Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Bersimpuh di Hadapanmu


__ADS_3

Maria meraih sebuah bantal yang berada dekat dengannya dan melemparkannya pada Alehandro.


"Jadi imam yang baik dulu!" seru Maria kesal dengan gombalan Ale.


Alehandro terdiam. Perkataan Maria seolah menampar sanubari hatinya. Dia memang bukan pria yang baik untuknya, dia bahkan tidak pernah menjalankan ibadah sesuai agamanya.


"Mau kah kau mengajariku bagaimana cara menjadi imam yang baik?" tanya Ale terdengar tulus.


Maria hanya terdiam, tangannya memainkan ujung kain mukena.


"Maria?"


"Jangan meminta hal yang tidak bisa kulakukan karena aku akan menolaknya."


Adzan maghrib mulai berkumandang. Maria kembali menatap sajadah nya dan memulai sholat. Alehandro hanya bisa menatapnya sembari duduk. Dia bahkan sungkan untuk membuka hapenya sedari tadi. Tubuhnya terpaku menatap keindahan di hadapannya. Baginya Maria terlihat indah ketika memakai mukena itu. Alangkah lebih elok jika dia ada di depan dan menjadi imamnya. Apakah dia pantas melakukan itu sedangkan tubuhnya penuh maksiat dan dosa. Hanya bacaan basmalah saja yang dia masih dia ingat.


Dia mengusap wajahnya, kini dia merasa kecil. Kebanggaan akan jati dirinya yang kaya, tampan dan berkuasa menguap ketika melihat Maria bersujud.


Dia ikut menunduk dan memejamkan matanya.


"Tuhan maafkanlah aku, ampunilah semua dosaku, berilah aku jalan agar aku bisa melangkah ke arahmu dengan baik. Tuhan terimakasih karena telah memberikan dia dalam diriku dan jangan kau rengut dia dariku karena aku berjanji akan menjaganya dalam hidupku," batin Alejandro.


"Kau lapar?" tanya Alejandro setelah Maria terlihat telah menyelesaikan sholatnya. Dia hanya terdiam mengambil sebuah buku dari dalam tasnya. Bukan itu adalah kitab suci yang kecil Al Qur'an. Dia terlalu baik untuk dimilikinya.


Maria lalu membaca Ayat demi ayat dengan suara lirih tapi itu menggugah hati dan jiwa Alehandro. Tanpa sadar dia menangis.


Maria yang sedang asik membaca Ayat demi ayat yang tertulis dalam kitab suci terkejut karena mendengar sebuah isakan. Dia menoleh dan melihat Alehandro bersandar di tembok dengan memejamkan matanya.


Dia menutup kitab Al-Quran dan meletakkannya ke atas lemari plastik dia lalu mendekati Alehandro. Menyentuhnya sehingga tubuh Alehandro tersentak, terkejut.


"Kau kenapa?" tanya Maria. Baru pernah dia melihat seorang pria menangis kecuali Cristian dan Paman Erick ketika tante Aura jatuh sakit dahulu. Akan tetapi Alehandro tidak mengalami hal buruk apapun.

__ADS_1


Alejandro membuka matanya dan menangkup wajah Maria.


"Mengapa Tuhan mengirimkan bidadari sepertimu untuk bersanding denganku!" Alehandro menatapnya dengan penuh ketulusan, "Kau benar, seharusnya ada imam yang baik untuk bersanding denganmu dan yang pasti itu bukan aku. Karena aku terlalu buruk untukmu. Jiwaku terlalu kotor untuk mendapatkan cintamu yang murni dan terlalu banyak sentuhan dosa yang kulakukan selama ini yang akan menghancurkan cahaya dalam dirimu. Tidak Maria aku sama sekali tidak pantas untukmu!"


"Tadi aku datang dengan keangkuhan ku yang menganggap semua wanita akan bisa bertekuk lutut di hadapanku dan aku pikir kau pun akan berbuat sama dengan para wanita itu. Tapi kini tidak, kini aku bersimpuh di hadapanmu, wanita paling baik yang kutemui seumur hidupku,aku mengagumimu dengan seluruh jiwaku." Alehandro bersimpuh di hadapan Maria membuat wanita itu terdiam karena bingung harus berbuat apa. Ini semua terlalu mengejutkan untuk dirinya. Alehandro kembali duduk.


