
"Kenapa?" tanya Alehandro duduk bersimpuh di depan Dara. Wanita itu melihat ke arah lain mencoba menyembunyikan perasaan hatinya.
"Jangan menyembunyikan sesuatu dariku."
Dara lalu menunduk dan menghela nafas, menengadahkan wajah dan menatap Alehandro.
"Aku takut akan mempermalukan dirimu nanti. Bagaimana jika mereka bertanya siapa aku? Bagaimana asal usulku apa yang akan kau jawab? Tidak Ale, aku cukup berada di dekatmu saja tidak harus terlihat sebagai istrimu," kata Dara.
Alehandro tertawa kecil lalu bangkit dan sembari mengusap rambut Dara. Dia lalu menyuruh Dara berdiri dan Alehandro berdiri tepat di belakangnya.
"Jika orang bertanya siapa dirimu, kau adalah istri Alehandro Cortez. Jika ada yang bertanya asal usulmu maka kau jawab saja kau lahir dari bapak dan ibumu. Orang tuamu bukan orang luar biasa yang harus diceritakan dengan detail namun kau bersyukur pada mereka karena membiarkanmu lahir ke dunia ini."
"Ingat tegakkan kepalamu dan pandang mereka. Kau ini adalah seorang Cortez tidak boleh sekalipun merasa rendah diri apalagi merasa kecil."
"Ale... ." Alehandro lalu membalikkan tubuh Dara.
"Kau itu cantik dan menarik tidak cacat ataupun memalukan lalu mengapa kau merasa tidak pantas?" Dara hanya terdiam seribu bahasa.
"Jika ada yang menghinamu maka kau bisa membalas kata-katanya dengan cara elegan, tidak perlu bertengkar atau membuat keributan. Mulai sekarang belajarlah untuk tampil di depan semua orang karena setelah ini akan banyak pesta yang menunggu kedatanganmu. Kau juga mulai harus membuat pesta mewah. Aku berencana mengundang relasi bisnis dan teman-teman untuk merayakan pernikahan kita."
Alehandro lalu memeluk Dara dan meletakkan dagu di kepalanya.
"Alehandro, aku takut tapi aku percaya padamu," kata Dara.
"Siang nanti akan ada kiriman baju untukmu dan besok pagi sekali akan ada MUA yang membantumu berhias. Anak-anak biar pengasuh yang mengurusnya."
"Ternyata kau sudah mengurus semuanya."
"Aku hanya ingin kau nyaman dan aman bersamaku," kata Alehandro. "Apalagi ada calon anak kita di sini, aku tidak mau membuat ibunya stres."
"Aku sangat mencintaimu," kata Dara.
"Aku selalu mencintaimu," jawab Alehandro.
"Terimakasih karena telah memilihku untuk hidup bersamamu," ungkap Dara.
"Terima kasih karena menerima duda kesepian ini menjadi suamimu," lanjut Alehandro. Dara lalu mencubit pinggang Alehandro.
"Mulai," seru Dara.
__ADS_1
"Kita makan, aku sangat lapar karena belum makan siang," ucap Alehandro.
"Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi?" tanya Dara.
"Kau itu berbicara dari tadi hingga tidak memberikanku waktu untuk mengatakannya."
Dara lalu mendorong tubuh Alehandro, "CK, kau itu. Aku memberikanmu hadiah malah kau mengatakan hal itu."
"Ayo cepat aku menyuruh Atun untuk memasakkan sayur asam dan gurame goreng. Aku belum melihatnya karena bau makanan itu membuat perutku mual."
"Lalu bagaimana caranya anakku makan jika ibunya tidak mau makan?" tanya Alehandro khawatir.
"Coba kita lihat apa aku bisa ikut makan nanti," kata Dara menarik tangan Alehandro keluar.
"Sebaiknya kita ke dokter untuk menanyakan hal ini sekarang. Bagaimana cara mencegahku mual sehingga bisa makan," ujar Alehandro khawatir.
"Ale, hal ini umum dialami oleh setiap ibu hamil aku juga mengalaminya dulu walau tidak sering."
"Dara kita harus ke dokter untuk memeriksakan kandunganmu," ajak Alehandro lagi menghentikan langkahnya.
"Nanti setelah kau makan!"
"Sekarang!"
"Dara,"
"Hanya sebentar, makan dulu setelah itu kau bisa mengajakku kemana saja kau mau. Bulan madu juga boleh," kata Dara tersenyum.
