
Dara lalu tersenyum.
"Jika iya apa cinta itu berbalas? Aku cukup tahu diri, siapa aku? Bukankah katamu aku bukan level perempuan yang kau inginkan?" sindir Dara.
"Lagipula kau sudah akan menikah, pakaian pernikahanmu sudah ada di lemari, semua perlengkapan sudah ada hanya tinggal menunggu hari. Calon mempelai wanitanya juga cantik, elegan dan yang pasti satu level denganmu," ujar Dara.
"Aku ini siapa? Hanya seorang anak yatim piatu yang tidak punya apapun bahkan tempat tinggal," kata Dara dengan suara yang mulai tercekat dan serak.
"Sudah!" tanya Kris.
"Dara, sebutlah aku pria yang egois karena aku tidak ingin kau pergi dari sini dari hidupku," ujar Kris.
"Kenapa?" Dara memiringkan kepalanya menatap Kris.
"Aku tidak tahu, membayangkannya saja sudah terasa sakit untukku," ujar Kris. Dara tersenyum dalam tangisnya.
"Maukah kau memelukku," ucap Dara.
Kris merentangkan tangan dan memeluk tubuh Dara. Dara hanya bisa menangis dalam pelukan pria itu.
"Tetaplah tinggal di sini walau apapun yang terjadi," gumam Kris mengusap punggung Dara.
"Kau egois Kris, kau ingin aku menjadi simpananmu, aku tidak bisa melakukan itu. Seberapapun besar aku mencintaimu, aku tidak akan mau melakukannya," batin Dara.
"*Aku tahu kau tidak akan melepaskan masa depanmu begitu saja, sehingga kau tidak akan mengorbankan semuanya demi aku. Aku pun sama tidak ingin melihatmu hancur dan aku ingin melihatmu bahagia serta sukses."
"Kau sudah terlalu baik menolongku dan kau juga memberi cinta yang tidak pernah kudapatkan selama ini. Kau memang menyukaiku tetapi ketika aku tidak ada kau bisa menemukan wanita lain sebagai pengganti diriku," pikir Dara*.
Kris lalu merenggangkan pelukannya dan melihat wajah Dara yang basah. Dia lalu menciuminya.
"Jangan menangis lagi," ucapnya. Dara terdiam membiarkan Kris melakukannya hanya air mata nya saja yang menetes, ini terlalu sakit dan menyesakkan untuknya. Biarlah malam ini mereka bersama. Dara ingin mengukirnya dalam ingatannya. Dia memang tidak akan memiliki Kris tetapi dia ingin mempunyai sesuatu yang bisa menjadi kenangannya bersama Kris. Ini malam terakhir mereka bersama karena setelah ini dia akan pergi jauh dari semua dan memulai lembaran baru lagi.
"Kris temanilah aku malam ini," ucap Dara.
__ADS_1
"Dara aku tidak bisa menyakitimu dengan melakukan itu dan ... ," perkataan Kris terhenti ketika bibir Dara menyentuh bibirnya. Terasa asin, lembut dan hangat. Bibir manis itu bergerak di atas bibir Kris dengan bergetar.
"Dara aku takut kau akan menyesalinya," ucap Kris di bibir Dara. Dara menelan Salivanya dalam-dalam.
"Kalau begitu jadikan ini malam yang indah untuk kita hingga aku tidak akan pernah menyesalinya," ucap Dara sembari meremas pelan rambut Kris pelan di belakang tengkuknya membuat pria itu mengerang.
Semua lalu terjadi begitu saja. Pria itu bergerak menelusuri leher putihnya, menyesap dan memberi tanda cinta tangannya mulai bergerak membuka pakaian Dara.
Hingga bagian atas tubuh Dara terlihat. Kris terkesima dengan kemolekan tubuhnya. Seperti yang dibayangkannya selama ini. Besar di bagian yang tepat.
"Kau bukan hanya cantik secara wajah tetapi tubuhmu sangat indah," bisik Kris. "Kau wanita paling sempurna yang pernah kutemui."
Berbagai pujian Kris sematkan ketika dia menyentuh semua bagian tubuh Dara. Hingga penyatuan mereka lakukan. Kris melakukannya dengan hati-hati dan pelan.
