
Alehandro menyelesaikan pertemuan itu dengan baik. Sepanjang pertemuan itu hatinya gundah, ada sedikit perasaan ingin tahu keadaan Maria saat ini. Tetapi sikap Maria yang enggan untuk bertemu dengannya membuat dia kecewa dan terhina. Seolah dia ini suami yang tidak diharapkan kehadirannya, seperti penyakit yang harus dihindari.
Alehandro lalu keluar dari ruangan itu. Matanya mencari keberadaan Maria, namun sosok wanita itu tidak ditemukan sama sekali.
"Krish, tadi yang menjatuhkan baki berisi snack itu istriku, cari alamat tempat tinggalnya sekarang. Aku tunggu di mobil," kata Alehandro.
Krishna yang baru menjadi asistennya terkejut jika Bosnya memiliki seorang istri. Dia langsung melaksanakan perintah Bosnya.
Alehandro sendiri memutuskan untuk membawa pulang Maria dan menyerahkan pada ibunya, Lusy. Dia tidak ingin Ibunya marah padanya untuk jangka waktu lama hanya karena kehilangan mantu tersayang.
Alehandro segera melangkah keluar restauran menuju mobil, dia lalu masuk dan menunggu Krishna di sana sembari menghubungi ibu lewat panggilan telepon seluler.
"Untuk apa kau menelfonku terus menerus bukankah sudah kukatakan jangan temui aku lagi!" seru Lusi dari balik handphonenya keras.
Alehandro langsung menjauhkan handphone itu ketika mendengar teriakan Lusy.
"Mom, aku hanya menelfon tidak menemuimu, Okey," ujar Alehandro.
"Bla.... bla .... bla ... ." Seperti biasanya Lusy akan berceramah panjang lebar membuat kuping Alehandro terasa gatal. Dia ini pemilik sebuah perusahaan besar dengan puluhan ribu karyawan akan tetapi ibunya masih menganggap dia seorang anak kecil nakal yang selalu dimarahi setiap kali mereka bertemu.
"Mom, aku sudah menemukan keberadaan Maria," ucap Alehandro. Terdengar helaan nafas lega dari balik telepon.
"Kalau begitu bawa pulang menantuku sekarang!"
"Kalau dia tidak mau?"
"Kau itu suaminya harus bisa membujuk dan merayu dia, jika perlu kau bersujudlah di hadapannya."
"Mom...," suara Alehandro terdengar merajuk.
"Bawa dia pulang Ale, jika tidak sampai Mom mati kau tidak akan pernah bertemu Mom lagi."
Alehandro mendesah panjang.
"Baiklah Mom, aku akan menculiknya untukmu," kata Ale lalu mematikan panggilan itu sebelum sang Mommy menceramahinya lebih banyak lagi.
__ADS_1
Krisna lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan, sebelah kursi pengemudi. Dia lalu memperlihatkan secarik kertas pada Alehandro.
"Ini alamatnya Tuan,'' ucap Krisna.
" Kalau begitu ayo kita pergi ke alamat itu sekarang juga. Ayo pak sopir, " kata Alehandro.
"Ehm ... sebaiknya tidak usah," ujar Krishna mencegah sopir itu menghidupkan mobil.
"Kau melarangku menemuinya? Kenapa?'' tanya Alehandro pada Krisna dengan nada kesal.
" Saya tidak melarang hanya saja akan lebih efisien jika kita jalan kaki saja Tuan. Tempat kos yang ditinggali oleh Nyonya hanya berjarak dua blok dari sini jika melewati gang kecil itu. jika mengenakan mobil akan berjalan memutar terlebih dahulu dan akan memerlukan waktu le lebih lama." Tunjuk Krisna pada sebuah gang yang berada di depan restoran itu.
"Katakan dari tadi!'' dalih Alehandro yang sudah terlanjur emosi. Dia lalu memakai kacamata hitam sebelum keluar dari mobil.
"Saya juga ingin mengatakan hal itu dari tadi hanya saja Anda sudah dulu emosi, Tuan,'' ujar Krishna. Jika saja dia ini bukan bosnya pasti akan dia maki-maki si Boss besar.
Alehandro akhirnya keluar dari mobil dan berjalan menuju gang sempit itu diikuti oleh Krisna. Sepanjang perjalanan dia memaki udara yang terasa panas. Dia lalu menyerahkan jas dan dasi yang dikenakannya pada Krisna.
Dalam hati dia merutuki kebodohan Maria yang menolak kiriman uang yang setiap bulan dia berikan padanya. Padahal dengan uang itu dia bisa tinggal di tempat yang layak tidak seperti rumah di daerah ini yang sempit dan saling berdempetan.
