Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Lebih Baik


__ADS_3

"Dara apa kau sudah menyiapkan berbagai perlengkapan bayi untuk anakmu?" tanya Mom Lusi sewaktu mereka duduk di ruang tengah menunggui Kaisar sembari menonton drama TV.


"Aku sudah membeli berapa stel pakaian dan perlengkapannya, sudah kusiapkan di dalam koper tetapi masih di ruko," jawab Dara.


"Aku dan ibu akan membelinya jika sudah dekat masanya, tetapi masalah datang bertubi-tubi," kata Dara menarik nafas panjang dan mendesah.


"Aku ingin sekali mengajakmu jalan-jalan ke mall bersama Kaisar, mungkin Alehandro mau ikut tidak juga tidak apa-apa. Dia sedang sibuk melakukan rapat virtual dengan para bawahannya."


"Aku lihat dia tidak pernah bekerja, Bu?" tanya Dara sembari memangku Kaisar dan mengajaknya bermain.


Mom Lusi memandang jauh ke depan, netranya yang sudah terlihat menua dipenuhi oleh kesedihan.


"Semenjak Maria sakit dia mengundurkan diri dari kepemimpinan di perusahaan. Dia mengabdikan hidupnya untuk istri dan anaknya, jika ada masalah penting baru dia akan datang ke perusahaan."


"Setelah Maria meninggal Alehandro hanya keluar kamar jika bersama Kaisar. Selebihnya dia akan mengurung diri di dalam kamarnya bersama foto-foto Maria. Tidak pernah ada lagi senyum di wajahnya atau kata-kata humor dan menyebalkan yang selalu dia lontarkan," Mom Lusi menyeka air matanya.


Tangan Mom Lusi memegang tangan Dara. "Akan tetapi kini dia mau bertengkar atau adu mulut denganmu. Itu bagus untuk jiwanya," ujar Mom Lusi tersenyum.


Wajah Dara yang gantian cemberut. "Itu tidak bagus untuk emosiku," jawab Dara.


"Mengapa tidak menyuruhnya ke kantor saja Bu, agar dia bisa meluapkan emosinya," saran Dara.


"Wah aku tidak berani untuk mengatakannya, aku menunggu hatinya tenang terlebih dahulu," ujar Mom Lusi.


"Di kantornya itu kan banyak wanita cantik siapa tahu ada yang membuatnya terpikat dan melupakan kesedihan itu," cetus Dara tetapi langsung dia menutup mulutnya dan meringis.


"Maaf, Bu," kata Dara.


"Ide bagus itu, dia akan mendapatkan wanita cantik dan ... ," ucapan Mom Lusi terhenti ketika disela oleh Dara.


"Seksi tentunya, aku pernah melihatnya sedang berduaan bersama wanita seksi saat bersama Maria dulu." Dara menyesali perkataannya, dia memukul mulutnya sendiri berkali-kali karena keceplosan mengatakan isi otaknya. ''Bodoh." gumam Dara lirih.


Mom Lusi menganggukkan kepalanya mengerti. Dia tersenyum kecut. Niat hati ingin memancing perasaan Dara malah wanita itu nampak tidak peduli pada Alehandro.


"Tidak apa-apa itu masalalu, tetapi anakku sekarang menjadi pria yang baik dan setia."


Dara menganggukkan kepalanya.


"Apakah kalian sedang membicarakan aku?" tanya Alehandro tiba-tiba dari belakang dan duduk di sebelah Mom Lusi lalu mengambil camilan di depan mereka.

__ADS_1


"Kami sedang membicarakan tokoh prianya yang suka main dengan banyak wanita dan menderita penyakit kelamin. Lihat dia mendapat azabnya!" ucap Dara menunjuk ke film yang ada di depannya.


"Tonton yang bermanfaat bukan yang jual tangisan seperti itu," ujar Alehandro tidak suka lalu mengambil remote dan menggantinya. Tetapi Dara dengan cepat menarik remot itu dan menggantinya lagi.


"Ibumu sedang menonton drama ini dari tadi kau datang langsung saja mengganti dengan seenaknya saja!"


"Film itu mengajarkan hal tidak baik," dalih Alehandro.


"Tidak baik apanya?"


"Mengajarkan wanita untuk menangisi nasib dan merutuki penderitaan." Alehandro memakan butiran kacang dari toples.


