Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Penantian


__ADS_3

Dara tidak tahu harus melakukan apa. Dia lalu duduk seperti yang lain, mengamati ruangan itu, dan menemukan ada sebuah kamera CCTV yang terpasang, dia tidak boleh gegabah dalam melakukan sesuatu. Mereka itu mafia berpengalaman tidak segan-segan mereka akan membunuhnya jika dia memberontak.


Setelah lama menunggu selama belasan jam hati Dara mulai merasa khawatir dan pasrah. Dia pikir bisa saja Kris tidak akan datang untuk menolongnya. Adrenalin menderu keras dalam darah membuatnya bangkit dan berpikir keras. Apa yang sebaiknya dia lakukan untuk bisa bebas dari tempat ini. Dia tidak bisa mengandalkan Kris karena pria itu juga tidak mengenalnya dengan baik. Tidak mungkin pula pria itu mau merelakan nyawanya demi wanita berlevel rendah sepertinya. Walau itu atas dasar kemanusiaan.


Nasinya di piring belum dia sentuh sama sekali. Nafsu telah makannya hilang. Kembali dia berpikir jika dia tidak makan maka yang ada dirinya sakit atau tubuhnya lemah tidak kuat melawan orang-orang itu. Perlu diperlukan otak yang pintar untuk bisa lolos dari sini.


Dara lalu memakan makanannya hingga habis. Setelah itu dia memikirkan rencananya sendiri.


"Apakah ada yang tahu kita ini tinggal di mana? Di apartemen, rumah atau di tengah hutan?" tanya Dara.


Mereka lalu saling menatap. Ratna lalu berdiri.


"Ini adalah sebuah apartemen. Aku kira ini adalah sebuah hotel tadinya tetapi setelah masuk aku tahu jika aku berada di hotel karena penampakan ruangannya seperti rumah."


"Berarti kita di apartemen dan masih di Jakarta?" ujar Dara.


"Ya, ini di sebuah kawasan yang penuh gedung bertingkat." Perkataan Ratna menyakinkan Dara jika mereka memang berada di kawasan ibukota.


Jika dia berada di hotel seharusnya Kris sudah menemukannya beberapa jam yang lalu tetapi mengapa dia tidak datang. Sepertinya benar apa yang dia pikirkan jika pria itu tidak tertarik untuk menolongnya. Pikiran bodoh yang berharap pria itu kemari seperti seorang pangeran berkuda putih yang datang untuk menolong seorang putri dari cengkraman naga yang jahat. Dan dia adalah putrinya. Kenyataannya dia adalah wanita yatim piatu yang tidak tahu asal usulnya.


Rasa sakit menikam perasaan Dara. Ada apa ini, seharusnya dia baik-baik saja ketika seseorang tidak memperhatikannya. Namun perasaan kecewa dan patah hati dialaminya. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam dia ingin Kris datang saat ini untuk memeluknya dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Dara menarik nafas dalam. Matanya mulai memanas dan dadanya mulai terasa sesak.


"Kris tolonglah aku, kumohon! Jika kau menolongku aku akan melakukan semua yang kau perintahkan. Maafkan aku karena tidak mengindai perkataan mu," batin Dara merintih.


Kamar kembali mulai dibuka dua orang pria berjalan mendekat ke arahnya dan menarik lengannya kuat.


"Kalian mau apa?" kata Dara menepis tangan yang kuat itu. Tetapi tepisan itu tidak diindahkan. Wanita lain nampak ketakutan mereka berkumpul jadi satu dan menangis.


Dara meronta tetapi mereka tetap menyeret lengannya paksa keluar dari ruangan ini.


Yang Ratna katakan memang benar. Mereka seperti tinggal di apartemen. Beberapa pria terlihat sedang bermain kartu di depan mereka ada beberapa botol minuman keras terletak di atas meja.

__ADS_1


Dara melihat ada dua wanita berpakaian minim duduk di dekat pria yang mereka panggil bos. Mereka terlihat seperti setengah sadar atau sedang mabuk.


Dara lalu berdiri di depan Bos mafia itu.


"Kau akan didandani seperti mereka jadi bersikap baiklah dan jangan melawan jika ingin selamat. Jika tidak aku bisa membuatmu tidak sadar seperti mereka dan akan melakukan hal gila yang tidak kau inginkan."


"Aku tidak mau!"