Setelah bertanya pada orang sekitar akhirnya mereka menemukan sebuah rumah kos-kosan yang luas di dalam gang sempit itu. Baru saja masuk ke rumah kos-kosan itu dia langsung di sambut oleh ibu muda memakai stelan daster dan rol yang menggelung rambut di pucuk kepala.
Melihat dua pria super tampan dan bertampang keren membuat mata wanita berkilat karena senang.
"Tuan, Anda mencari siapa di sini?" tanya ibu, itu genit. Alehandro enggan menjawab, dia tetap bersikap angkuh dan sombong seperti biasanya.
"Apa di sini ada yang bernama Maria?" tanya Krishna mencoba bersikap sopan.
Wanita itu menyipitkan mata dan melihat ke arah Alehandro dengan tatapan curiga. Selama ini Maria dan Dara tidak pernah berhubungan atau membawa teman pria ke tempat kos-kosan inj. Mereka berdua adalah dua anak gadis yang baik.
"Untuk apa kalian mencarinya? Apa kalian penagih hutang?"
Alehandro yang memakai kacamata hitam langsung dilepaskannya.
"What?!" teriak Alehandro emosi.
__ADS_1
Apakah tampangnya seperti rentenir pasar atau seorang penagih hutang? Mata wanita itu perlu diperbaiki.
Krishna menahan tawanya. Tuannya yang bertampang tampan dan keren dikira seorang penagih hutang. Baru kali ini ada yang berani mengatakan hal itu padanya.
"Dia ini suami dari Maria, dia hanya ingin membawa pulang istrinya," jelas Krishna.
"Maria belum punya suami bukti di KTP menjelaskan jika statusnya belum menikah saya sudah mengeceknya.
Alehandro merasa putus ada mendengar pernyataan wanita itu. Haruskah dia menceritakan jika Maria pergi setelah sehari mereka menikah? Wanita ini pasti akan bertanya lebih banyak lagi.
Krishna melihat ke arah Alehandro, dia bingung untuk menjawab apa karena dia belum pernah menikah.
"Coba Anda panggil dia apakah dia mengenalku atau tidak jika tidak aku akan pergi," kata Alehandro.
Wanita itu memanggil seseorang untuk memanggil Maria di kamarnya. Sementara itu Alehandro melihat tempat kos milik Maria yang jauh dari kata layak untuknya. Kamar-kamar terdapat di sisi sebelah kanan dan menghadap rumah utama. ada empat kamar berjejer di bawah dan tiga kamar berjejer di bagian atas.
Di sudut paling pojok terdapat dua kamar mandi dan sebuah dapur umum yang kecil.Di tengah-tengah antara kamar dan rumah terdapat banyak jemuran pakaian para penghuni kos.
Maria terlihat keluar dari lantai atas rumah kos. Alehandro melihatnya menatap dirinya, sehingga manik mata mereka bertemu. Gestur tubuh Maria terlihat enggan untuk bertemu dengan pria itu, namun dia tetap turun dan menemuinya.
"Maria? Apa kau kenal pria ini?" Maria pura-pura memicingkan matanya lalu menggelengkan kepala. "Tidak memang siapa dia?"
Alehandro mengepalkan tangannya keras. Wanita ini benar-benar menguji mentalnya.
"Katanya dia suamimu?" kata Ibu kos pada Maria.
"Jika aku punya suami yang terlihat kaya seperti ini mengapa aku tinggal bersama di kos-kosan ini dan kerja sebagai pelayan. Dia pasti pria mesum yang ingin menculik wanita dengan mengaku-ngaku sebagai suaminya," ucap Maria santai.
Mata Alehandro mulai memerah. Wajahnya terlihat menegang, otot dilehernya sudah mulai nampak jelas dan bibirnya mulai mengetat. Jika saja di tempat lain dia sudah akan menculik wanita itu tapi ini adalah tempat kos, dan ada dua wanita lain yang melihat kejadian itu.
Krishna mundur untuk urusan rumah tangga ini, dia tidak mau salah bertindak yang akan berakibat fatal bagi pekerjaan nya nanti.
"Tuan? Apa anda seorang penculik? kalau iya lebih baik culik aku dan jadikan aku istrimu!" ujar ibu kos itu lebay. Dia adalah janda dari dua orang anak kecil yang masih hot.
"Maria pulang sekarang atau aku akan berbuat lebih kasar padamu!" ancam Alehandro.
__ADS_1