
Sebelum Dara sempat menjawab Kris sudah ******* bibir manis Dara. Dara tidak membalas karena tidak tahu bagaimana cara untuk melakukannya. Dia pernah dicium tapi itu karena sebuah paksaan dan sebuah pelecehan.
Bekas wine di bibir Dara masih terasa membuat Kris terus menelusuri mulut Dara, menggelitiknya dan menggodanya membuat keduanya terengah-engah. Dara terlihat pasrah di pelukannya tetapi tidak membuat Kris hilang kendali. Dia menghentikan ciuman itu.
Wajah Dara memerah memandangi pria itu dan dadanya naik turun serta nafasnya masih memburu.
"Kau benar, jika wanita akan selalu menjadi cobaan bagi pria. Baru sehari bersamamu membuatku ingin mencium bibir ini dan aku tidak tahu apa yang akan. kita lakukan jika terus bersama," ujar Kris. Mengelap bekas Saliva mereka di bibir Dara.
"Jangan lakukan lagi karena itu akan membuatku menderita," kata Dara. Dia separuh sadar saat melakukannya. Kris tersenyum lalu menarik tangan Dara dan meletakkannya ke atas pundak. Sedangkan tangannya dia sematkan di pinggang wanita itu.
Di tempat lain Maria sedang makan malam bersama Alehandro di pusat perbelanjaan. Tumpukan barang-barang terlihat memenuhi kursi sebelah mereka. Alehandro menepati janjinya dengan membelikan semua baju, tas sepatu dan semua kebutuhan Maria.
Maria yang tidak pandai dalam urusan ini menyerahkan semuanya pada Alehandro untuk memilih barang apa yang cocok untuknya. Alehandro pun dengan sabar menerangkan pada Maria barang apa yang terlihat bagus untuknya.
"Apa kau lelah?" tanya Alehandro mengusap kening Maria yang berkeringat.
"Sangat tetapi puas, terima kasih," kata Maria mengecup pipi suaminya.
"Ini tidak gratis," kata Alehandro.
"Aku tahu! Kau sudah mengatakannya ratusan kali selama kita berbelanja."
"Bagaimana jika malam ini kita ke hotel, anggap sebagai bulan madu yang tertunda," ajak Alehandro.
"Ish, kau pelit. Seharusnya kau mengajakku ke Italia atau Perancis untuk bulan madu setidaknya Bali, bukannya hotel di Jakarta sana" ujar Bella.
"Baiklah tetapi tidak bulan ini karena pekerjaanku masih banyak. Ditambah lagi aku mengambil waktu libur tadi. Aku tidak tahu apa yang akan menantiku besok pagi," kata Alehandro.
Maria lalu memegang tangan Alehandro. "Aku tahu kau sibuk mengurus bisnis ini. Aku tidak memaksamu sama sekali, kita bisa menunggu saat kau siap!"
"Aku beruntung memiliki istri sepertimu yang sangat pengertian." Mereka lalu melanjutkan makan malam.
"Alehandro?" panggil seorang wanita menepuk bahu pria itu. Alehandro dan Maria langsung menoleh ke belakang, asal suara itu berada.
__ADS_1
Alehandro langsung tersedak melihat siapa wanita yang memanggilnya. Dia mengambil air minumnya dan meminum hingga habis.
"Natalia, kau di sini juga?" tanya Alehandro, dia lalu menoleh ke arah istrinya.
"Ya, aku sedang menunggu temanku dan aku melihat kalian ada di sini," kata Natalia yang terkejut melihat Alehandro bersama wanita yang dia lihat di pesta Cristian.
"Apa kalian?" tunjuk Natalia pada Alehandro dan Maria.
"Dia adalah istriku," kata Alehandro membuat Natalia membuka mulutnya lebar. Seorang Casanova sepertinya bisa menjalin hubungan serius dengan seorang wanita dan itu adalah wanita muda pula. Cantik tetapi terlihat polos.
"Wow!" hati Natalia merasa sedikit kecewa mendengar penuturan Alehandro. Sebelumnya dia berharap bisa menjalin kebersamaan lagi dengan pria itu.
"Selamat ya!" ucap Natalia. Dia lalu menyalami keduanya.
"Terima kasih," jawab Dara kecut. Dia menghela nafas kecut. Dia bisa melihat raut kecewa dari ibunya itu. Andai Alehandro belum menikah dengannya pasti ibunya akan mendekati suaminya. Maria melemparkan pandangannya ke arah lain.
