
Alehandro begitu terkejut ketika mendapat telephon dari ibunya. Dia tidak menyangka jika ibunya ingin dia datang menjemput ke acara anniversary pernikahan orang tua Cristian. Mungkin dengan ini ibunya mau memberinya maaf dan mengajaknya kembali ke rumah.
Mobil telah memasuki kompleks perumahan yang didiami oleh ibunya. Alehandro kembali teringat pada Maria. Sebenarnya dia begitu malu kepada wanita itu. Seorang istri memergoki suaminya sedang bermesraan dengan wanita lain. Maka pantas bagi wanita itu untuk jijik dan membencinya setengah mati. Dia tidak akan membela diri untuk kesalahannya, dia pun sadar jika dirinya memang pria brengsek yang tidak patut untuk dimiliki.
Mobil Alehandro berhenti di depan rumah besar miliknya, milik orang tuanya karena dia telah diusir oleh ibu. Dia membunyikan klakson mobil. Pagar rumah langsung terbuka sendiri. Alehandro mulai masuk ke dalam rumah.
Dia lalu turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
"Mom, Mom apakah kau telah siap," panggil Alehandro pada Lusi.
"Aku disini Alehandro," jawab Lusi turun dari tangga.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang!" kata Alehandro.
"Aku lupa menurunkan hadiah untuk Tante Aura di kamarmu. Bisakah kau menolongku untuk mengambilnya," pinta Lusi ketika sudah sampai di depan Alehandro.
" Baiklah, Mom. Kalau begitu aku akan ke atas dulu untuk mengambil hadiahnya."
"Aku juga punya hadiah yang bagus untukmu dan aku yakin kau akan menyukainya," ucap Lusi tersenyum penuh arti. Alehandro menyipitkan mata.
"Mom, ekspresi membuatku penasaran," ujarnya.
"Kalau begitu ambil hadiahmu dan ucapkan terimakasih padaku setelahnya," kata Lusi. Alehandro menatap Lusi dengan tatapan sendu.
"Mom, apa kau telah memaafkan aku?" ucapnya lirih. "Saat ini aku membutuhkanmu karena hatiku sedang hancur dan bodoh nya aku yang telah menghancurkan hatiku sendiri."
Lusi mengerti kesedihan putranya itu. Dia lalu memeluk Alehandro dengan penuh kasih sayang.
"Aku tidak pernah marah padamu, aku hanya ingin kau menjadi pria yang bertanggung jawab pada semuanya. Terutama pada keluargamu, kau kini telah mempunyai seorang istri seharusnya kau mencintai dan menjaganya sepenuh hatimu. Jangan bermain-main lagi, serius lah pada satu hubunganmu saja. Apa kau tidak lelah berpetualang cinta kesana kemari tetapi tidak pernah memperoleh apa itu cinta sejati?"
"Mom, dia terlalu baik. Aku tidak pantas untuknya," ucap Alehandro. Pada dasarnya dia anak manja yang selalu bercerita apapun pada ibunya.
"Jika dia baik mengapa kau meninggalkannya, seharusnya kau jaga dan kau rawat dia sebaik mungkin."
__ADS_1
"Dia tidak akan memaafkanku, Mom, setelah apa yang kulakukan," ujar Alehandro menyeka air mata yang sempat keluar.
"Apakah kau sudah meminta maaf dan bertanya padanya jika kau ingin memulai lagi dari awal?"
"Belum Mom, aku tidak sanggup mengatakan hal itu. Aku terlalu malu untuk memintanya menerimaku kembali," ujar Alehandro.
"Tidak ada batasan antara hubungan suami istri karena kalian adalah satu kesatuan sehingga kalian harus saling jujur terhadap perasaan kalian sehingga timbul perasaan saling berbagi dan saling mengerti antar keduanya." Alehandro mendengarkan wejangan dari ibunya dengan seksama.
"Sudahlah kita bicarakan masalah ini besok lagi. Ini sudah jam setengah tujuh malam, dan perjalanan nanti membutuhkan banyak waktu, sedangkan acara dimulai jam delapan malam. Kita harus berangkat sekarang!"
Alehandro mencium pipi ibunya. "I love you, Mom, kau selalu bisa menjadi tempat bersandar ku."