"Kau tidak punya pilihan karena disini aku adalah Tuhannya. Aku yang akan menentukan nasib dan takdirmu ke depannya. Berdoalah agar kau mendapatkan pria kaya yang akan membayarmu dengan harga mahal dan akan memperlakukanmu dengan baik," lanjut pria itu.


"Kau bajingan tengik!" umpat Dara.


"Dan kau wanita cantik yang akan menghasilkan banyak uang," kata pria itu tertawa lepas.


Setelah itu tubuh Dara diseret kesebuah ruangan. Di sana ada seorang pria yang berdiri dengan deretan gaun minim. Lebih tepatnya baju berendra yang transparan. Dara membuka mulutnya lebar. Apakah dia akan memakai pakaian itu?


"Ya Tuhan, kau membawa bidadari masuk kemari. Tuan pasti akan untung banyak kali ini?" kata pria gemulai itu.


"Tanpa dia poles wajahnya pun dia sudah terlihat cantik hanya sedikit dekil and the kumel, perlu sesuatu yang glowing dan mengkilap agar kulitnya terlihat bersinar."


"Apa kau bilang aku kumel?'' kata Dara tidak terima.


"Ya, lihatlah kulit kusammu ini. Kau pasti tidak pernah melakukan perawatan. Tetapi memang sih yang dibawa oleh Tuan adalah wanita miskin dari jalanan. Jika kau menurut maka kau akan hidup layak dan bergelimang harta. Para pria yang akan memberimu itu jika terpuaskan maka mereka akan memberi semua yang kau inginkan," terang pria gemulai itu.


"Kau urus dia, kita akan menunggu diluar!" kata dua pengawal itu melepaskan cekalab mereka pada Dara. Dara lalu memegang lengannya yang terasa sakit.


"Pakaian mana yang ingi kau gunakan nanti?" tanya pria gemulai itu.


"Aku tidak akan menggunakan pakaian itu. Mengenakan itu sama saja seperti tidak mengenakan pakaian sama sekali," tolak Dara.


"Aku sarankan kau tidak menolaknya jika tidak mereka akan memaksamu dengan kekerasan. Kau lihat wanita di luar sana? Mereka disuntik mofin agar tidak sadar dan menuruti kemauan mereka, kau mau seperti itu? Jika iya maka aku sudah menyiapkan suntikan itu untukmu," ancam pria gemulai itu dengan nada lirih namun penuh penekanan. Matanya yang tadinya genit berubah menajam seketika.

__ADS_1


Otak kecil Dara mulai berpikir. Mungkin jika dia menurut dan masih dalam keadaan sadar maka dia akan menemukan jalan keluar.


"Baiklah aku akan menurutimu, tetapi bisakah kau keluar dari sini terlebih dahulu. Aku tidak mau kau melihatku telanjang," pinta Dara.


Pria gemulai tadi menatap Dara penuh curiga tetapi sedetik kemudian tatapan itu berubah melembut kembali.


"Baiklah aku akan beri waktu lima menit bagimu untuk mengganti pakaianmu setelah itu aku akan masuk lagi ke dalam untuk meriasmu," kata pria itu.


"Apakah tidak sebaiknya dirias dulu baru berganti pakaian?" tawar Dara berusaha mengulur waktu. Pria itu nampak berpikir.


"Baiklah itu tidak masalah asal kau menurut dan bersikap baik." Dara lalu mulai dirias dia mulai bertanya apa yang akan dia lakukan setelah ini.


"Kau wanita pertama yang bersikap tegar dan tidak menangis," cetus pria itu.


"Menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Malah memperburuk keadaan."


"Kau benar aku salut padamu." Pria itu mulai mengoleskan lipstik ke bibir Dara.


"Bentuk bibir yang sempurna," gumam pria itu lagi.


"Kau belum menjawab pertanyaanku apa yang akan mereka lakukan padaku?" tanya Dara lagi.


"Kau akan ditawarkan lewat online, kau hanya perlu berekspos secantik mungkin untuk menarik pembeli. Pembeli yang melakukan penawaran dengan harga tertinggi akan memperoleh dirimu," kata pria itu.


"Aku mengerti, aku hanya perlu menjadi kucing peliharaan yang penurut?"


"Ya, seperti itu." Pria itu lalu mengangkat dagu Dara. "Ck ... ck... ck ..., kau sangat cantik sekali," ucap pria itu.


"Sekarang ganti pakaianmu itu dengan cepat karena setelah ini kau akan dijual bersama dua wanita di depan itu," perintah pria gemulai itu.


Dara menelan Salivanya yang tercekat.

__ADS_1


__ADS_2