Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Pengkhianat


__ADS_3

"Jika kau memang mencintaiku menikahlah denganku. Jika mereka adalah keluargamu maka mereka akan menerima hal ini walau terasa sakit pada awalnya, tetapi kejujuran itu lebih penting dari pada membohongi diri sendiri," ucap Cristian memberi pengertian pada Cinta.


"Kau tidak mengerti ... ,"


"Katakan semuanya agar aku mengerti. Jangan hanya diam dan menangisi nasib saja karena itu tidak akan membantumu sama sekali, kau harus berani mengungkapkan apa mau mu itu."


Prank!


Sebuah suara benda jatuh terdengar dari luar pintu kamar membuat Cinta dan Cristian membeku di tempatnya.


"Kau sembunyi dulu, biar aku saja yang melihatnya," bisik Cinta menarik tangan Cristian agar sembunyi di bawah kolong tempat tidur.


Bagai seorang maling yang hampir ketahuan Cristian mengikuti interuksi Cinta untuk bersembunyi. Cristian yang biasa terlihat garang kini berada di bawah kolong hanya karena seorang wanita. Turun reputasinya jika ada yang melihatnya.


Cinta mulai membuka pintu kamarnya dan melihat keluar. Dia terkejut ketika mendapati Ardi yang datang dengan membawa sebuah segelas susu untuknya.


"Susu untukmu, kau selalu meminumnya sebelum tidur. Hari ini ibu terlalu lelah jadi aku yang membawakannya untukmu," ucap Ardi tulus. Matanya melihat ke dalam mencari sesuatu.


Pria itu tersenyum cerah. Cinta memusatkan pandangannya ke sebuah vas kaca yang berada di atas meja dekat jendela pecah.


Ardi mengerti kemana arah mata Cinta. Dia tersenyum kembali, "Tadi Catty hendak menangkap cicak dan tidak sengaja menjatuhkan vas bunga itu. Kau tidur saja, aku nanti yang akan membereskannya."


Cinta bernafas lega karena Ardi tidak mencurigainya dan yang terpenting adalah itu bukan ibu atau kak Bella yang memergokinya sedang bersama Cristian.


"Terima kasih susunya. Aku lelah mau tidur lagi," ucap Cinta mengambil susu itu dari tangan Ardi.


"Kau berhati-hatilah. Jangan terlampau memikirkan segalanya. Ingat tentang rencana yang kita buat, aku harap kau tidak berubah pikiran setelah ini," ucap Ardi.


Melihat perangai buruk Cristian yang pemarah membuat Ardi tidak rela jika Cinta menjadi milik pria itu. Dia takut Cinta akan tertekan jika hidup bersamanya.


Cinta menganggukkan kepalanya dan menutup pintu kamar.


Cristian yang mendengar pembicaraan mereka mengepalkan tangan ingin menghajar Ardi lagi dengan tangannya. Secara tidak langsung Ardi menyuruh Cinta agar berhati-hati dengannya.

__ADS_1


Cristian segera keluar dari tempat persembunyiannya ketika pintu mulai ditutup.


"Bi ... ," mulut Cristian segera di bekap.pleh tangan halus milik Cinta.


"Sutt...jangan menarik perhatian orang-oramg, untung Ardi tadi yang datang jika kak Bella atau ibu yang datang bisa timbul masalah nantinya." Cinta menatap mata Cristian.


"Kau pulanglah ke rumahmu," pinta Cinta.


"Tidak, bahkan itu lebih baik jika mereka tahu keberadaanku di ranjangmu," ujar Cristian.


"Kau gila," bentak Cinta dengan nada yang sangat lirih.


"Ya benar, aku gila karenamu," ucap Cristian. "Dan aku akan selalu ada untuk anak kita."


"Ini tidak semudah yang terlihat,"


"Kau mengatakan hal itu terus menerus tapi kau tidak mau menjelaskannya," ungkap pria itu.


"Aku akan pergi ke rumahmu besok dan membicarakan masalah ini," kata Cinta.


"Tidak! Aku tidak ingin membuat masalah lagi dengan kedatanganmu, kau cukup tunggu aku dirumah saja."


"Baiklah jika kau memaksa. Tapi sebelum pergi aku ingin mencium bibirmu terlebih dahulu, aku merindukannya Cinta," pinta Cristian.