"Suatu hari nanti mungkin aku telah tiada dab saat itu kau pasti butuh seorang istri untuk menggantikan posisiku," ucap Lusi. Dia menyeka setetes air mata yang ada di pelupuk matanya. Alehandro hanya mendesah lirih.
"Sudahlah, ambilkan aku kado untuk Paman Erick dan Tante Aura!"
Alehandro lalu berjalan menaiki tangga. Maria yang tadi mengintip dari balkon lantai atas segera berlari masuk kembali ke kamarnya.
Dia lalu berjalan menuju kamarnya. Tetapi wangi ini terasa semakin kuat hingga dia terlalu di depan kamar. Takut untuk membukanya. Instingnya mengatakan jika Maria ada di dalam kamar ini. Hatinya tiba-tiba berdebar kencang. Dia teringat kata-kata ibunya tentang hadiah. Apakah Maria hadiahnya, jika iya semoga Maria yang menjadi hadiahnya malam ini. Alehandro mulai membuka pintu kamar dengan tangan bergetar dan pelan. Dia hampir tidak bernafas ketika melihat Maria ada di hadapannya. Tubuhnya membeku seketika, dia sampai takut berkedip, takut jika bayangan Maria akan hilang dalam sekejap.
"Ale?" panggil Maria yang melihat Alehandro hanya berdiri mematung di hadapannya. Dia lalu menjentikkan jari.
"Kau baik-baik saja," tanya Maria lagi. Alehandro baru tersadar setelah mendengar pertanyaan Maria jika wanita itu memang ada di hadapannya.
Alehandro masih terdiam namun dia berjalan mendekat ke arah Maria, tangannya lalu mengulur ke pipi Maria yang halus. Mengusapnya perlahan seolah bertanya apakah ini kenyataan apa mimpi. Setelah itu dia menarik tubuh Maria dalam pelukannya. Dia memeluknya erat. Menghirup aroma tubuh yang dia rindukan.
"Maafkan aku!" ucapnya parau. Maria menganggukkan kepalanya.
"Jangan pergi lagi!" imbuhnya setengah berbisik.
"Kau yang meninggalkanku," balas Maria.
"Aku hanya, aku tidak bisa mengatakannya ... ," Alehandro mendesah. "Aku sangat bahagia kau datang kembali ke rumah ini," ungkap Alehandro mengusap punggung Maria lembut.
__ADS_1
Dia merenggangkan pelukannya, dan menunduk memandang wajah manis dan ayu milik Dara. "Apa ini artinya kau akan memaafkan semua kesalahanku?"
"Hanya kali ini tidak lain kali karena aku orangnya pendendam," ucapnya dengan mata yang menyipit.
Alehandro memegang dagu Maria.
"Sepertinya aku tidak akan melakukan itu lagi,"
"Sepertinya?!"
"Aku tidak akan melihat wanita lain jika kau tetap berada di sisiku, tetapi jika kau pergi lagi aku tidak yakin," goda Alehandro membuat wajah Maria memerah dan menggelap.
"Alehandro....?" seru Maria kesal. Alehandro langsung mengecup kecil bibir Maria. Membuat wanita itu terkejut dan terdiam lalu memegang bibirnya. Dia lalu mengecup wajah Maria berkali-kali membuat wanita itu kesal.
"Ale hentikan!" serunya. "Riasanku bisa rusak nanti."
"Ehmmm....," Lusi berdeham di pintu kamar. Kedua insan yang sedang bercanda itu lalu terdiam dan merapikan dirinya. Malu, kikuk dan panik jadi satu.
''Mom," ucap mereka bersamaan, lalu saling memandang.
Lusi mengetuk jam yang melingkar di tangannya.
"Kami sudah siap Mom," jawab mereka bersama lagi.
"Baru saja bertemu tetapi jawaban kalian serempak, nampaknya sudah jadi satu hati."
Dua anak muda itu saling memandang.
"Bagaimana Alehandro kau suka dengan hadiahku?" tanya Lusi.
Alehandro mendekat ke arah ibunya dan memeluk. "Kau memang yang terbaik, Mom!''
" Bukan aku tapi kalian memang yang terbaik, aku bahagia melihat kalian akur dan bersama lagi." Lusi lalu melambai pada Maria untuk mendekat. Lalu mereka bertiga berpelukan bersama.
__ADS_1