
"Aww, sakit Dara pukulanmu masih sekeras dulu," ujar Alehandro. Bulu mata tebal dan lentik mili Dara bergerak indah ketika matanya yang bulat melebar. Membuat Alehandro tertawa hingga tersedak. Dara lalu memberikan gelas ditangannya pada pria itu.
Alehandro meminumnya lalu melihat gelas itu. Ada bekas noda merah berbentuk bibir.
"Bekasmu?"
"Aku lupa, maaf, reflek terbiasa jika bersama Rose," ucap Dara. Alehandro menatapnya intens.
"Aku tidak terkena penyakit yang menular seperti rabies atau virus mematikan," ujar Dara santai. Dia lalu mengalihkan pandangan ke arah lain menenangkan detak jantungnya yang berdegub kencang merasakan tatapan Alehandro yang serasa menyentuh sanubarinya.
Apa ini! Batin Dara. Sesuatu yang tidak pernah dia rasakan, tatapan mata pria itu membuat darahnya mendesir cepat. Membuatnya salah tingkah.
Salah seorang pegawai Dara datang menghampiri Dara. Dia lalu menyapa Alehandro. Setelah itu berbicara dengan DAR.
"Permisi Bu, makanan sudah habis, mau dibereskan sekarang?" tanya pegawai Dara dengan logat Bali kental.
"Boleh, Bli bawa semuanya ke mobil setelah merapikan semuanya," perintah Dara.
"Baik Bu," kata pria itu lalu pamit.
"Ale, aku harus pergi untuk membantu pegawaiku," ujar Dara pamit.
"Bolehkah aku main ke tokomu?" tanya Alehandro.
Dara terkejut mendengarnya, sejenak dia terdiam dan menelan Salivanya dalam-dalam. Sudah terlambat untuk bersembunyi lagi. Berhubungan dengan Alehandro sedikit membuatnya takut jika Kris akan tahu letak keberadaannya. Dara menghela nafas.
"Ale, aku... ," lirih Dara.
"Aku tidak akan mengganggumu, aku janji," ucap Alehandro.
"Aku ... ," begitu sulit untuk Dara mengatakan apa perasaannya takut jika melukai perasaan Alehandro.
Seperti mengerti keraguan Dara Alehandro memegang tangan Dara.
"Kenapa? Aku tidak akan menggigitmu atau Rose," ujar Alehandro.
"Ya, Tuhan Alehandro kau selalu begitu. Baiklah kau boleh ke rumah tapi jangan beritahu dimana aku berada pada siapapun!" pinta Dara.
"Dan kau jangan kabur lagi. Kau itu terbiasa lari dari masalah!"
__ADS_1
"Aku hanya tidak ingin menambah masalah siapapun," aku Dara menatap Alehandro.
"Kau bukan masalah bagiku," sahut Alehandro.
"Jika kau kira kau adalah sumber masalahku."
Dara tersenyum canggung menarik tangannya dari genggaman Alehandro, lalu berdiri merapikan baju dan rok spannya.
"Kau terlihat lebih berisi Dara," ungkap Alehandro. Satu tangannya di sandarkan di kursi menatap Dara.
Dara menyipitkan mata dan menatap pria itu tajam. Hidungnya yang kecil dan tinggi mengembang dan mengempis bergantian.
"Di tempat yang seharusnya," imbuh pria itu membuat wajah Dara bertambah panas. Dia lalu menghentakkan highless ke tanah dan pergi meninggalkan pria itu dengan bergumam sendiri.
"Dasar pria mesum pikirannya selalu berkaitan dengan ************ saja dan tubuh wanita," dengus kesal Dara.
Wanita itu lalu mulai membantu pegawainya memberikan barang bawaan mereka lalu membawanya ke mini bus yang terparkir dekat dengan pintu samping hotel.
"Di mana Rose?" tanya Dara pada pegawainya yang bertugas menjaga anak itu.
"Dia ikut bersama Tuan yang tadi, pemilik hotel ini," jawab pegawai itu.
"Ibu kok bisa kenal dekat dengan pemilik hotel mewah ini?" tanya Men Sarti.
"Dia adalah suami dari teman karibku," jawab Dara.
"Oh, dia sudah menikah! Kalau belum cocok bersama Ibu," ujar pegawainya lagi.
"Kalian ini! Aku tidak sederajat dengan mereka. Aku hanya wanita dari kalangan tidak cocok dengan kehidupan mereka," ujar Dara.
"Ibu merendah, padahal sekarang ibu sukses punya toko roti dan kue, juga katering makanan yang sukses."
"Sukses itu penilaian kalian mungkin bagi yang lain aku bukanlah apa-apa hanya seonggok sampah," Dara menarik nafasnya. Selama ini dia menutup rapat masalah pribadinya pada orang lain.
"Wah cantik kayak berlian kok dibilang sampah. Jika diterima aku juga mau jadi bapaknya Rose," ujar Radit.
"Bli ini bisa saja," ucap Dara.
__ADS_1
"Sudah masuk semua, Bu. Kami pergi terlebih dahulu," pamit tiga orang pegawai Dara.
"Hati-hati."
"Semoga berhasil, Bu," kata Men Sarti.
"Berhasil apanya?"
"Berhasil menggaet duda tampan," ujar mereka bersamaan.
Setelah kepergian tiga pegawainya, assisten Alehandro mendekat ke arah Dara.
"Nona, Anda ditunggu oleh Pak Alehandro di kamarnya," ujar pria itu.
"Ehm, anakku," tanya Dara.
"Dia sedang bermain bersama Tuan Muda di kamar."
Dara lalu mengikuti asisten Alehandro menuju kamar suit presiden milik pria itu. Sesampainya di luar pintu sang asisten membukakan pintu kamar lalu menutupnya lagi.
Dara masuk ke dalam kamar Alehandro, melihat ke sekeliling dan menemukan Kaisar dan Rose yang berbaring di depan televisi. Mereka terlihat tertidur pulas.
Alehandro lalu keluar dari kamarnya dengan pakaian yang terlihat lebih santai.
"Eh, mereka sudah tertidur," ujarnya. Dara mengangkat bahunya.
"Aku menyuruh mereka menunggumu sembari menonton televisi, lalu aku masuk ke kamar untuk mengganti pakaian," lanjutnya lagi.
"Ya, sudah biarkan saja. Rose sudah bangun dari subuh mungkin dia lelah." Dara lalu mengambil bantal di sofa.
"Biarkan aku pindahkan mereka ke tempat tidur," ujar Alehandro.
"Ide yang bagus," imbuh Dara, mereka lalu membawa anak-anak ke tempat tidur.
Setelah itu mereka berdiri sembari menatap kedua anak itu bersamaan.
"Aku tidak mengira Kaisar akrab dengan Rose secepat itu."
"Karena mereka sudah saling mengenal dari kecil. Kaisar sering kupangku jadi terbiasa dekat dengan Rose yang masih ada di perutku," kata Dara.
__ADS_1
"Kau benar, mereka pasti akan lebih dekat jika sering bersama," ucap Alehandro menatap Dara.