
Kris ingin mengucapkan sesuatu tetapi di tahannya. Dia lalu memejamkan matanya lagi menikmati usapan lembut Dara di kepalanya. Usapan ini seperti usapan sayang ibunya dahulu. Kris merasakan kenyamanan yang sama.
"Dara usapan ini seperti usapan ibuku, penuh kasih sayang. Sayang, aku tidak bisa lagi menemuinya. Dia tinggal di Kuningan, di sebuah desa kecil. Dia menyerahkan ku pada kakek. Kakek menerimaku dengan syarat ibu tidak boleh menemuiku lagi. Ibu menyetujuinya."
"Itu saat terpedih dalam hidupku, menyaksikan orang yang paling aku sayangi pergi dari hidupku. Satu kalimat ibu yang tetap membuatku bertahan, 'Kau boleh kembali ketika kau sudah memiliki semua hak mu. Jadilah cucu Danuraja yang terbaik dan jangan pernah permalukan diriku karena kau lahir dari rahim seorang wanita dari kalangan biasa. Buktikan bahwa ibumu telah melahirkan anak hebat sepertimu,'' ucap Kris perih membuat Dara terdiam ikut merasakan sakitnya.
"Untuk itu aku melakukan semua yang Kakek inginkan, bekerja bersama Tuan Alehandro untuk belajar banyak darinya sebagai bekal untukku mengurus perusahaan besar yang akan diwariskan kepadaku nantinya."
"Ibumu benar, orang yang sangat mencintaimu pasti akan melakukan yang terbaik untukmu. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaannya juga."
"Sama sepertiku, aku akan melakukan semua yang terbaik untukmu."
"Kau benar, karena itu aku ingin membuktikan padanya jika aku bisa mewujudkan mimpinya sehingga aku bisa pulang kembali ke rumah menemuinya," ujar Kris tersenyum.
"Kau pasti bisa! Kejarlah mimpimu hingga kau bisa bertemu dengan ibumu lagi. Karena di saat itu, aku orang yang paling ikut bahagia melihat kebahagiaanmu," ujar Dara. Kris memandangnya dengan rasa kekaguman yang tinggi.
"Oh, Dara. Kau memang wanita yang paling mengerti aku!" cetus Kris. Dia lalu memeluk Dara erat dan mulai menutup matanya dengan seulas senyum yang lebar menghiasi wajahnya.
Mendengar nafas Kris yang telah teratur Dara mulai bangkit dari tempat tidurnya. Dia menahan rasa sakit yang teramat sangat di bagian pangkal pahanya.
"Huft!" Dara menghembuskan nafas. Dia lalu berjalan mengambil bajunya yang tergeletak di lantai, memakainya dan berjalan pelan keluar kamar setelah mengambil ponsel miliknya. Dia pergi ke kamar Kris, disamping kamarnya. Membuka pelan kamar itu dan masuk ke dalam. Dia lalu menuju nakas di samping tempat tidur Kris dan mulai membuka laci itu.
Dia lalu melihat foto seorang wanita mencium seorang anak berusia delapan tahunan. Dia pernah melihat foto ini sebelumnya ketika membersihkan kamar Kris. Di belakang foto itu ada alamat dari si wanita pemilik foto yang Dara yakini adalah ibu dari Kris.
Dara lalu memfoto alamat serta gambar foto itu. Setelah itu dia kembali keluar kamar Kris. Menarik nafas panjang dan menahan air matanya.
Dia kembali membuka pelan pintu kamarnya dan melihat Kris yang telah tertidur lelap.
"Selamat tinggal Kris terimakasih atas semua hal yang kebahagiaan yang pernah kau berikan. Aku mencintaimu," gumam Dara lirih. Tak terasa air mata lirih begitu saja dari pelupuk mata Dara. Dia lalu turun ke bawah, mengambil koper yang telah dia siapkan sedari tadi siang di belakang kursi ruang tamu. Menatap kembali bangunan yang telah ditinggalinya dan menjadi rumah pertama untuknya pulang. Tempat dimana dia bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang.
"Selamat tinggal," gumamnya pelan.
Dia lalu keluar dari rumah itu dan menyeret kopernya. Langkah kakinya terasa berat untuk meninggalkan semuanya. Tetapi dia harus melakukan itu karena dia tidak ingin menjadi batu sandungan Kris dalam mewujudkan mimpinya.
Dara masuk ke dalam lift dan melihat ke pintu penthouse. Menarik nafas dalam dan melihat pintu lift mulai tertutup.
__ADS_1
Dara menundukkan wajah dan menyeka air matanya.