"Sebaiknya aku kembali saja ke tempat dudukku karena mungkin kehadiranku akan mengganggu kebersamaan kalian."
"Tunggu Nat," panggil Alehandro ketika Natalia hendak membalikkan tubuhnya.
"Aku ehm sebenarnya kami ingin membicarakan sesuatu denganmu," cetus Alehandro. Mata Maria sudah memerah dan dadanya sudah merasa sesak. Dia menundukkan kepalanya. Satu tangannya digenggam erat Alehandro.
" Duduklah ini masalah serius," kata Alehandro menunjuk tempat duduk di hadapannya. Natalia akhirnya mengikuti instruksi Alehandro.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Natalia yang terlihat penasaran karena melihat Maria menyeka sedikit air matanya. Dia merasa tidak mengenal wanita itu sebelumnya tetapi istri Alehandro ini terlihat menyembunyikan beban dihatinya dan Natalia bisa merasakan hal itu.
"Apa kau tidak mengenali istriku?" tanya Alehandro. Natalia menyatukan dua alisnya menatap Maria, sehingga terlihat jelas garis-garis diantara keduanya. Dia coba mengingat tetapi tidak tahu mengapa dia sangat kenal dengan mata wanita itu. Dia pernah melihatnya di mana?
Natalia lalu menggelengkan kepalanya.
"Apa kau tidak bisa mengenalinya dengan hatimu?" tanya Alehandro membuat isak tangis Maria bertambah keras. Dia lalu meletakkan kepalanya di bahu Alehandro dan melihat ke belakang. Tidak sanggup untuk mendengar jawaban Natalia.
Bagaimana bisa seorang ibu tidak merasakan kehadiran anaknya atau setidaknya punya perasaan khusus padanya. Maria kecewa. Sangat kecewa.
__ADS_1
"Apa maksudmu Alehandro aku tidak mengerti," kata Natalia.
"Kita pulang saja dan hentikan ini. Toh aku tidak membutuhkannya," pinta Dara pada Alehandro membuat Natalia makin penasaran.
"Sebenarnya ada apa ini?" tanyanya dengan setengah emosi.
Maria berdiri hendak pergi tapi tangan Alehandro mencelanya dan menarik Maria duduk lagi.
"Duduk dan kita selesaikan semua ini!" kata Alehandro pelan pada Maria.
"Tapi," kata Maria parau dan tercekat.
"Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja." Maria menatap mata suaminya dan kembali duduk.
"Natalia, bukankah kau dulu hamil dan punya seorang putri. Sekarang di mana dia?" tanya Alehandro.
"Dia ... ," Natalia menatap Dara. Dia lalu menggelengkan kepalanya. Dia sudah mencoba melupakan masa lalunya dan akankah masa lalu itu akan kembali padanya.
Natalia memegang dahinya dan membuka mulutnya. Mata itu dia kenal dan itu seperti matanya sendiri. Tidak mungkin jika istri Alehandro adalah anaknya. Ini terdengar sangat konyol.
Natalia menghembuskan nafas kasar dan melambaikan tangannya sembari melihat ke atas. Menahan buliran air mata yang hampir turun. Dia lalu menatap Alehandro seolah bertanya apakah itu anaknya?
Alehandro menganggukkan kepalanya. Natalia memejamkan matanya erat. Menetralisir emosinya. Dia menyeka air yang keluar dari hidungnya.
"Jadi kau adalah anakku?" tanya Natalia pada akhirnya sembari menyeka buliran kristal di pelupuk matanya.
Maria menggigit keras bibirnya, melihat ke arah lain enggan untuk melihat wajah ibunya. Tetapi air matanya terus mengalir seperti anakan sungai yang deras.
Alehandro terkejut melihat tanggapan Natalia yang terkesan cuek. Dia kira Natalia akan bahagia karena telah menemukan anaknya. Inikah yang menyebabkan Cristian enggan untuk mengenalkan Maria pada ibunya.
"Aku begitu terkejut hingga tidak tahu harus mengatakan apa," kata Natalia. Dia lalu berdiri dan menegakkan tubuhnya.
"Aku kira, aku bisa menebak jika kau pun tidak menginginkannya, jadi kita butuh waktu untuk berpikir dan menata hati kita. Aku akan pergi dan akan menghubungimu ketika kita berdua telah siap untuk berbicara," lanjutnya Natalia.
__ADS_1
Natalia lalu berjalan keluar dari meja mereka.
"Alehandro jaga anakku dengan baik. Jangan kau permainkan dia," kata Natalia lalu berjalan pergi tanpa mengatakan apapun lagi.