
Kembali pada Maria
Keadaan Maria semakin hari semakin melemah. Penyakit itu dan kehamilannya menggerogoti tubuhnya hingga tubuh mungil itu seperti tulang berbalut kulit saja.
Maria hanya menjalani rawat jalan di rumah dan Alehandro menyerahkan semua tanggung jawab perusahaannya pada orang kepercayaannya agar bisa menemani istrinya dan menemani hari-harinya. Dia sendiri tidak yakin sampai kapan mereka masih bisa bersama. Ini tidak adil. Dia baru saja merasakan cinta dan Tuhan memaksanya untuk menyerah akan nasib.
Keadaan ibunya semakin lama semakin baik. Wanita itu begitu terkejut mendengar berita sakitnya Maria. Dia sedih melihat keadaan Maria dan merasa salut atas kegigihan Maria untuk bertahan agar dia bisa melahirkan anaknya dengan selamat. Semangat itu yang membuat Mom Lusi tergerak untuk bisa sehat lagi dan kembali pulih dengan cepat.
Semua ada hal positif yang bisa kita petik dari setiap masalah yang ada. Jangan terpaku pada hal negatif yang kita dapatkan karena jika itu kita lakukan maka yang ada kita hanya bisa merutuki nasib yang buruk dan tidak pernah bersyukur atas apa yang Tuhan berikan untuk kita.
Masalah ini membuat Alehandro menjadi pribadi yang lebih baik taat beragama dan rajin bersedekah. Dia berharap doa orang-orang itu bisa membantu istri dan anaknya keluar dari lubang kematian.
"Maria," panggil Alehandro di sebelah Maria yang sedang asik membaca aplikasi baca online Noveltoon. Maria menoleh.
"Aku akan pergi untuk membagikan sedekah di sekitar sini, setelah itu aku ke masjid untuk sholat Jum'at jadi aku keluar agak lama."
"Tidak apa-apa,'' jawab Maria.
"Ada ibu Natalia yang akan mengurusmu. Oh aku kok terlalu canggung memanggilnya ibu," ujar Alehandro.
Maria tertawa kecil.
"Aku bahagia kau bisa menerimanya dengan baik sekarang," ujar Alehandro. Maria selalu terlihat tegar dalam menjalani kehamilan yang menyiksanya. Di tidak pernah mengeluh atau mengaduh walau rasa sakit sering dia rasakan. Maria tetap tersenyum.
Alehandro menunduk, memegang kepala Maria dan menciumnya lembut.
"Tetaplah tersenyum dan tertawa untukku," ucap pria itu.
"Kenanglah senyumku bukan tangisku," batin Maria.
"Aku akan selalu tersenyum manis padamu," ujar Maria.
"Aku tahu. Bagaimana dengan jagoanku dalam perutmu ini, apakah dia dalam keadaan baik-baik saja?" tanya Alehandro mencium perut Maria yang telah membesar lalu meletakkan telinganya untuk mendengar detak jantung calon anaknya.
Gerakan kecil di perut Alehandro membuat pria itu berteriak antusias.
"Kau lihat, dia tahu ayahnya sedang menyapa. Wah tendangannya terasa keras," seru Alehandro senang.
__ADS_1
"Dia pasti akan jadi anak yang kuat," ujar Maria.
"Seperti dirimu," lanjut Alehandro menatap manik mata sayu milik Maria.
Maria tersenyum ironi. "Dia akan menjadi pria sepertimu yang menyayangi keluarganya dan selalu baik pada semua orang. Selalu kuat dalam menghadapi cobaan hidup."
"Maria, aku tidak tahu takdir yang menanti kita besok tetapi aku ingin kau berjanji satu hal padaku," kata Alehandro sembari mendesah. Nafasnya kembali terasa sesak. Beberapa bulan ini dia coba untuk tidak memperlihatkan kecemasan atau kesedihan di depan Maria. Namun, kini dia tidak tahan lagi setelah mendengar perkataan Maria.
"Apa?'' tanya Maria yang terdengar lirih.
Alehandro memegang kedua tangan Maria dan menjadikan satu dengan kedua tangannya. Menatapnya dengan penuh cinta dan pengharapan. Dia menarik nafas panjang sebelum mengatakan semua ini.