"No!" ucap Cinta namun bibirnya di bekap terlebih dahulu oleh Cristian. Pria itu memaksanya dengan mempermainkan lidah agar Cinta membuka mulutnya. Cinta terbawa oleh suasana yang Cristian ciptakan, jika ada yang mengatakan dia murahan dia memang murahan jika bersama pria itu. Masing-masing akhirnya terhanyut dan menikmati ciuman itu lama.


"Oh, Cinta jika saja aku tidak teringat perkataan Ardi aku ingin memakanmu malam ini, hanya saja aku menunggu waktu itu tiba, waktu di mana aku resmi menjadi suamimu kelak. Semoga kesabaranku kali ini berujung manis," ucap Cristian setelah mereka melepaskan tautan itu.


"Dan ini adalah ciuman terakhir kita, karena setelah ini akan kupastikan kau akan membenciku Cristian," batin Cinta.


"Aku akan menunggumu besok," ucap Cristian mengecup bibir mungil Cinta dan berjalan


menuju balkon kamar Cinta. Cinta mengikutinya di belakang tubuh Cristian yang tegap. Dia melewati pagar pembatas dan berdiri menghadap Cinta.

__ADS_1


"Ingat kau adalah milikku Cinta dan takdirmu itu hanya mencintaiku sampai kapan pun," ucap Cristian sebelum berbalik. Pria itu lalu melompat turun dan mendarat dengan sempurna dari lantai dua kamarnya. Cinta tercengang melihat kegesitan Cristian. Dia tetap berdiri melihat bagaimana cara Cristian keluar dari rumah.Dia pandai sekali mengecoh para Satpam itu dan berhasil keluar dari rumah tanpa ketahuan.


Riska sendiri bisa melihat kepergian Cristian dari jendela kaca di ruang santai lantai dua. Dari awal dia sudah curiga dan kecurigaan dia memang benar adanya. Dan Vas itu pecah karena ulahnya. Dia ingin agar Cristian pergi dari rumah ini tanpa membuat keributan.


Riska memijit kepalanya yang pening. Dia duduk di kursi kesayangannya dengan lemas. Apakah caranya menekan Cinta akan efektif? Sepertinya tidak, karena mereka masih bertemu secara sembunyi-sembunyi.


Apakah ini memaksakan ini akan baik juga untuk Bella? Hati Riska mulai gundah. Dia takut Bella menjadi korban dari tingkah laku Cinta yang dinilainya salah. Rasa benci Riska pada ibu Bella mulai muncul kembali setelah lama terkubur.


"Sri, tidakkah kau melihat kelakuan anakmu yang sepertimu. Kalian sama-sama merampas apa yang telah menjadi milik kami. Belum cukupkah rasa sakit yang kau berikan sehingga kau menurunkan sifat khianat pada anakmu? Apa salah kami padamu sehingga kau menaburkan racun setiap saat ke dalam hidupku dan anakku," gumam Riska yang menangis dalam diam.


"Bu!"panggil Cinta yang melihat Riska menangis sendiri.


"Jangan pernah kau panggil aku dengan sebutan ibu jika sifat ibumu masih melekat pada dirimu. Tidak Cinta ... pergilah dari hadapanku!"


"Bu, maaf ... aku tidak bermaksud ... ," kalimat Cinta terputus melihat tanggapan Riska.


Riska merenggangkan tangannya ke hadapan Cinta.


"Cukup ... cukup ... pergilah aku tidak mau melihat wajahmu untuk sementara ini. Wajahmu mengingatkanku pada sosok ibumu yang mengkhianatiku," ucap Riska.


Dada Cinta terasa sakit jika Riska mengungkit hal itu.


"Aku hanya mengenalmu sebagai ibuku," isak Cinta.


"Tapi kenyataannya kau itu bukan darah dagingku. Jika kau menganggapku sebagai ibumu kau akan selalu menurut padaku seperti yang selalu Bella lakukan. Kau adalah duplikat Sri, seorang pembantu yang mengkhianati dan menggoda suami majikannya."


"Riska! Jaga kata-katamu!" teriak Setiawan dari arah pintu mengagetkan semua orang yang ada di sana.


***


Like


Votenya

__ADS_1


Dan jangan lupa komennya yah


__ADS_2