"Kalian berdua ini jika sudah bersama lupa pada anak," kata Mom Lusi melihat anak dan menantunya asik berbicara sambil berpegangan tangan.
Dara lalu melepaskan pegangannya malu dan merasa bersalah.
"Lihat Rose dan Kaisar tidak mau mandi sedari tadi padahal tubuh mereka kotor oleh tanah," lanjut Mom Lusi.
"Ibu maaf aku," lirih Dara hendak berbalik.
"Dara sedang sakit Mom, dia sedang mengalami siklus hamil muda," kata Alehandro.
"Dara hamil?" pekik Mom Lusi. Wajahnya yang cemberut seketika bersinar terang.
__ADS_1
"Selamat, Sayang," kata Mom Lusi merentangkan tangannya. Dara lalu masuk ke dalam pelukan ibu mertuanya.
"Maaf jika aku memarahimu tadi, aku kira anakku ini selalu mengerjaimu di kamar. Membuat aku kesal saja. Kasihan Rose dan Kaisar harus berebut perhatianmu dengan ayahnya," ujar Mom Lusi terus terang. Alehandro menunjuk ke arah hidungnya sendiri dengan tidak percaya jika ibunya mengatakan hal itu.
"Ya, kau selalu mengurungnya di kamar jika sudah pulang kerja," gerutu Mok Lusi.
"Mom, itu fitnah kejam," kata Alehandro mencoba membela diri. Dara langsung meninggalkan ibu dan anak itu menghindari perdebatan mereka.
Akhirnya keributan terjadi ketika Dara dan Alehandro akan pergi ke rumah sakit setelah semua pekerjaan di rumah selesai.
"Aku ingin ikut melihat adek di perut ibu," rajuk Rose.
"Aku juga mau ikut," imbuh Kaisar.
"Ini musim pandemi anak-anak tidak boleh ikut ke rumah sakit," kata Alehandro menerangkan pada anaknya.
"Pokoknya kami harus ikut," teriak keduanya.
Dara hanya duduk memegangi kepalanya yang pusing. Drama anak-anak benar-benar menguras energinya.
"Kita tunda saja," kata Dara.
"Tidak bisa begitu," kata Alehandro.
"Bagaimana kalau kita ke tempat Dokter praktek saja, di sana tidak banyak orang yang datang," tawar Dara.
"Baiklah," jawab Alehandro memerintahkan asistennya untuk mencari tempat praktek dokter kandungan.
Dua jam kemudian mereka telah berada di sebuah klinik tempat praktek salah seorang dokter kandungan. Dara melihat tempat itu sepi oleh pengunjung hanya ada beberapa petugas saja yang berjaga. Dara tidak tahu jika Alehandro mengeluarkan banyak uang untuk membooking klinik itu selama satu jam agar mereka bisa masuk dengan aman. Dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan anak dan istrinya.
Asisten Alehandro lalu mendatangi mereka mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam ruang praktek.
"Tuan, Nyonya Cortez silahkan masuk," sapa Dokter muda yang tampan membuat wajah Alehandro memerah. Asistennya ini kurang ajar sekali memilihkan dokter kandungan seperti ini.
Sedangkan Dara terpikat melihat wajah Dokter itu, hidungnya tinggi khas wajah orang Arab dengan lesung di kedua pipinya yang menampilkan keramahan sewaktu sedang tersenyum lebar.
"Bolehkah saya berkenalan dengan Nyonya yang cantik ini, siapa namanya?" Dokter itu mengulurkan tangannya. Sedangkan Alehandro menatap tajam ke arah Dara tetapi wanita itu tidak memperhatikan. Hatinya merasa berbunga-bunga ketika dibilang cantik oleh dokter muda itu. Dara hendak membalas uluran tangan itu ketika tangan Alehandro yang membalasnya untuk pertama kali.
"Namanya Dara Cortez. Dia istriku dan selain muhrimnya tidak boleh saling bersentuhan," ucap Alehandro menggenggam tangan Dokter itu keras.
__ADS_1
Dokter itu faham dengan tipe suami seperti Alehandro yang selalu bertindak posesif pada istrinya. Mereka melakukan itu karena sangat mencintai istrinya.
Wajah Dara mengkerut ketika melihat itu. Suaminya itu tidak tahu keadaan saja. Dokter itu adalah dokter yang suka wara-wiri di televisi yang banyak digandrungi banyak wanita dan Dara ingin mengenalnya.