
"Satu menit Cinta," ucap Cristian berdiri di dekat mobilnya dan melihat ke arah Cinta.
"Kau atau orangku, berikan keputusanmu?"
Beberapa pria terlihat mendekati rumah Ardi.
"Cristian aku membencimu!" seru Cinta dan berlari masuk ke rumah Ardi.
"Pergi kalian dari rumah ini," teriak Cinta ketika orang-orang itu hendak masuk ke rumah Ardi.
Ardi yang mendengar ada keributan di luar latar rumah nya segera keluar.
"Ada apa ini?" tanya Ardi.
"Cristian hendak membawa pergi Calesta," ujar Cinta. Ardi menatap Cinta dengan seksama. Dia hendak mengatakan sesuatu namun Cristian sudah berada di belakang orang-orangnya. Para pengawal bayarannya segara memberikannya jalan.
"Waktumu habis Cinta silahkan beri ucapan selamat tinggal pada Calesta karena aku tidak akan memberikan kau akses bertemu dengannya setelah ini," ucap Cristian.
"Kau tidak bisa lakukan ini!" teriak Cinta.
Cristian tidak mengindahkan kata-kata Cinta dia hendak masuk ke rumah namun dijegal oleh Ardi.
Cristian tersenyum sinis, dia tetap melangkah masuk. Ardi sendiri terdiam ketika seseorang mendekat dan menodongkan pistol ke perutnya. Cinta membuka mulutnya lebar. Dia lalu mengikuti kemana kaki Cristian melangkah.
Cristian tersenyum tatkala mendapati Calesta sedang duduk menonton televisi bersama Mbok Jum dan Pak Budi.
"Tu-Tuan Cristian," ucap Mbok Jun terkejut. Dia memandang Cinta yang terlihat panik.
"Mbah juga kenal Om Ganteng?" tanya Calesta.
Mbok Jum panik dia lalu menelan salivanya dalam-dalam.
"Calesta ingin bertemu papa Calesta,'' tanya Cristian pada Calesta.
__ADS_1
"Om kenal papa Calesta?"
Cristian menganggukkan kepalanya.
"Cristian jangan katakan itu?" ucap Cinta. Dia tidak ingin Calesta terluka nantinya jika tahu ayahnya sudah punya keluarga sendiri.
"Ayo ikut Om, nanti Om kenalkan ke papa Calesta dan keluarganya!" ajak Cristian. Calesta melihat ke arah ibunya.
"Kau tidak boleh membawanya, hiduplah tenang bersama keluargamu tapi jangan ganggu aku dan anakku!" seru Cinta.
"Kau lihat betapa marahnya Mommi-mu ketika Om akan mengajakmu menemui papamu. Dia ingin memisahkan ayah dan anak Calesta," ucap Cristian memprofokasi Calesta.
"Jangan kau racuni pikirannya Cristian!" ucap Cinta marah dan panik.
"Aku tidak meracuni pikirannya tapi itulah kenyataan sebenarnya. Kau takut jika Calesta tahu siapa papa-nya dan kau berusaha memisahkan kami selama ini, ibu macam apa kau ini. Tidak membiarkan anaknya bertemu ayahnya dan mengetahui siapa papanya! Kau sungguh tak punya hati dan sangat keterlaluan!" ucap Cristian.
Calesta hanya terdiam, otak kecilnya berusaha mencerna ucapan Cristian.
"Mom, memang siapa papa Calesta?" tanya Calesta. Cinta mendekatinya berupaya untuk memeluk Calesta.
"Mom jawab pertanyaan Calesta, siapa Papa Calesta," teriak Calesta.
Cristian menyembunyikan senyumnya melihat kemarahan Calesta. Cinta sendiri merasa frustasi atas keadaan ini. Dia takut jika Calesta akan marah dan membencinya jika dia tahu kenyataan yg sebenarnya, dia memang yang memisahkan mereka berdua.
"Huh," Cinta membuang nafas kasar. Dia memandang Cristian dengan marah dan benci. Lalu beralih menatap Calesta dengan lembut. Dia berniat memegang pundak Calesta. Namun anak itu menepisnya.
"Mom, aku marah padamu, katakan Mom!" teriak Calesta.
Kaki Cinta melemas dia lalu bersimpuh dan menunduk. Cristian bersandar santai di meja dengan bersedekap dan menyilangkan kakinya. Puas menyaksikan drama ini.
"Kalau Mommi tidak mau mengatakan siapa ayahku, aku akan ikut Om Ganteng bertemu papa," ancam Calesta.
"Jangan Calesta!" cegah Cinta. '' Okey, dia papa-mu," ucap Cinta menyerah kalah dalam permainan ini.
__ADS_1
Cristian tersenyum memandang Calesta.
"Om Ganteng papahku?" tanya Calesta tertegun. Dia lalu tersenyum dan memeluk Cristian.
Cristian menyambut pelukan Calesta.
"My doughter, my sweetheart, papa mencarimu kemana-mana selama ini, papa tidak sadar jika kau Putri papa sewaktu kita bertemu pertama kalinya. Betapa baiknya Tuhan mau mempertemukan kita lagi," ucap Cristian.
Calesta mengusap air matanya. "Aku suka jika Om adalah papahku. Om sangat tampan dan keren," ucap Calesta polos.
"Papa juga senang melihatmu sudah tumbuh besar dan cantik, Papa sangat menyayangimu. Kau panggil Om dengan sebutan papah saja,''
"Papa ... papa ... aku sangat merindukanmu," tangis Calesta memeluk Cristian erat.
"Papa juga sangat merindukanmu dan menginginkanmu," balas Cristian.
Dia lalu mengendurkan pelukannya. "Pesawat Papa akan lepas landas setengah jam lagi, kau mau ikut bersama Papa ke Jakarta?"
"Jakarta?"
"Ya, tempat di mana kau ingin pergi ke sana!" terang Cristian.
"Aku akan ikut papa,"
"Kau tidak boleh membawa pergi Calesta?" teriak Cinta mendekat ke arah mereka, ingin menarik Calesta namun dihalangi oleh Cristian.
"Dia ingin ikut bersamaku," jawab Cristian menggendong Calesta dan melangkahkan kakinya. Cinta mengikuti Cristian. Dia berusaha memegang bahu Cristian namun tangannya di tepis oleh Cristian.
"Jangan pernah sentuh aku!" bentak Cristian membuat Cinta terkejut.
Like
Vote
__ADS_1
Koment