebagian wanita yang mendengar jawaban itu menangis mereka adalah anggota keluarga Sofi. Mereka membenci Bella tapi tidak tega jika harus membuat keributan di depan Cantik.
"Cantik," panggil salah satu adik sepupu Sofi. Dia mendekati Cantik dan menciumnya penuh sayang.
"Kenapa Tante menangis?" tanya Cantik lugu.
__ADS_1
"Tante rindu Cantik dan senang melihat Cantik di sini. Bolehkah Tante menggendongmu?" Wanita itu mengulurkan kedua tangannya. Selama tinggal bersama Sofi, Cantik juga mengenal wanita ini dan dekat dengannya.
"Tidak mau aku mau sama Ibu saja," jawab Cantik mengeratkan pelukannya pada Bella. Wanita itu yang tadi membenci Bella terkejut tidak biasanya Cantik menolak untuk dipeluknya. Berarti wanita itu telah mengambil hati Cantik. Benar-benar licik, mengambil cinta suami serta anaknya pantas saja jika Sofi bunuh diri. Dia pasti frustasi. Pikir wanita itu.
"Kau itu benar-benar serakah, kau pasti penyebab terbunuhnya Sofi," bisik wanita itu di telinga Bella.
Deg!
Bella menelan salivanya yang tercekat di tenggorokan. Ini sudah diduganya akan terjadi tapi hatinya masih belum siap untuk menghadapinya langsung. Bella menatap wanita itu.
"Ku kira arwahnya akan terus membayangi mu selalu karena dia tidak rela anak dan suaminya kau rebut," ucap wanita itu sebelum pergi meninggalkan keduanya.
Mata Bella telah memerah. Dadanya terasa panas, dia membasahi bibirnya yang terasa kering karena perasaan hatinya yang cemas dan khawatir akan yang terjadi nanti.
David yang sedang berbicara dengan kerabat yang lain tahu kegelisahan Bella dia lalu mendekat.
"Ada apa?" Bella menggelengkan kepalanya. Menahan semua perasaan hatinya.
"Kita akan membawanya ke tempat pemakaman sekarang," bisik David. "Aku tahu ini berat untukmu tapi lakukan ini demi Cantik hanya kau yang bisa menenangkannya. David mengelus lembut rambut Bella. Bella menarik dua sudut bibirnya dengan sangat terpaksa. David segera mendekati peti mati itu.
"Bu,kenapa tempat tidur Bunda diangkat?" tanya Cantik melihat peti mayat Sofi yang dibawa pergi keluar.
"Bunda akan dibawa ketempat peristirahatan terakhirnya." Cantik menganggukkan kepalanya.
"Bisa-bisanya kau tega membawa madumu di saat seperti ini!" ucap salah seorang pria gemuk. Bella mengenalnya sebagai salah satu pembesar partai politik.
"Paman, Cantik membutuhkannya saat ini aku harap kau mengerti. Kau tidak ingin Cantik merasa tertekan dan trauma melihat Bundanya nanti," jawab David yang masih terdengar oleh Bella.
__ADS_1
"Alasan saja! Kau memang pria yang tidak mempunyai hati. Aku yakin ini alasan Sofi mengakhiri hidupnya!" David enggan membalas hal itu dia lebih baik diam menghadapi hujatan semua orang.