"Kau bisa melakukan apapun yang kau mau, bahkan menggugat cerai diriku. Aku akan memberikan sebagian hartaku untukmu agar kau tidak perlu hidup kekurangan lagi." Maria membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu tetapi Alehandro kembali mengatakan sesuatu. Wajahnya terlihat penuh penyesalan dan keputus asaan.


"Selamat tinggal Maria. Semoga kau mendapatkan seorang imam yang baik yang akan mencintaimu dengan tulus!" ucap Alehandro lalu bangkit meninggalkan Maria sendiri yang mencoba mencerna setiap kata-kata Alehandro.


Alehandro perlahan pergi meninggalkan kost Maria. Kenapa dia merasa ada yang hilang. Seharusnya dia senang dengan kepergian pria itu.


Dara yang mendengar ada suara di luar kamar segera membuka pintu kamarnya dan melihat Maria sedang berdiri terpaku. Dia lalu melihat ke arah mata Maria tertuju. Alehandro nampak setengah berlari meninggalkan tempat itu.


"Apa kalian bertengkar?"


Maria menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba dia menangis. Dara yang melihat langsung merangkulnya dan membawa sahabatnya kembali ke kamar.


Dia menenangkan Maria terlebih dahulu. Lalu mereka berbaring di kasur Maria yang sempit.


"Aku tidak tahu?" jawab Maria serak. Dia terguncang ketika mendengar kata perceraian dari Alehandro.


"Lalu mengapa kalian seperti terlihat bertengkar?"


"Aku hanya sholat setelah itu dia mengatakan jika dia ingin aku memakai hijab agar hanya dia yang bisa melihat kecantikanku, aku menolak dan mengatakan jika dia seharusnya menjadi imam yang baik terlebih dahulu. Dia terdiam, tidak menjawab apapun, lalu aku sholat maghrib dan mengaji tahu-tahu... ." Maria tidak sanggup meneruskan kata-kata nya. Dia menangis sesengukkan.


Maria mengambil tissue untuk Maria. Maria slalu mengatakan semua yang Alehandro katakan kepada Dara.


"Kau tahu, dia merasa rendah melihatmu. Kau tidak akan menemukan pria yang akan memujamu seperti dirinya lagi. Dia memang buruk tetapi aku yakin dia mau berubah!" kata Dara ikut menangis.


"Apa kau yakin?"

__ADS_1


"Aku sangat yakin dia akan menjadi suami yang baik untukmu. Maria aku juga tahu jika jauh di dalam hatimu kau menyukai dirinya," kata Dara.


"Aku hanya... kau tahu apa itu," kata Maria.


"Aku tahu kau hanya takut dilukai, karena kau merasa sendiri dan kau tahu kau itu rapuh butuh tempat bersandar yang kokoh lalu kau takut ketika kau sudah menyerahkan diri padanya, dia akan berkhianat padamu!"


"Kau selalu tahu isi hatiku!" kata Maria memeluk Dara. "Kita ini sebenarnya adalah saudara kembar tetapi Tuhan lupa dan misahkan kita dalam rahim yang berbeda," gurau Dara. Maria memukul lengan Dara pelan dan gemas.


"Sebaiknya kau menemuinya besok dan mengatakan isi hatimu Maria!" lanjut Dara.


"Aku tidak tahu dan aku terlalu malu serta takut, " ucap Maria.


"Singkirkan ketakutanmu, ini kesempatan terakhirmu jika tidak hubungan kalian akan berakhir tanpa kalian pernah memulainya. Apa salahnya mencoba Maria, beri kesempatan padanya." Maria terdiam, mengingat semua perkataan Alejandro tadi.


"Aku akan menemuinya besok," ungkap Maria menentukan sikap. Dara lalu tersenyum mendengarnya dia ikut bahagia melihat sahabatnya bahagia.


"Kau kenal Krish asisten Alehandro?" kata Dara ketika Maria telah kembali tenang.


"Aku tadi melihatnya. Bukankah dia juga tampan?''


" Seperti Hyun Bin," kata Maria.


"Tepat seperti yang kupikirkan!"


"Kau suka padanya?" tebak Maria


"Hanya menaksir tidak berarti cinta. Lagi pula siapa aku berani jatuh cinta pada orang seperti dirinya. Dia terlalu tinggi untukku."


***


Like.

__ADS_1


Komentar


vote


__ADS_2