
"Apa engkau punya tempat lain yang kau sukai selain ruko itu?" tanya Kris.
Wajah Dara masih ditekuk. Tangannya bersedekap di perut, menatap ke depan enggan untuk melihat wajah tampan seperti aktor Korea.
Kris menghembuskan nafas keras. Dia lalu membelokkan mobilnya ke arah lain bukan arah apartemennya.
"Kita mau kemana?" tanya Dara yang hapal jalanan ibukota.
"Aku ada pertemuan dengan klien satu jam lagi. Jika aku harus memutar arah untuk mengantarmu pulang maka aku akan terlambat datang."
"Tapi aku hanya memakai pakaian ini," kata Dara. "Aku akan menunggu di mobil saja."
Kris hanya terdiam. Dia menjalankan mobil terus hingga mereka sampai di sebuah hotel berbintang lima.
Kris lalu turun mengambil tas kerjanya, menutup mobil, berjalan memutari mobil lalu membuka pintu Dara.
"Ayo ikut aku," kata Kris.
"Aku menunggu di sini saja," ucap Dara. Kris menatap tajam pada Dara. Akhirnya Dara membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Dia menarik kaosnya yang pas pinggang agar tidak naik ke atas.
"Kris, aku di dalam saja. Aku tidak pernah masuk ke tempat seperti ini. Ini tidak cocok untukku," rajuk Dara.
"Karena itu aku ingin kau tahu bagaimana rasanya makan ditempat mewah, anggap itu sebagai sodekah dariku," katanya sarkas.
"Kata-katamu itu selalu menyakitkan," cetus Dara.
"Inilah aku, aku tidak pernah mau bermain peran sok baik padahal hatiku seperti iblis."
"Mana ada iblis bersedekah," ujar Dara.
"Aku!" kata Kris tersenyum. Sebuah senyuman tulus yang membuat Dara terkesiap. Akan tetapi dia sadar jika dia tidak boleh terpesona pada ketampanan pria itu. Sekali lagi dia hanya seorang punguk merindukan bulan.
Kris lalu berjalan terlebih dahulu namun Dara masih terdiam di tempat. Mengetahui hal itu lantas Kris berbalik dan menarik tangan Dara untuk masuk ke dalam hotel.
Dara merasa semua orang menatap ke arahnya. Dia lantas menunduk merasa rendah diri.
__ADS_1
"Berjalanlah dengan kepala tegap, jika tidak orang tidak akan menghargaimu. Kau tahu kenapa? Karena mereka memandangmu berada di bawah mereka."
Dara lalu berjalan dengan menegakkan kepalanya tetapi tangannya terasa dingin dan berkeringat karena takut.
Kris lalu menariknya pelan agar mereka berjalan sejajar. "Tidak ada yang akan membunuhmu jadi kau jangan takut."
Dara tersenyum canggung.
"Aku takut jika Satpam itu akan mengusirku," kata Dara jujur. Kris tersenyum geli.
Mereka lalu masuk ke sebuah restauran mewah. Seorang mendekat ke arah Kris.
"Reservasi atas nama Alehandro Cortez, saya asisten yang menggantikannya," ucap Kris. Mereka lalu diantar hingga memasuki sebuah ruang khusus VIP.
Ruangan itu berisi satu meja panjang dengan kursi sofa tebal yang mengelilingi meja.
"Anda akan memesan makan atau minum apa Tuan?" tanya pelayan itu sopan menyerahkan buku menu makanan.
"Aku ingin segelas wine saja sembari menunggu klienku datang," jawab Kris. Dia lalu melihat Dara yang membolak-balik menu makanan. Wanita itu melihat Kris lalu dia mendekat dan meletakkan satu tangannya di bahu Kris, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke telinga Kris.
"Aku pesan apa yang dia pesan saja," ujar Dara sembari tersenyum kaku pada pelayan. Pelayan itu lalu pergi keluar ruang private.
Kris menaikkan kedua alisnya ke atas. Dia tertawa lalu menggelengkan kepalanya setelah pelayan itu pergi.
"Kau yakin dengan yang kau pesan?"