"Aku ingin kau berjanji berusaha bertahan hidup demi aku. Temani aku hingga kita menua bersama," pinta Alehandro.
"Ale, aku tidak bisa melawan takdir," kata Maria.
"Aku tahu, kita tidak bisa merubah takdir yang Tuhan gariskan. Aku hanya ingin kau berjanji untuk tetap bertahan demi aku, demi anak kita, jangan pernah menyerah karena aku akan selalu ada untuk dirimu," kata Alehandro.
Manik mata Maria bergerak menatap bola mata Alehandro yang bergerak dan berkaca-kaca.
"Maria aku sangat mencintai," ucap Alehandro.
"Aku tahu itu. Dan aku juga sangat mencintaimu," ucapnya.
"Katanya kau akan pergi untuk membagikan nasi kotak, sana keburu siang," ucap Maria mengingatkan tujuan Alehandro tadi.
"Aku hampir melupakannya," ucap Alehandro.
Alehandro lalu duduk di depan Maria lagi menatap matanya. Entah mengapa kali ini dia sangat menyukai mata Maria yang indah. Dia merasakan keteduhan dan kedamaian di sana.
"Pergilah!" kata Maria melihat Alehandro hanya duduk, memegang tangan dan menatap matanya saja.
Alehandro lalu mencium dua tangan Maria dan mencium dua mata wanita itu baru mengecup singkat bibir Maria yang kering dan pucat.
"Aku pergi dulu," kata Alehandro berdiri. Dia ingin melangkah pergi namun langkahnya terasa berat.
"Sana pergi," usir Maria tersenyum. Bukannya pergi Alehandro malah mendekati dan memeluk Maria. Mencium pucuk kepala istrinya.
__ADS_1
"Tunggulah aku pulang, aku hanya sebentar saja," kata Alehandro.
Maria menganggukkan kepalanya. Baru Alehandro berjalan pergi ke arah pintu. Dia membalikkan tubuh lagi dan tersenyum.
"I love you," ucapnya. Maria tertawa kecil dan melambaikan tangannya ketika Alehandro keluar dari kamar dan menghilang ketika kamar mulai di tutup.
Wajah Maria yang tertawa itu mendadak memucat seketika. Timbul kerutan di wajahnya yang menyiratkan kesakitan yang sangat. Dia memiringkan tubuhnya dan menggigit bantalnya sendiri sembari memegang perutnya yang terasa kencang, perih dan sakit secara bersamaan. Rasanya seperti kulit di sayat oleh sebilah pisau. Air matanya luruh.
"Ya Tuhan lindungi anakku semoga dia selamat nanti," doa Maria.
"Alehandro aku mencintaimu," ucap Maria di tengah rasa sakitnya.
Lama dia merasakan itu hingga tanpa sadar dia jatuh pingsan.
Sedangkan di bawah Alehandro, Natalia dan Lusi sedang memasukkan seratus dus makanan ke dalam mobil pria itu.
"Apakah sudah semuanya Mom?" tanya Alehandro sebelum masuk ke dalam mobil.
"Ya, Mom juga memasukkan sedikit yang di dalamnya."
"Sudah sana pergi keburu, siang," ucap Natalia.
"Ya, sudah aku pergi dulu titip Maria, jangan di tinggal lama," kata Alehandro.
"Jangan khawatir kami akan menjaga Maria dengan baik."
Alehandro lalu masuk ke dalam dan menutup pintu mobilnya. Sopir mulai menancap gas dan menjalankan mobil keluar dari rumah itu.
"Semoga doa orang-orang itu bisa membantu Maria mengurangi rasa sakitnya," ucap Mom Lusi.
"Yang terpenting dia dan bayinya bisa selamat," imbuh Natalia.
"Aku senang kau ada di sini hidup akur bersama anakmu," kata Mom Lusi sembari memeluk bahu Natalia.
"Aku juga bahagia Maria bisa menerimaku kembali," ujar Natalia. Seorang pelayan berlari cepat ke arah mereka. Lalu berhenti di hadapan keduanya dengan nafas terengah-engah
"Nyonya Besar, Bu Maria pingsan tidak sadarkan diri," kata pelayan itu.
__ADS_1