"Kris aku mencintaimu," ujar Dara di tengah rasa nyeri dan sakitnya. Dia memegang erat seprai menahan semua gejolak rasa yang ada.
"Aku tahu," ucap Kris membuat Dara sadar bahwa cintanya tidak terbalaskan. Kris hanya membutuhkannya sebagai teman tidak lebih. Namun, seorang teman tidak akan saling merasakan satu sama lain.
Dia menyerahkan diri pada pria yang dicintainya walau itu bukan suaminya. Dia tahu dia telah melakukan salah dan dosa tetapi dia ingin memilikinya walau hanya satu malam. Biar nanti dia yang akan menanggungnya.
Kris ingin menarik dirinya sebelum cairan dari tubuhnya masuk ke dalam rahim Dara tetapi tangan wanita itu mencegahnya.
"Dara," ucap Kris sembari menggelengkan kepalanya.
"Biarkan saja, aku akan meminum pil anti hamil besok," kata Dara berbohong.
Kris lalu meneruskan kegiatannya dan berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja besok. Dara tetap akan menjadi miliknya. Dia akan menjaganya dengan baik. Tetapi untuk menikahinya itu tidaklah mungkin. Dia akan menjadikan Dara wanita simpanannya. Selama tidak ada yang tahu semua akan baik-baik saja.
Tubuh Kris mulai menegang dan bergetar. Sesuatu yang hangat menyembur dalam diri Dara menjadi bukti penyatuan mereka. Dara memejamkan matanya berharap Kris kecil akan berada dalam dirinya dan akan menemaninya nanti.
Dia mungkin tidak akan mempunyai Kris tetapi dia ingin memilki Kris lain sebagai penggantinya.
Setelah penyatuan itu tubuh berat pria itu jatuh di atas tubuh Dara kepalanya berada di bahu dalam ceruk leher Dara mencium aroma yang keluar dari rambutnya. Dia ingin menghirup aroma itu dalam-dalam. Aroma yang selalu menggodanya selama ini tetapi tidak berani dia mendekati sebelum wanitanya mengijinkan.
__ADS_1
"Dara berjanjilah kau akan selalu menjadi milikku," ucap Kris.
"Saat ini aku menjadi milikmu," kata Dara.
Kris lalu bangkit. "Dara," panggil Kris keberatan.
"Kita tidak tahu masa depan Kris, tetapi selama aku berada di sisimu aku akan menjadi milikmu," kata Dara.
Kris menjatuhkan tubuhnya di samping Dara dan memeluk pinggang wanita itu.
"Kau akan tetap berada di sampingku," ucapnya sembari mencium pundak Dara. Dara hanya terdiam enggan untuk menjawabnya.
"Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku," kata Kris lagi.
"Jika aku tidak ada apakah kau akan merindukan aku?" tanya Dara.
"Aku tidak bisa membayangkannya. Aku terlalu takut memikirkannya," nafas Kris terdengar berat menandakan bahwa apa yang dikatakannya dari dalam hatinya.
"Saat ini aku ada di sini, jadi jangan berpikir macam-macam."
"Aku tahu kau tidak akan meninggalkanku," kata Kris. Dara menarik sudut bibirnya, tersenyum hambar.
"Dara bolehkah aku melakukannya lagi?" pinta Kris. Dara lalu menengadah dan menganggukkan kepalanya. Sebuah senyum kepuasan terlihat dari wajah Kris.
"Aku menyayangimu Dara," ucapnya meletakkan kepala Dara di dadanya dan mengusap lembut.
Setidaknya kata sayang itu menggambarkan arti lain di hati Dara. Itu lebih baik dari pada tidak ada rasa sama sekali. Dara tersenyum miris.
Mereka pun melakukannya lagi hingga Kris menyerah karena lelah. Dara merasakan sakit tetapi dia tahan, rasa puas di wajah Kris lebih berharga untuknya.
Pria itu terpejam di sebelahnya. Dara mengusap lembut rambut Kris.
"Dara apakah kau tidak lelah?" ucap Kris membuka matanya.
__ADS_1
"Aku ingin memandangi wajahmu terlebih dahulu," kata Dara tersenyum. Tetapi mata sayunya menggambarkan sebuah kesedihan yang mendalam.