Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Kejutan Menyenangkan


__ADS_3

"Bagaimana Dokter keadaan suami saya?'' tanya Bella tidak sabar.


" Tenang Nyonya, keadaan suami anda baik-baik saja. Anda tadi berkata jika dia membuka matanya tadi, berarti dia memberikan respon yang baik terhadap kehadiran anda. Dia dalam pengaruh obat bius sehingga menutup matanya lagi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan perkembangan Tuan David sangat bagus. Kita berdoa semoga tiga hari lagi dia sudah sadar dan dapat memberikan respon normal," terang Dokter Faisal.


Bella bisa bernafas lega ketakutannya ternyata tidak terbukti.


"Nyonya, apakah Anda mencabut infus dari tangan?" Bella menganggukkan kepalanya.


"Tadi aku begitu panik dan langsung melepaskannya karena itu menghalangi pergerakanku," ujar Bella.


"Sebaiknya Anda memasang infus itu lagi demi kebaikan Anda dan janin dalam kandungan Anda. Aku rasa suami Anda juga menginginkan yang terbaik bagi kalian," kata Dokter itu.


"Baiklah Tuan. Tapi bolehkah saya meminta sesuatu pada pihak rumah sakit ini?"


Semua orang mengernyitkan dahinya.


"Anda ingin apa Nyonya?"


"Perbolehkan saya untuk tidur satu ruangan dengan suami saya. Itu akan membuat saya tenang sehingga saya tidak perlu bolak balik ke ruangan ini untuk menengoknya," pintar Bella.


"Lagi pula kehadiran saya akan membuat suami saya senang dan tenang," bujuk Bella.


"Sebetulnya tidak diperbolehkan tapi nanti kita bisa bicarakan ini pada pemiliknya agar Anda bisa dijadikan satu ruangan saja dengan suami Anda."


"Terima kasih, Dokter," ucap Bella senang.

__ADS_1


***


Hari ketiganya David belum siuman tapi kondisinya yang stabil membuat semua orang yang menunggunya tampak optimis akan kesembuhannya.


"Bella, kau sudah tampak cantik hari ini?" tanya Riska pada anaknya.


"Aku hanya ingin tampil sesempurna mungkin ketika David membuka matanya dan melihat aku berada di sampingnya dalam keadaan baik-baik saja," kata Bella yang sudah merasa baikan dan pulih dari sakit.


"Kau terlihat bersemangat sekali hari ini," cetus Riska.


"Aku yakin jika David akan segera membuka matanya. Ibu melihat kan bagaimana dia merespon ketika aku mengajaknya berbicara."


"Ya!" Riska tersenyum melihat semangat yang ada di diri Bella. Baginya kebahagiaan anaknya adalah hal terpenting dalam hidupnya. Sakit Bella adalah luka besar bagi jiwanya.


"Bu, apakah kau masih marah pada David?" tanya Bella.


"Hanya karena itu?"


"Dia juga sudah membuktikan jika dia sangat mencintaimu," lanjut Riska sembari melipat selimut di tempat tidur Bella.


Bella berjalan mendekat ke arah David. Dia lalu meraih tangannya dan menggenggam erat.


"Dia memang sangat mencintaimu Bu dan aku sangat mencintainya," ucap Bella.


"Benarkah itu?"

__ADS_1


Bella membuka mulutnya lebar dan Riska mendekat ke arah Bella untuk mendengar apa yang mereka dengar itu adalah kenyataan bukan halusinasi.


David mulai membuka matanya pelan. Matanya mulai menyesuaikan dengan cahaya dalam ruangan itu. Bella menutup wajahnya dengan satu tangan tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Matanya mulai berembun.


David melihat kearahnya dan melayangkan sebuah senyuman paling indah yang dilihatnya selama ini.


"Katakan lagi jika kau mencintaiku!" pinta David.


Bella tertawa kecil dan berhambur memeluk David.


"Aku sangat mencintaimu dan aku sangat takut melihatmu hampir meninggalkan aku," ungkap Bella menangis dalam dada David.


"Aww...." rintih David. Bella langsung panik dan bangun dari dada David.


"Kenapa?" tanya Bella panik.


"Kau menyentuh lukaku sedikit tapi aku baik-baik saja. Mungkin lain kali kau bisa memelukku erat."


Bella lalu tertawa. Riska yang melihat jika David baik-baik saja segera keluar untuk memanggil Dokter.


"Aku sangat merindukan suaramu," kata Bella.


"Aku juga selalu memimpikanmu dalam tidurku. Aku bahkan bermimpi jika kau mengatakan sedang hamil anak kita."


Bella lalu mengambil tangan David.

__ADS_1


"Aku memang sedang hamil."


__ADS_2