Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Antara Ayah dan Anak


__ADS_3

Kini tubuh mereka telah menempel satu sama lain. Detak jantung mereka berpadu dalam suatu irama. Cristian masih memandangi Cinta yang berada di hadapannya. Bersamanya itu sama saja menyuntikkan racun ke tubuh sendiri secara otomatis racun itu akan cepat menyambar ke seluruh sel tubuhnya.


"Kau telah menahan pergerakanku dari tadi kini lepaskan aku," ucap Cinta. Dia tahu jika dia merindukan pria ini disampingnya tapi dia harus menahan diri agar semua permasalahan ini bisa terselesaikan satu persatu.


Cristian langsung berdiri tegak dan membalikkan tubuhnya dia lalu mengambil cangkir untuk membuat kopi. Semua pembantu tidak ada yang masuk di rumah ini pada malam hari kecuali dalam keadaan sangat penting sehingga pemilik rumah akan memenuhi kebutuhannya sendiri.


Cinta mengambil satu batang sumpit untuk menggelung rambutnya yang terurai. Leher jenjangnya kini terekspos dengan sempurna hingga ke belakang punggung dan sebagian dadanya. Membuat fokus Cristian terbagi ketika melihat daging yang menyembul dari balik pakaian Cinta.


Memang tidak dipungkiri jika tubuh Cinta berkembang dengan sangat baik. Tumbuh hanya dibagikan tertentu saja yang akan menambah daya tariknya.


Cinta mulai memakai kain apron untuk menutupi baju pestanya agar tidak terkena tepung.


"Kau akan memasak memakai baju seperti itu?'' tanya Cristian sembari menuangkan air panas ke cangkir.


"Kenapa memangnya, ada yang salah apa bajuku terlalu seksi sehingga membuat fokusmu hilang," balas Cinta tepat sasaran membuat Cristian menumpahkan air panas itu ke meja karena terkejut mendengarnya.


Cinta terkejut lalu mencari kain lap dan mengelap meja yang basah terkena tumpahan air kopi.

__ADS_1


"Kau itu?" Cinta tahu jika Cristian memang pemarah tapi jika dia bisa mendekatinya dia akan cepat luluh.


"Kau pergi saja temani Calesta aku yang akan membersihkan ini dan membuatkan kopi untukmu," ucap Cinta.


Cristian segera kembali ke kamar Calesta. Di tengah jalan dia bertemu dengan ayahnya.


"Cristian Ayah ingin bicara denganmu," ucap Erick.


Cristian lalu mengikuti Erick ke ruang kerja. Erick menutup pintu ruang kerjanya.


"Sebagai seorang ayah aku tidak tega melihat anakku sakit karena merindukan ibunya," jawab Cristian.


Erick menghembuskan nafasnya laku duduk di kursi kebesarannya.


"Lalu bagaimana dengan Maria, dia kemari karena kalian telah dijodohkan. Bagaimana perasaannya melihat kalian berdua bersama," tanya Erick.


"Aku hanya menganggapnya sebagai adik selama ini. Tidak lebih. Soal perjodohan itu aku dari awal tidak setuju hanya saja ayah selalu memaksanya," terang Cristian.

__ADS_1


"Apa kau akan kembali pada wanita yang telah membuat ibumu sakit?" tanya Erick.


"Dulu kau sudah mengejarnya tapi apa yang dia lakukan pergi tanpa kabar dan berita. Itu artinya dia tidak menghargaimu sebagai seorang pria. Sadarlah Cristian jika dia tidak baik bagimu!" ucap Erick.


"Sebagai ayah tidak rela melihat anakku satu-satunya dibuat menderita seperti itu , dia juga telah mencoreng nama baik keluarga kita ditambah dia juga membuat istriku seperti itu," Erick memegang pelupuk matanya. Selama ini dia berusaha tegar di depan semua orang namun kini hatinya telah merapuh seiring bertambah usianya.


"Ayah aku hanya akan menikahi wanita yang mencintai keluarga kita melebihi dirinya sendiri ataupun orang lain. Aku janji ayah. Toh aku sudah punya seorang anak. Hidup sendiri pun tidak masalah untukku," jawab Cristian.


"Maria itu wanita yang baik untukmu," ujar Erick.


"Aku tidak akan menikahi Maria, dia terlalu muda untukku dan lagi pula dia anak dari Bibi Berta, aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri. Biar dia cari pria yang akan mencintainya."


Erick menganggukkan kepalanya dia mengerti jika cinta memang tidak bisa dipaksakan.


"Ayah biarkan Cinta berada di rumah ini untuk sementara waktu. Calesta membutuhkannya," pinta Cristian.


Erick menganggukkan kepalanya. Dia ragu jika Cristian akan tetap pada prinsipnya jika berdekatan dengan wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2