"Memang kau pesan apa?" kata Dara yang tidak mendengar pesanan Kris karena terlalu fokus pada tulisan di menu.
"Dara kau itu terlalu polos, itu yang menyebabkan aku tidak tega membiarkanmu tinggal di ruko itu sendirian," batin Kris.
Tidak lama kemudian pelayan itu datang bersama klien Kris. Mereka lalu berkenalan dan duduk.
Dara melihat minuman itu. Warnanya merah kehitaman. Dara meletakkan bibirnya di gelas itu menyesapnya pelan untuk merasakan rasa wine itu.Teksturnya agak encer dan tidak sepat. Mengandung rasa asam seperti rasberry atau tart Cherry dan agak sedikit pahit. Setelah itu dia baru melepaskan bibirnya dari gelas. Dia sensasi hangat di tenggorokannya. Dia sedikit menyukainya. Dia meminumnya lagi tetapi menunggu jeda agar tidak terlihat kampungan.
Cara Dara menikmati minuman itu menjadi perhatian tersendiri bagi Kris. Melihat bagaimana cara bibir **** itu menyentuh gelas.
__ADS_1
Mereka lalu makan sembari membicarakan pekerjaan. Dara yang di beri daging steak bingung bagaimana cara memakannya. Dia pernah melihat itu di televisi dan dia tidak mau menjadi tokoh wanita yang terlihat bodoh karena tidak tahu bagaimana cara memakannya.
Dia lalu melirik pada Kris dan menarik bajunya. Kris lalu melihat ke arahnya. Wajah Dara terlihat memelas, Kris mencondongkan tubuhnya.
"Aku tidak bisa cara memakannya," bisik Dara sangat lirih.
Kris lalu memotong-motong daging di piringnya dan menyerahkannya pada Dara sedangkan piring Dara diambil untuknya.
"Kalian terlihat sangat romantis," kata klien Kris. Dara melirik ke arah Kris. Kris hanya tersenyum tidak memberikan jawaban apapun.
Dara lalu meminta segelas wine lagi karena itu terasa cocok dengan makanannya. Kris hanya bisa diam tidak bisa menolaknya karena tidak ingin terlihat bertengkar di depan kliennya.
Dara telah menghabiskan tiga gelas wine ketika Kris menyelesaikan kerja sama mereka. Dia masih bisa tersenyum dan menyalami klien Kris.
"Semoga hubungan kalian berlanjut hingga ke jenjang perkawinan," kata klien Kris yang mengira Dara adalah kekasihnya. Kris hanya tersenyum saja menanggapi kata-kata kliennya. Baginya untuk apa menjelaskan sesuatu yang tidak penting pada orang yang tidak ada hubungan dengannya. Hanya sebatas hubungan bisnis saja.
Sepeninggal klien itu Kris lalu mendekati Dara. Wanita itu duduk bersandar.
"Kris kenapa wajahmu menjadi dua?" tanya Dara setengah sadar.
"Karena kau terlalu banyak minum," jawab Kris santai membereskan berkas kerjanya dan memasukkan dalam tas.
"Kris kau itu pria yang sangat tampan hanya saja angkuh dan sombong. Apalagi omonganmu itu selalu bisa menusuk hatiku yang terdalam," ujar Dara menunjuk ke dadanya.
"Oh ya?" kata Kris lalu duduk menghadap Dara.
Dara mengangguk. Dia lalu memiringkan kepalanya. Menatap Kris dengan wajah sendu.
"Kau itu pria yang menyebalkan, aku tahu kau selalu memperhatikan aku tetapi kau pura-pura bersikap dingin. Namun aku tahu diri, aku seorang berlevel rendah tidak boleh menyukai pria sesempurna sepertimu," kata Dara membuat Kris tertawa.
"Kenapa kau tertawa," ucap Dara.
"Dasar wanita bodoh!" Kris menyentil keras dahi Dara.
"Sakit!" ujar Dara mengusap dahinya.
__ADS_1
"Jika aku mencium bibirmu boleh?" tanya Kris menyentuh bibir Dara yang menarik perhatiannya dari tadi.