"Justru di situ terlihat ketangguhan hidup wanita, walau suaminya menyeleweng dan jahat namun sang istri tetap sabar dan menerima semuanya akhirnya si istri yang berhasil dan suaminya hidup menderita terlunta-lunta."


"Apa kau merasa hidupmu seperti di film itu?" serang Alehandro.


"Aku ... tidak seperti wanita dalam film itu yang menyerah pada takdir, jika kau malah menjadi pria yang cengeng dan menyerah pada na ... ." Mulut Dara dimasukkan kacang itu dan membuat wanita itu tersedak.


"Ale kau itu menyebalkan!" teriak Dara setelah menelan kacang itu.


"Mulutmu harus disumpal baru berhenti berbicara."


"Adik dari mananya? Wajahnya saja tidak mendukung," kata Alehandro tidak mau kalah.


"Anggap dia adik Maria, Alehandro," terang Mom Lusi.


"Wajah Maria itu unik seperti wanita latin sedangkan dia." Alehandro mencibir.


"Mulut ayahmu itu tidak baik kau harus menuruni sifat ibumu yang penuh kasih sayang," kata Dara lirih, pada Kaisar dan anak itu tertawa keras.


"Kau mengatakan apa Dara?" tanya Alehandro.


"Aku sedang menasihati anakmu agar jadi anak baik dan penuh sopan santun," ucap Dara.


Mom Lusi lalu menjewer Alehandro keras.


"Sudah hentikan omong kosong ini. Mom dan Dara mau jalan-jalan ke mall. Kau mau ikut atau tetap di rumah saja."


"Kaisar?"

__ADS_1


"Kami bawa," kata Mom Lusi.


"Aku ikut takut jika wanita itu melahirkan di eskalator," kata Alehandro tertawa lalu berdiri pergi. Dara melemparkan bantal yang ada di sebelahnya pada Alehandro.


"Anakmu menyebalkan sekali, Bu," ujar Dara kesal.


"Sabar, mulutnya memang jahil, Maria juga suka dibuat kesal." Dalam hati Mom Lusi merasa senang karena Alehandro sudah tidak terlalu larut dalam kesedihannya.


"Ayo, siapkan dirimu kita akan belanja keperluan Kaisar dan anakmu!" ajak Mom Lusi.


Wanita itu lalu memanggil pengasuh Kaisar untuk menyiapkannya.


"Bu, setelah itu kita ke ruko untuk mengambil perlengkapan yang sudah kubeli," kata Dara.


"Kita akan mengambilnya kapan-kapan saja lagipula baju Kaisar semasa bayi masih banyak yang belum digunakan. Walau anakmu perempuan, tetapi masih bisa menggunakannya."


Dara terlihat meringis kesakitan.


"Kau kenapa?" tanya Mom Lusi.


"Perutku suka kencang sendiri kata Dokter mungkin karena waktu persalinan yang sudah semakin dekat."


"Atau sebaiknya kita tunda saja acara berbelanjanya?" tanya Mom Lusi khawatir.


"Jangan khawatir Bu, aku juga sering mengalami ini jika kelelahan mengurus warung. Ini hanya sebentar saja nanti akan hilang sendiri."


"Baiklah kalau begitu."


"Dara, tadi Kris menelfon menanyakan keadaanmu. Aku lupa memberitahumu," ujar Mom Lusi.


Dara menghela nafas panjang.


"Hanya itu sajakah?" tanya Dara.


"Dia hanya ingin datang sewaktu kau melahirkan anaknya."


"Tidak perlu, aku bisa mengatasi masalahku sendiri," jawab Dara nelangsa. "Dari awal anak ini juga tidak butuh ayahnya."


"Dara ... kau tidak boleh seperti itu. Kris sedang berusaha untuk menjadi pria yang bertanggungjawab." Mom Lusi bisa merasakan jika Kris sedang memperbaiki kesalahannya walau itu tidak sepenuhnya dan Dara sedang menata dirinya sendiri. Dia salut di masa sulit ini Dara tidak pernah memperlihatkan kesedihannya atau luka dihati. Dia bahkan bisa menyemangati Alehandro ketika sedih dengan celetukkannya yang tidak masuk diakal.

__ADS_1


"Aku tahu, Bu. Tetapi lebih baik bagiku untuk tetap hidup sendiri. Mungkin setelah melahirkan aku sebaiknya pergi dari kehidupan semua orang agar tidak menimbulkan masalah lagi." Dara menundukkan kepalanya.


__ADS_2