Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Jalan Keluar


__ADS_3

"Bolehkah kami masuk," tanya Kris. Sheila lalu memberi jalan pada Kris untuk masuk ke dalam apartemen mereka.


"Ini rumah Ayah?" tanya Rose melihat ke sekeliling ruang di apartemen itu.


"Bukan, ini rumah mama Sheila," jawab Kris melihat ke arah Sheila membuat wanita itu semakin terkejut.


Mata bulat Rose melihat ke arah Sheila. Mengamatinya dari bawah hingga ke atas. Entah mengapa Sheila sendiri merasa gugup. Dadanya bergemuruh hebat ketika Kris menyebut dirinya sebagai Mama Sheila. Apakah artinya itu anak Dara? Jika iya mengapa pria ini malah datang kemari? Jika untuk pamer dengan kebahagiaannya kenapa harus menyebut nama mama.


"Panggil dia Mama Sheila," kata Kris. Sejenak Rose terlihat ragu menatap ke arah Kris. Kris mengangguk, agar Rose mau melakukannya.


Sheila menunggu dengan hati berdebar apa yang akan dilakukan anak itu.Dia menelan Salivanya kasar. Apakah itu artinya jika Kris masih berharap bersama? Sheila tidak tahu, dia sudah memupus perasaan itu untuk beberapa bulan ini.


"Ma .. ma Shei ... la," panggil Rose lirih. Mata Sheila memerah, dia mendekat ke arah Rose dan mencium wajahnya. Tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk dipanggil Ibu oleh seorang anak setelah dokter mengambil separuh rahimnya karena penyakit kista yang dia derita. Kesempatan baginya mempunyai anak hampir tidak ada walau itu masih ada kemungkinannya. Dia pernah melakukan proses bayi tabung namun gagal dan itu telah mematahkan hatinya untuk memiliki seorang anak.


Bukan Kris yang meminta untuk bercerai tetapi dirinya yang meminta cerai dan menyuruh Kris untuk mencari Dara, wanita yang telah melahirkan anak Kris. Dia berharap Kris bisa hidup bahagia bersama Dara dan anak mereka.


Buliran deras air mata membasahi wajah Sheila membuat Rose bertambah bingung.


"Hai, Sayang, kau cantik sekali seperti mamamu," ucap Sheila.


"Ibu?" tanya Rose. Dia adalah anak yang tidak pernah takut pada orang asing dan gampang bergaul dengan mereka.


"Iya ibumu, Dara," kata Sheila. Rose lalu tersenyum.

__ADS_1


"Boleh aku menggendongmu, Mama punya banyak cokelat dan ada kue di kulkas, kau bisa memilih yang kau mau," tawar Sheila. Rose melihat ke arah Ayahnya.


"Coba lihat apa yang Mama Sheila punya," kata Kris.


"Aku mau turun Ayah, aku bisa jalan sendiri," ujar Rose. Kris lalu menurunkan Rose dan Sheila mengulurkan tangannya mengajak Rose pergi ke dapur mengambil apa yang Rose mau.


Rose lalu menyambut uluran tangan itu, Sheila tersenyum lebar ke arah Kris. Mereka berdua lalu pergi ke dapur. Sedangkan Kris, memilih duduk di kursi sofa menunggu para wanitanya itu kembali.


Setengah jam kemudian mereka telah duduk bersama di ruang tengah dengan berbagai camilan dan teh. Rose sendiri asik memainkan handphone milik ayahnya dan berbaring dipangkuan pria itu.


"Mengapa kau mengajaknya kemari?" tanya Sheila.


"Untuk mengajakmu pulang ke rumah," jawab Kris.


"Tidak sama sekali tidak, Dara sudah memilih pasangannya sendiri dan aku harap kau mau untuk kembali bersamaku," ucap Kris.


Sejenak Sheila terdiam menatap Kris sembari memiringkan kepalanya, lalu tersenyum. Matanya kembali menganak sungai. Dia menghapusnya kembali dengan tissue.


"Aku tidak mengira semua berakhir bahagia seperti ini, aku kira aku telah kehilangan semuanya. Masa depan, kebahagiaan dan dirimu. Tuhan tidak sekejam itu padaku," ucap Sheila.


Tangan Kris melambai agar Sheila duduk di sampingnya. Wanita itu menurut dan pindah ke samping Kris, Kris lalu merengkuh Sheila dengan satu tangannya.


"Bagaimana aku akan bahagia jika melihatmu terluka," ucap Kris. "Sekarang jangan lagi meminta perpisahan, kita kembali bersama. Kita masih memiliki Rose di sini," kata Kris.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Dara," ucap Sheila.


"Kami akan merawatnya bersama-sama. Dia membebaskan Rose untuk tinggal bersama siapa, kami juga sepakat agar membebaskan waktu bertemu dengan Rose kapan saja."


"Dia sangat pengertian dan baik, aku sangat merasa bersalah padanya," ujar Sheila lirih.


"Bagaimana apakah kau mau pulang ke rumah? Ibu juga selalu menanyakan mu," kata Kris.


"Bukankah dia juga menginginkan Dara kembali padamu?" ujar Sheila.


"Apapun itu dia adalah orang tuaku, kau harus tetap bersabar. Yang terpenting adalah aku selalu di sampingmu, cukup jangan jawab pembicaraannya," pinta Kris. Sheila lalu terdiam.


Semenjak rahim Sheila di angkat separuh, Savitri kerap meminta Kris untuk membawa kembali Dara dan cucunya. Hal itu yang membuat Sheila terpuruk serta menginginkan perpisahan. Dia ingin agar Kris bisa hidup bahagia dengan Dara serta anaknya. Namun, ternyata pengorbanannya tidak sia-sia. Tuhan masih mau menyatukan mereka lagi dengan membawa Rose ke tengah-tengah hidup mereka.


"Kris aku mencintaimu," ucap Sheila mencium sayang pipi Kris.


"Aku juga," jawab Kris mencium pucuk rambut Sheila.


"Apa Ayah juga mencintaiku?'' sela Rose.


Sheila lalu menunduk dan mencium Rose.


"Kami sangat mencintaimu."

__ADS_1


__ADS_2