***
Tiga jam kemudian Dara menghubungi Maria dari dalam taksi yang dia sewa.
"Maria," panggil Dara.
"Ya, ada apa! Tolong taruh vas itu di sana!" suara Maria dari balik telephon.
"Maaf Dara aku sedang sibuk mengurus acara pengajian nanti sore," ujar Maria.
"Aku punya berita bahagia untukmu. Kau akan jadi seorang Tante karena aku sedang mengandung," teriak Dara terdengar girang dan bahagia.
"Selamat, aku turut bahagia melihat kebahagiaanmu;" balas Dara.
"Aku ingin kau datang bersama Kris siang nanti," imbuh Maria.
"Maria, aku berada di luar pintu gerbang rumahmu. Aku ingin mengatakan sesuatu."
Tidak lama bagi Dara untuk menunggu Maria keluar dari rumahnya. Dia lalu membuka pintu taksi itu.
"Ada apa Dara kau terlihat kacau," ucap Maria khawatir melihat keadaan Dara yang berantakan dengan wajah masih sembab.
"Aku pergi dari rumah Kris tanpa pamit," ucap Dara.
"Kenapa, apakah dia menyakitimu? Atau melakukan hal buruk padamu?" cecar Maria menyentuh kedua lengan Dara.
"Tidak , dia tidak pernah menyakitiku hanya saja. Rasa cintaku tidak terbalaskan dan aku tidak mau sakit dengan terus berada di sebelahnya. Bukankah kau tahu jika dia akan menikah satu bulan lagi," jawab Dara dengan tersenyum sembari menyeka air matanya.
Maria memeluk tubuh Dara. "Aku mengerti, sebaiknya kita masuk dan membicarakan ini semua dengan tenang," ujar Maria.
"Tidak aku harus pergi secepatnya, pesawat yang sudah aku pesan akan terbang satu jam lagi," kata Dara.
"Kau mau pergi?" tanya Maria.
__ADS_1
"Untuk itu aku menemuimu, aku ingin melupakan semuanya untuk sementara waktu. Suatu hari nanti aku akan kembali untuk melihat kebahagiaanmu," ujar Dara.
"Kau akan meninggalkan saudaramu sendiri di sini?" tanya Maria tidak rela. Dia lalu mendekap erat Dara.
Dara menengadahkan wajahnya dan menyeka hidungnya yang basah.
"Aku bukan meninggalkanmu, aku hanya ingin memulai hidup baru untuk sementara waktu. Suatu hari nanti aku akan kembali untuk menemuimu ketika hatiku sudah tenang kembali," kata Dara.
"Ini tidak adil, aku baru mendapatkan berita tentang kehamilanku tetapi kau malah pergi dari hidupku. Dara ku mohon jangan pergi jauh dariku, kau adalah satu-satunya teman dan saudara yang kumiliki," pinta Maria. Dara merenggangkan pelukannya sehingga bisa melihat wajah Maria.
"Aku pergi untuk sementara waktu bukan untuk meninggalkanmu dan persahabatan kita selamanya," ujar Dara terkekeh.
"Tetapi?"
"Relakan aku untuk kebahagiaan ku," pinta Dara.
Mengusap air mata Maria.
"Aku sangat menyayangimu," ucap Maria memeluk kembali Dara.
"Aku juga," jawab Dara.
Maria melepaskan pelukannya. Dia mengambil gelang yang tersemat di tangannya dan menyerahkannya pada Dara.
"Maria aku," kata Dara. Maria menggelengkan kepalanya dan menggelengkan kepalanya. sembari tetap memegang tangan Dara.
"Ini tanda cintaku padamu, cinta seeorang saudara pada saudari wanitanya. Jika kau menolaknya maka kau menolak persaudaraan kita," kata Maria.
"Jika aku bisa, aku ingin mencegah kepergianmu, aku akan menyediakan tempat tinggal untukmu tetapi kau punya hak untuk menentukan hidupmu sendiri," imbuh Maria.
Dara tersenyum dan menyeka air matanya. "Terima kasih Maria, aku akan kembali suatu hari nanti."
Dara lalu masuk ke dalam mobil dan mereka berpisah setelah itu. Di saat bahagia mengapa harus ada kesedihan. Maria tidak tahu apa yang terjadi dengan Dara tetapi dia melihat rasa sakit di matanya yang pernah dia rasakan. Dia tidak ingin menghalangi wanita itu pergi untuk mencari hidup baru yang bisa membahagiakan hidupnya. Dara terlalu banyak menyimpan deritanya sendiri dan dia tidak ingin menambah penderitaannya.
"Dara semoga kau menemukan kebahagiaanmu," gumam Maria.
__ADS_1