Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Perpisahan


__ADS_3

''Aku lelah berbicara dengan wanita keras kepala sepertimu. Kau selalu bersembunyi di balik senyummu padahal isak tangis memenuhi wajahmu setiap malam," ucap Ardi meninggalkan Cinta. Dia memberi tanda kepada orang tuanya untuk meninggalkan wanita itu sendirian.


Cinta mengambil handphonenya dan membuka galeri yang dia kunci. Foto lama Cristian terpajang di sana.


"Haruskah aku kesana dan menemuimu lagi sedangkan ada kebencian dimatamu untukku?" ucap Cinta.


Setelah berdiam diri selama satu jam di kamarnya Cinta lantas bangkit dan mempersiapkan keberangkatannya menuju ke Jakarta.


Satu jam kemudian dia berpamitan pada Ardi dan keluarganya di bandara.


"Aku titip rumah ku selama aku pergi," ucap Cinta.


"Pergilah dan tidak usah kembali, jika kau kembali maka pasti akan menyusahkan hidupku lagi," omel Ardi. Cinta menonjok lengan Ardi.


"Terima kasih karena telah menjadi sahabat sekaligus kakak terbaikku," kata Cinta.


"Kau adalah satu-satunya orang yang berharga di hidup ku selain ayah dan ibu. Tentu saja aku akan melakukan hal yang terbaik untukmu. Jika cintaku tidak bisa menyatukan perasaan kita, maka sayangku akan selalu melekat dihatimu itu harapanku," ungkap Ardi.

__ADS_1


Cinta memeluk tubuh Ardi. "Aku menyayangimu, semoga kau mendapat kan wanita yang lebih baik dari pada aku," ujar Cinta.


"Jika kau selalu menempel padaku, kapan aku akan move on dan kapan aku akan mencari penggantimu," omel Ardi. Cinta tertawa.


"Padahal aku akan kembali setelah mendapatkan Calesta kembali,"


"Cih ... jangan munafik, kau selalu tidur dengan Cristian setiap kali kalian bersama. Aku yakin kali ini dia tidak akan melepaskanmu," kata Ardi.


"Dia yang sekarang berbeda dari dia yang dahulu," kata Cinta.


"Kau sendiri selama ini bisa menjaga diri," kata Cinta.


"Aku berbeda, aku tidak pernah berhubungan lebih dengan seorang wanita bahkan mencium wanita pun aku tidak pernah. Paling hanya sebatas mencium pipimu," ucap Ardi blak-blakan.


Cinta mencubit perut Ardi keras.


"Kalau pria itu sudah tahu bagaimana nikmatnya dan biasanya jika sudah pernah maka tidak bisa lepas dari hal itu. Dan Cristian penganut **** bebas kalau tidak untuk apa dia tidur bersamamu berkali-kali padahal tanpa ikatan. Dan yang membuat aku kesal kau bodoh sekali mau menuruti nafsunya dan turut larut di dalamnya. Aku marah sekali mendenagr hal hal itu, namun semua sudah terjadi bisa apa aku!" tutur Ardi membuat Cinta membelalakkan matanya heran. Selama ini Ardi diam tapi dia punya respon yang dia simpan rapat selama ini.

__ADS_1


"Aku memang bodoh!" ucap Cinta menunduk.


"Aku takut ketika kau pulang malah bawa anak Cristian yang lain dalam perutmu."


Cinta seketika menginjak kaki Ardi dengan keras. Ardi mengasuh kesakitan dan memegang kakinya.


"Kalau ngomong pakai otak!" serunya dengan suara ditahan agar tidak di dengar yang lain.


"Kita buktikan saja, jika aku benar rumahmu akan menjadi milikku. Dan jangan halangi aku dengan urusan anakmu lagi. Aku ingin mencari wanita bukannya jadi baby sister anakmu terus," ledek Ardi.


Gurauan mereka terhenti tatkala para penumpang di suruh melakukan check in.


"Jaga dirimu baik-baik di sana karena kali ini kau hidup tanpa aku," kata Ardi memeluk Cinta.


"Aku sangat menyayangimu," ucap Cinta Ardi mengecup dahi Cinta sebelum cinta masuk untuk melakukan Check in.


Satu orang mengambil gambar mereka berdua dan mengirimkannya pada seseorang.

__ADS_1


__ADS_2