
"Silahkan duduk," ujar David mempersilahkan Bella untuk duduk.
Bella lalu duduk di sebuah sofa berwarna putih yang besar dan panjang. Dia terlihat canggung dengan tatapan David yang tenang namun menghanyutkan.
Pria itu lalu duduk di ujung sofa yang sama. Kakinya di tumpangkan di atas satu kakinya.
Pembawaan Bella yang anggun dan tenang membuat semua mata pria akan terpikat. Belum lagi kecantikan natural wanita itu membuat David yang baru bertemu dengannya menjadi tertarik.
"Saya membawa proposal tentang perusahaan saya. Saya juga melampirkan beberapa contoh desain baju yang sering kami buat. Jika Tuan Sinclair ingin membuat desain yang lain, Tuan bisa mengatakannya pada kami nantinya kami akan produksi sebaik mungkin agar nantinya tidak menemui kecacatan," ujar Bella mulai menerangkan tentang perusahaan.
David mulai membuka map berisi proposal pengajuan itu. Membacanya lembar demi lembar lalu mulai bertanya pada Bella.
"Bagaimana dengan bahan yang akan kalian gunakan?" tanya David lagi.
"Kami akan menggunakan bahan seperti kalian inginkan," jawab Bella.
"Dengan bahan yang kau contohkan tadi, ada produsen lain yang memberi penawaran lebih murah?" ujar David membuat mata lentik Bella terbelalak. Tapi dia langsung menguasai dirinya yang mulai khawatir.
Sebuah senyuman indah dipancarkan oleh Bella.
"Tapi jahitan kami terkenal paling baik dan rapih, kami tidak pernah memproduksi barang secara asal-asalan, anda bisa membuktikannya dengan datang ke pabrik kami," terang Bella.
"Terangkan padaku mengenai baju yang akan kalian produksi?" tanya David dengan meletakkan satu tangannya pada sandaran sofa menghadap Bella.
Bella lalu menerangkan baju kualitas pabriknya yang terkenal karena kualitasnya. Walau sedikit mahal namun baju ini sangat awet dari segi warna dan bahan tidak cepat rusak. Jahitan juga rapih. Pembeli akan merasa puas ketika membelinya.
David mendengarkan dengan terus menatap Bella secara intens sesekali pria itu mengelus dagunya dengan dua jari bersamaan. Membuat fokus Bella kadang-kadang hilang. Dia sering bertemu klien tapi baru kali dia mendapati klien yang membuat perasaannya kacau dan canggung. Semua gerakan yang dilakukan oleh pria itu terlihat biasa saja, tapi itu membuat jantungnya berdebar tidak menentu.
__ADS_1
"Baiklah saya akan memikirkannya, tapi tetap saja harga yang ditawarkan anda lebih tinggi dibanding dengan perusahaan lain sehingga itu akan menjadi point penting bagi kami," ujar David.
Bella menutup matanya sejenak. Harapannya kini telah habis tidak bersisa. Hanya ini satu-satunya jalan agar dia bisa keluar dari permasalahan keuangan perusahaan yang diambang pailit.
"Bisakah saya melihat proposal yang diajuka perusahaan lain? Bukan untuk mencontek hanya saja saya ingin melihat kekurangan yang saya buat kali ini," ujar Bella yang terlihat putus asa.
"Ada tiga perusahaan terbaik di negeri ini yang bisa memproduksi pakaian dalam jumlah besar dan dalam jangka waktu sebentar. Dari yang saya tangkap perusahaan anda kalah jauh di sini, saya hanya khawatir perusahaan anda tidak bisa memproduksi barang sesuai jangka waktu yang sudah kami persiapkan sebelumnya. Tentu ini juga mengurangi nilai lagi selain soal harga!" ungkap David.
Deg!
Mata Bella memerah seketika bayangan tentang perusahaannya yang akan ditutup, karyawannya yang akan berdemo dan lain-lain membuat dia terdiam. Mulutnya tertutup rapat kali ini. Tenggorokannya bergerak gerak menandakan kecemasannya. David yang sudah berpengalaman di dunia bisnis bisa melihat kepanikan itu.
"Tidak adakah cara lain agar aku bisa memperbaiki semuanya, eh memperbaiki proposalnya. Jika kalian mau berinvestasi di perusahaan kami, kami akan menambah karyawan dan alat produksi. Saat ini karyawan yang ada hanya untuk pembuatan dalam negeri saja."
"Ini baju merk terkenal semua outlet nya ada di berbagai belahan dunia. Ini bukan perkara main-main untuk menentukan siapa yang akan kami ajak bekerja sama. Pastinya dengan kualitas terbaik dan harga yang ditawarkan termurah," ujar David membuat air muka Bella memucat.
David menaikkan satu alisnya ke atas senyuman iblis yang sangat tipis terpancar dari wajahnya.
"Kau ingin menyogok ku maaf tapi sayangnya tidak bisa."
"Bukan begitu hanya?" Bella tidak tahan lagi dia akhirnya meneteskan buliran kristal. Dia menengadah dan mengusap bekas air mata itu.
David memberikannya kotak tissue.
"Sudahlah! Ini masalahku, maaf jika aku bertindak lebay pada pertemuan kali ini," ungkap Bella.
"Ceritakan apa yang membuatmu sedih mungkin aku bisa membantu?" ujar David.
__ADS_1
Bella terkejut dengan perhatian pria ini. Dan kesediaannya untuk mendengarkan masalahnya. Padahal waktu sangat berharga untuknya.
"Perusahaan kami akan mengalami pailit dan jika anda mau berinvestasi kami mungkin bisa melewati masa-masa sulit ini," jawab Bella.
"Semua bantuan ada bayarannya!" ujar David.
"Aku bisa saja membantumu keluar dari masalah ini hanya saja apakah ada timbal baliknya?"
"Apapun itu akan saya lakukan!" ucap Bella mantap.
"Kau harus merubah semuanya cara kerja, sistem produksi, pengambilan bahan itu harus dari pusat pembuat terbaik, dan pengetahuanku kurang akan hal itu," ucap David.
"Kalau begitu ajari aku!"
"Kontrak dengan perusahaan ini selama lima tahun, kalian bisa hidup nyaman jika memperolehnya," kata David. Bella menganggukkan kepalanya mendengarkan dengan seksama.
"Aku akan mengajarimu tentang cara berbisnis dengan baik, itu semua memerlukan waktu yang tidak sedikit bukan?" tanya David.
Bella menganggukkan kepalanya lagi dengan patuh.
"Semua ada bayarannya! Tapi apa kau mampu melakukannya?" tanya David lagi.
"Katakan saja apa yang kau inginkan!" tanya Bella.
David berdiri dan berjalan menuju ke arah kursi kebesarannya. Dia lalu berhenti dan membalikkan tubuhnya.
"Aku ingin kau menjadi simpananku selama lima bulan, selama itu pula aku akan mengajarimu apa yang tidak kau ketahui," kata David melihat ke arah Bella.
__ADS_1