Mencintai Calon Kakak Ipar

Mencintai Calon Kakak Ipar
Buang Ke Laut


__ADS_3

"Kau meragukan aku jika masih mempertanyakan hal itu," kata Dara.


"Bagaimana tidak, kau itu dulu sangat mencintai Kris," ujar Alehandro.


"Kau menyebalkan selalu mengaitkan hal itu dengan masa lalu yang sudah ku kubur dalam tanah dan sudah ku buang ke laut Bali," kilah Dara.


"Lalu yang benar itu kau kukubur atau kau buang ke laut?" tanya Alehandro geli.


Dara mengerang keras sembari menggerakkan kedua tangannya. "Berbicara denganmu membuatku emosi," ucapnya masih enggan untuk mengatakan perasaannya karena malu.


"Ale sudah siang, bukankah seharusnya kau pergi ke kantor hari ini?" Dara berusaha mengalihkan pembicaraan ini.


"Kau benar sudah siang. Namun aku belum akan pergi sebelum kau jawab pertanyaanku karena aku yakin di sana pun aku akan terus memikirkan ini. Aku merasa ragu akan cintamu itu," ucap Alehandro dengan gaya dramatisnya.


Dara memutar bola matanya malas.


"Kau itu tampan, kaya, baik dan perkasa lalu bagaimana aku bisa menyukai pria lain yang berada di bawahmu karena kau tidak ada tandingannya," kata Dara jujur tanpa ekspresi.


Mata Alehandro lalu bersinar terang. Dia mencium pucuk hidung Dara. "Kau benar aku tampan, kaya dan perkasa, dan aku akan terus membuktikan keperkasaanku setiap malam," ujar Alehandro.


"Boleh asal jangan membuktikan itu pada wanita lain selain aku," kata Dara menaikkan kedua alisnya ke atas


"Menikahi lebih dari satu wanita itu sunah," ledek Alehandro.


"Kau mau melakukannya? Boleh tetapi sunat dulu satu kali lagi, jika kau menikah lagi sunat lagi sampai habis milikmu, baru aku akan merelakannya," kata Dara santai bangkit berdiri.


Alehandro lalu menarik tangan Dara sehingga wanita itu jatuh dalam pangkuannya.


"Aku suka jika melihat kecemburuan wanita, maka jangan bersikap cuek jika ada wanita lain mendekat karena bagaimana pun menikahiku bukan hal mudah, akan banyak wanita yang datang menggoda," terang Alehandro teringat akan Maria yang selalu bersikap cemburu pada wanita mana saja yang mendekati atau menyentuhnya.


"Aku bukan wanita seperti itu yang akan bersikap marah-marah pada pasangannya untuk urusan yang tidak jelas. Tetapi jika aku tahu kau menyukai wanita lain, aku berjanji kau tidak akan pernah bisa menemukanku lagi atau anak-anakmu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Kubiarkan kau bahagia dengan kehidupan barumu dan anak-anak akan bahagia dengan diriku." Alehandro terlihat terkejut dengan jawaban Dara.


"Untuk apa aku berjuang demi orang yang memang sudah tidak menghargai dan mencintaiku lagi!" lanjut Dara. "Maka dari itu jika memang sudah tidak suka dan cinta katakan saja terus terang karena pada saat itu juga aku akan mundur dari duniamu!"


Alehandro menyeka keringat dari dahinya.

__ADS_1


"Jawabanmu membuatku takut," kata Alehandro.


''Maka dari itu jangan main-main denganku karena aku juga tidak main-main dengan perasaanku. Jika kau menghargaiku, aku akan memberikan hidupku. Kau memberikanku cinta maka akan kubalas dengan memberikan semua hatiku untukmu. Lalu andai kau mengkhianatiku maka aku akan pergi jauh karena kau tidak lagi membutuhkanku, bagimu aku sudah tidak berarti!"


Tubuh Alehandro merinding mendengarnya. Dia tahu Dara wanita tegar dan tidak akan bermain-main dengan ucapannya.


"Aku akan selalu mencintaimu," kata Alehandro untuk pertama kalinya mengatakan kata cinta membuat mata Dara merebak.


"Katakan lagi, aku ingin mendengarnya," pinta Dara.


"Aku akan selalu mencintaimu," ucap pria itu di telinga Dara sensual. Dara memejamkan matanya dan meresapi kata pria itu. Itu adalah kalimat terindah yang dia tunggu selama hidupnya.


