
Bela tidak sanggup untuk melihat hal itu lagi. Dia menggerakan mundur kursi rodanya.
"Apakah dia akan baik-baik saja dan kembali pulih seperti sediakala?" tanya Bella pada semua orang yang ada di sana.
Bella tidak sadar dia menahan nafas hingga dadanya terasa seperti terbakar. Perlahan dia menghembuskan nafas dan memaksakan diri melemaskan tangannya.
"Semua tergantung dari tiga hari ini. Jika dia bisa sadar pada waktunya maka kemungkinan besar dia bisa selamat tapi jika setelah tiga hari dia belum sadar dokter akan memeriksa dan mengevaluasi lagi adanya komplikasi atau tidak pasca operasi," terang Tuan Robby.
"Saran dokter adalah kita harus mengajak berbicara dan memotivasinya untuk bertahan hidup. Kukira, hanya kau yang bisa melakukan hal ini Bella. Kau harus memberi semangat padanya untuk bangun dari tidurnya," kata Setiawan menyemangati anaknya.
Bella menganggukkan kepalanya. Dia teringat kembali saat David hampir kehilangan nyawanya kemarin.
"Tapi bagaimana jika aku tidak berhasil? Apakah dia akan tetap seperti itu?" tanya Bella.
__ADS_1
"Kau harus tetap optimis, Sayang," ucap Riska.
Bella lalu menganggukkan kepalanya. Riska ingin mendorong kursi rodanya ke dalam tapi a menolaknya. Dia lalu berdiri dan mengambil botol infus dari tangan Naura.
"Aku bisa sendiri dan aku mau berbicara berdua dengannya," pinta Bella. Sejenak dia terdiam memandangi pintu kamar, dia terlalu takut untuk masuk ke dalam. Ketakutannya pada Rumah Sakit kembali mengiringi langkahnya tapi David, pria yang paling dia cintai kini sedang membutuhkan dirinya. Bella lalu memejamkan matanya. Duka dan penyesalan terhadap apa yang terjadi pada mereka melanda hatinya. Jika saja dia bisa memaafkan David sedari dulu maka hal ini tidak akan terjadi. David membuktikan cintanya pada Bella begitu besar hingga rela mengorbankan nyawanya.
Akhirnya dia membuka pintu dan masuk. Ruangan itu begitu besar dan gelap hanya di terangi cahaya dari kamar mandi. David berbaring di tempat tidur berbagai peralatan medis berada di sisinya.
Dada David nyaris tidak bergerak karena nafasnya yang pendek. Tiba-tiba semua yang terjadi kemarin mengurung Bella dalam hantaman yang menyakitkan.
Dia tidak akan pernah melupakan wajah David yang masih sempat mengatakan cintanya di saat nyawanya sedang diujung tanduk. Bodohnya dia tidak langsung menjawab ucapan itu. Seharusnya Bella mengungkapkan cintanya dari dulu pada David tapi karena keegoisan dan keangkuhannya dia enggan untuk mengatakan bahwa dia sangat mencintainya. Bella menjatuhkan wajahnya di pinggiran tempat tidur David, air mata penuh penyesalan mengalir di pipinya. Dia lalu menyalipkan jemari di bawah tangan David dan mengecupnya perlahan.
"David, bangunlah, aku dan bayi kita membutuhkanmu saat ini. Aku mencintaimu dan sangat merindukanmu... ," ucap Bella serak. Dia tidak sanggup lagi meneruskan kata-katanya.
__ADS_1
Perlahan dia merasakan gerakan dari tangan David. Bella tertawa dalam tangis. Mata David mulai terbuka. Dia tersenyum melihat Bella ada di sampingnya dan selamat.
Lalu matanya kembali tertutup. Bella yang melihat hal itu panik. Dia mencopot jarum infus dari tangannya sehingga darahnya menyiprat lantai dan sebagian tempat tidur dan pergi berlari keluar ruangan.
"Dokter-dokter cepat datang! Dia ... dia membuka mata lalu menutup lagi," teriak Bella panik, yang segera disambut oleh keluarganya.
Setiawan lalu menangkup pipi Bella.
"Ada apa?" tanya Setiawan. Naura yang melihat segera berlari memanggil Dokter berjaga untuk datang.
"Dia membuka mata lalu memejamkan nya lagi. Aku takut jika dia akan meninggalkan aku Ayah tolonglah dia! Bangunkan dia! Aku tidak suka melihat keadaannya seperti itu," isak Bella dalam pelukan ayahnya. Dia sangat takut jika David telah tiada.
Dokter lalu datang dan memeriksa David. Perawat menyuruh mereka semua keluar dari ruangan David. Tidak lama kemudian Dokter datang menemui mereka.
__ADS_1