Dara lalu membuka matanya dan menatap ke dalam mata cokelat pria itu. Menarik nafas dalam.


"Biar aku berkata padamu dengan diam kala kata-kata tak mampu mengungkap yang aku rasakan. Sebab cintaku melampaui kata-kata."


***


"Hai Dara," sapa Natalia pada Dara. Dara tersenyum menyambut kedatangan wanita itu. Mata Natalia tidak lagi melihatnya dengan penuh kebencian. Kini terlihat bersahabat. Namun tidak dengan Putra Tanjung dia terlihat diam saja enggan untuk menyapa Dara. Dara hanya memberi senyum pada pria tua itu.


"Ya, apakah anak itu sudah mengatakannya padamu," tanya Natalia.


"Ya, dia sudah menceritakan semuanya padaku. Aku juga sudah menyiapkan keperluan Kaisar di tasnya," kata Dara. "Biar aku panggilkan dia. Dia sedang menunggu kedatangan kalian dengan tidak sabar dari tadi."


"Kau sangat baik, pantas saja Alehandro memilihmu menjadi istrinya menggantikan posisi Maria," sindir Natalia.


Dara tersenyum kecut lalu pergi ke atas untuk mencari Kaisar. Tidak lama kemudian Dara datang bersama Kaisar dan Rose di sampingnya.


"Apakah dia anakmu yang dulu itu?" tanya Natalia.


"Iya," jawab Dara memeluk Rose dengan satu tangannya.


"Cantik seperti dirimu," ujar Natalia. "Kalau begitu aku pergi dulu. Lain kali tidak usah menyiapkan apapun keperluan Kaisar jika aka berpergian denganku karena aku telah menyiapkan semua yang terbaik untuk cucuku," ucap Natalia.


"Aku tahu itu, hanya saja aku melakukan apa yang seharusnya seorang ibu lakukan," jawab Dara.

__ADS_1


Mereka lalu pergi keluar dan masuk ke dalam mobil.


Dara berdiri di dekat mobil sebelum mobil tertutup rapat.


"Kaisar sebaiknya anak kecil duduk di tengah saja, dipinggir akan berbahaya untukmu. Kau bisa terantuk pintu jika kau mengantuk, itu sebagian contohnya."


Kaisar menganggukkan kepalanya. "Hati-hati di jalan pulanglah dengan selamat, doa ibu akan selalu menyertaimu," ucap Dara tulus.


"Ingat selalu di dekat Oma jangan jauh-jauh."


Natalia bisa merasakan ketulusan dan kekhawatiran Dara. Pikirannya jadi berubah, tadinya dia mengira jika wanita itu hanya mencintai Alehandro namun terlihat sekali jika wanita itu juga menyayangi cucunya.


"Ibu aku pergi dulu," kata Kaisar memeluk tubuh Dara. "Pergi selamat dan pulang juga selamat, Sayang," doa Dara sebelum pintu di tutup.


"Kaisar jangan lama-lama perginya. Aku akan merindukanmu," kata Rose.


"Aku juga merindukanmu nantinya." Mobil lalu mulai berjalan pergi meninggalkan kediaman Alehandro. Entah mengapa, Dara merasa tidak rela membiarkan Kaisar pergi dengan neneknya tetapi dia bisa apa mencegahnya karena itu juga keluarga Kaisar.


Beberapa jam kemudian. Seorang pelayan dengan tergesa-gesa pergi ke kamar atas mencari Dara.


"Bu, Bu Dara... Bu Dara ... ," panggil pelayan itu berkali-kali seperti panik membuat semua orang keluar untuk melihatnya.


Dara yang sedang beristirahat di kamarnya lalu terbangun dan mulai membuka matanya ketika mendengar ketukan dari pintu.


"Bu Dara," panggil salah satu pelayan.


"Masuk saja!" seru Dara sembari membetulkan bajunya yang sedikit kusut.


Wajah pelayan itu terlihat pucat nafasnya pun terengah-engah. Membuat Dara khawatir.


"Ada apa?"


"Anu Bu, Anu ... tadi ada Polisi yang menelfon memberitahukan jika mobil yang ditumpangi oleh Kaisar mengalami kecelakaan di jalan menuju puncak."


"Kaisar, bagaimana keadaannya?" tanya Dara panik.

__ADS_1


__ADS_2